Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Ketika Pasar Menunggu RDG BI

Bambang Aji Setiady

Selasa, 16 Juli 2019 - 18:10 WIB

Ilustrasi Saham. Sumber: AGolf Design
Ilustrasi Saham. Sumber: AGolf Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Akhirnya yang diramalkan sejumlah analis pasar modal menjadi kenyataan juga. Setelah menguat lumayan besar, hari ini (Selasa, 16/7) indeks harga saham gabungan akhirnya kembali melemah. Tak banyak, memang, hanya turun 16,35 poin (0,25%) ke level 6.401,88. Rilis data penjualan ritel, yang akan terbit Selasa malan ini (WIB), menjadi pemicu bagi investor untuk melakukan aksi ambil untung (profit taking).

Jatuhnya IHSG juga tak lepas dari harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sudah naik terlalu tinggi. Sehingga butuh waktu untuk menarik nafas. Karena itu, penurunan indeks hari ini masih dinilai wajar. Apalagi tidak ada yang berubah dengan performa emiten di bursa. Kinerja mereka masih relatif baik. Kondisi  makro ekonomi Indonesia juga dinilai masih bagus.

Tak hanya di pasar modal, aksi profit taking juga terjadi di pasar uang. Setelah menguat selama hampir sepekan, hari ini nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,11% ke level Rp 13.935 per dolar. Harga minyak, yang hari ini naik 5% menjadi US$ 60 per lebih barel, menjadi salah satu faktor penekan rupiah. Sementara dari dalam negeri nilai tukar rupiah terpengaruh sentimen negatif pengumuman defisit anggaran belanja (APBN).

Rupiah juga, menurut Fikri C. Permana, Ekonom Pefinfo, terpengaruh oleh keputusan IMF yang memangkas pertumbuhan ekonomi Singapura  dari 2,3% menjadi 2% untuk tahun ini.  Sinyal ini, oleh sebagian pasar dianggap sebuah sentimen negatif. “Pasar khawatir, pelemahan ekonomi Singapura akan merembet ke negara-negara ASEAN, termasuk kita,” ujar Fikri.

Rilis data penjualan ritel AS bulan Juni, yang bakal ke luar Selasa malam ini, tampaknya bakal menjadi isu penting bagi arah perdagangan rupiah Rabu besok. Soalnya, jika penjualan ritel AS hanya tumbuh 0,5% - 1%, seperti yang diperkirakan banyak ekonom, maka ini akan memberi alasan yang cukup kuat bagi The Fed untuk memangkas suku bunga acuannya.

Rupiah bakal semakin perkasa bila BI ternyata memberi sinyal belum akan memangkas 7 – day reserve repo rate. Sebagian pelaku pasar yakin, defisit neraca perdagangan yang masih cukup besar akan menjadi alasan bagi BI untuk tetap mempertahankan bunga acuannya. Jika ini benar-benar terjadi, modal asing masih akan tetap deras masuk ke Indonesia. Inilah yang bakal membuat rupiah menguat.

Pernyataan dovish Gubernur The Fed Jerome Powell juga masih akan menekan dolar. Itu sebabnya, Ahmad Yudiawan, Analis Monex Investindo Futures, memperkirakan Rabu besok (17/7) rupiah akan kembali menguat. Surplus neraca perdagangan RI dan pertumbuhan PDB China, menurutnya, masih menjadi sentimen positif bagi rupiah. “Nilai tukar rupiah berpotensi kembali menguat setelah aksi profit taking,” ujarnya

Yudiawan memperkirakan, besok rupiah berpotensi menguat di kisaran Rp 13.870 – 13.990 per dolar.  Lain halnya dengan Fikri, yang memperkirakan rupiah akan kembali melemah di rentang Rp 13.975 – Rp 14.075. Nah, prediksi mana yang bakal menjadi kenyataan? Kita lihat nanti. Yang jelas, tadi malam imbal hasil Treasury AS untuk tenor 10 tahun jatuh di bawah 2%. Ini petanda dana asing masih akan mengalir masuk ke sini.

Berbeda dengan rupiah, IHSG justru diprediksi bakal melemah. Menurut Dennies C. Jordan, Analis Artha Sekuritas, pelaku pasar masih bersikap wait and see menunggu rapat Dewan Gubernur BI pada 17 – 18 Juli. Sebagian pelaku yakin,  BI akan memangkas suku bunganya, mengikuti langkah yang akan diambil The Fed. “Ada potensi pelemahan dalam jangka pendek, sehingga besok diperkirakan indek masih melemah,” ujar Dennies, yang memprediksi indeks akan melemah terbatas di level 6.385 – 6.424.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…