Sabtu, 16 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Setelah Suku Bunga BI Turun

Bambang Aji Setiady

Kamis, 18 Juli 2019 - 18:01 WIB

IDX BEI
IDX BEI
A A A

Majalahreviewweekly.com - Keputusan BI untuk memangkas suku bunga 7 - day reserve repo rate (7 - DRRR) sebesar 25 basis poin ke level 5,75% berpengaruh positif terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Sebagian pelaku pasar menganggap, kebijakan otoritas moneter ini akan menggairahkan sektor riil.

Keyakinan itulah yang membuat nilai tukar rupiah di pasar spot pada hari ini (Kamis, 18/7) menguat 23 poin (0,16%) ke level Rp13.960 per dolar. Tipis, memang. Ini karena kebijakan BI tersebut sudah diperkirakan pelaku pasar jauh-jauh hari. “Efek pemangkasan bunga acuan BI tak cukup dominan berpengaruh terhadap rupiah,” ujar Ariston Tjendra, Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures.

Pelaku pasar, menurut Ariston, justru masih menanti-menanti hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan berlangsung 30 - 31 Juli depan. Di saat itulah, bank sentral AS akan menentukan sikapnya terhadap tingkat suku bunga acuan (Fed Fund Rate). “Makanya, saat ini pelaku pasar umumnya masih bersikap wait and see,” ujarnya.

Banyak dugaan yang telah dilontarkan para analis dan ekonom. Ada yang memprediksi, The Fed bakal menurunkan tingkat bunganya sebesar 25 basis poin menjadi 1,75% - 2,0%. Banyak alasannya. Tapi Jerome Powel, Gubernur The Fed, pernah bilang bahwa perang dagang AS - China dan kelesuan ekonomi dunia telah menekan ekonomi AS.  

Sementara itu, sebagian pelaku pasar lainnya yakin tahun ini Powell akan memangkas tingkat suku bunga sebanyak dua kali masing-masing sebesar 25 basis poin. Apalagi laporan IMF menyebutkan bahwa dolar AS telah mengalami overvalue antara 6% hingga 12%. Nah, kalau benar pertemuan FOMC memutuskan memangkas suku bunganya dua kali, dana asing yang masuk ke Indoesia akan makin besar.

Tapi, nanti dulu, itu bukan berarti Jum’at (19/7) besok nilai tukar rupiah akan langsung melesat tajam. Itu belum akan terjadi dalam waktu dekat. Apalagi, sebelum The Fed memutuskan memangkas suku bunga acuannya, masih banyak hal yang akan menghambat pergerakan rupiah. Salah satunya harga minyak yang masih berpotensi naik.

Berdasarkan perhitungan tersebut, Ariston memperkirakan besok nilai tukar rupiah masih berpeluang menguat di kisaran Rp13.900 - Rp14.000. Sementara Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, memprediksi rupiah akan berada di rentang RP13.895 - Rp13.950 per dolar. “Kemungkinan rupiah bisa menguat tajam di bawah Rp13.900. Sebab, dolar juga tengah tertekan di hadapan sejumlah mata uang Asia,” ujar Ibrahim.

Penguatan rupiah ini diperkirakan ikut berperan dalam penguatan IHSG esok hari. Dan, karena penguatan indeks lebih karena faktor penurunan suku bunga, maka saham sektor perbankan dan properti menjadi layak untuk dipertimbangkan oleh investor. “Sampai saat ini, baru dua sektor itu yang paling terdampak penurunan suku bunga,” ujar Frederik Rasali, Vice President Research Artha Sekuritas.

Frederik menunjuk saham Bumi Serpong Damai (BSDE), Summarecon Agung (SMRA), dan Ciputra (CTRA) yang memiliki potensi untuk menguat. Sedangkan saham-saham perbankan untuk dilirik antara lain saham Bank Mandiri (BMRI) dan BNI (BBNI). “Penurunan suku bunga membuat NIM perbankan menjadi lebih positif,” ujar Frederik.

Kalau melihat masih semangatnya investor asing masuk ke Bursa Efek Indonesia (BEI), mestinya, potensi indeks untuk menguat cukup besar. Tapi, Rabu kemarin (17/7), tiga indeks utama di Wall Street nyungsep gara-gara Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancamannya terhadap China. Jadi, meski Jum’at besok ada peluang indeks bakal menguat, investor tetap harus ekstra hati-hati.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…