Kamis, 19 September 2019 | Jakarta, Indonesia

Benarkah 5G Berisiko bagi Kesehatan?

Edy Purnomo

Selasa, 16 Juli 2019 - 08:34 WIB

Ilustrasi jaringan 5G. Sumber: Istimewa
Ilustrasi jaringan 5G. Sumber: Istimewa
A A A

Majalahreviewweekly.com - Beberapa kota di Inggris telah menikmati jaringan seluler 5G. Kini, beberapa pertanyaan mulai muncul. Salah satunya adalah mungkinkah teknologi baru itu bisa menimbulkan risiko kesehatan.

Seperti dilansir bbc.com, Senin (14/7/2019), jaringan 5G mengandalkan sinyal yang dibawa oleh gelombang radio sebagai bagian dari spektrum elektromagnetik. Selanjutnya, gelombang itu ditransmisikan melalui antena menuju telepon genggam.

Saat ini, masyarakat dunia dikelilingi oleh radiasi elektromagnetik sepanjang waktu. Radiasi itu bersumber dari sinyal televisi, radio, seluruh jajaran teknologi, dan sumber alami seperti sinar matahari.

Jaringan 5G menggunakan gelombang frekuensi yang lebih tinggi daripada jaringan seluler sebelumnya. Hal ini memungkinkan lebih banyak perangkat memiliki akses ke internet pada saat bersamaan secara lebih cepat.

Gelombang ini menempuh jarak lebih pendek melalui ruang kota. Artinya, jaringan 5G membutuhkan lebih banyak tiang pemancar dibandingkan teknologi sebelumnya.

Apa masalahnya? Radiasi elektromagnetik dari telepon selular memunculkan kekhawatiran terhadap peningkatan risiko kesehatan, termasuk berkembangnya jenis kanker tertentu.

Pada 2014, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa tidak ada efek kesehatan merugikan yang disebabkan oleh penggunaan ponsel. Namun, WHO bersama dengan Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) telah mengklasifikasikan semua radiasi frekuensi radio (termasuk sinyal seluler) memungkinkan kemunculan karsinogenik.

Meski begitu, bukti itu kurang meyakinkan bahwa paparan radiasi dapat menyebabkan kanker pada manusia. Sebab, memakan sayuran dan penggunaan bedak juga memiliki tingkat risiko yang sama. Bahkan, risiko lebih tinggi bisa bersumber dari minuman beralkohol dan daging olahan.

Pada 2018, Departemen Kesehatan AS melaporkan, tikus jantan yang terpapar radiasi frekuensi radio dosis tinggi mengembangkan sejenis tumor kanker di jantung. Dalam penelitian itu, seluruh tubuh tikus terpapar radiasi dari ponsel selama sembilan jam sehari selama dua tahun. Bahkan, paparan radiasi itu dimulai sebelum tikus itu dilahirkan. Tidak ditemukan hubungan kanker untuk tikus betina atau tikus yang diteliti. Sebaliknya, tikus yang terpapar radiasi hidup lebih lama daripada kelompok tikus yang dikontrol.

Seorang ilmuwan senior menyebutkan, paparan yang digunakan dalam studi tidak dapat dibandingkan secara langsung dengan paparan yang dialami manusia ketika menggunakan ponsel.

Beberapa penelitian memang menunjukkan kemungkinan  peningkatan risiko kanker bagi pengguna berat ponsel. Namun, menurut Dr Frank De Vocht, bukti hubungan sebab akibat tidak cukup meyakinkan. Di sisi lain, ada sekelompok ilmuwan dan dokter yang menyerukan agar Uni Eropa menghentikan peluncuran 5G.

Tidak terionisasi

Pita gelombang radio - yang digunakan untuk jaringan ponsel - adalah non-ionisasi. "Artinya, gelombang itu tidak memiliki energi yang cukup untuk memecah DNA dan menyebabkan kerusakan sel," kata David Robert Grimes, fisikawan dan peneliti kanker.

Dia mengakui semakin tinggi spektrum elektromagnetik dapat memunculkan risiko kesehatan. Spektrum itu jauh melebihi yang dihasilkan ponsel. Sinar ultra violet matahari termasuk dalam kategori berbahaya ini, dan dapat menyebabkan kanker kulit.

Paparan tingkat radiasi energi yang lebih tinggi juga dihasilkan  sinar-X medis dan sinar gamma. Keduanya dapat menyebabkan efek merusak dalam tubuh manusia.

"Orang-orang sangat khawatir tentang apakah ponsel dapat meningkatkan risiko kanker? Penting untuk dicatat bahwa energi gelombang radio jauh lebih sedikit daripada cahaya yang kita rasakan setiap hari," kata Dr Grimes.

Dia menjelaskan, tidak ada bukti yang dapat dipercaya bahwa ponsel atau jaringan nirkabel telah menyebabkan masalah kesehatan. Teknologi 5G membutuhkan banyak BTS baru. Tiang-tiang itu yang mengirim dan menerima sinyal ponsel. Karena banyak pemancar, masing-masing pemancar justru mengeluarkan daya lebih rendah daripada teknologi 4G sebelumnya. Artinya, tingkat paparan radiasi dari antena 5G akan lebih rendah.

Pemerintah Inggris telah mengatur pendirian BTS. Menurut Pemerintah Inggris, paparan gelombang radio kemungkinan meningkat ketika BTS 5G ditambahkan ke jaringan yang ada. Namun, secara keseluruhan, paparan diharapkan tetap rendah.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…