Jumat, 22 November 2019 | Jakarta, Indonesia

Ditopang Isu Penurunan Bunga The Fed

Bambang Aji Setiady

Jumat, 19 Juli 2019 - 19:42 WIB

Ilustrasi saham naik. Sumber: AGolf Design
Ilustrasi saham naik. Sumber: AGolf Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Sebuah kejutan terjadi di Bursa Efek Indonesia, hari ini (Jum’at, 19/7). Tanpa disangka, indeks harga saham gabungan (IHSG) mampu menguat cukup tajam. Padahal, hari ini, banyak investor asing yang melepas saham miliknya sehingga terjadi net sell sebesar p 849,84 miliar. Selain itu, di saat week end seperti sekarang, biasanya para investor lebih nyaman pegang uang ketimbang saham.

Tapi investor lokal sepertinya tak terpengaruh oleh aksi jual yang dilakukan investor asing. Sehingga, pada penutunan perdagangan hari ini indeks berhasil menguat 53,24 poin (0,83%) ke level 6.456,54. Sejumlah analis mengatakan, hari ini banyak investor yang mengalihkan duitnya ke bursa setelah Kamis kemarin BI memangkas bunga 7 - day reserve repo rate sebesar 0,25% menjadi 5,75%.

Selain penurunan suku bunga acuan BI, faktor lain yang ikut mengangkat indeks hari ini adalah positifnya kinerja bursa efek di belahan dunia lain. Indeks Topix dan Nikkei 225, misalnya, masing-masing menguat 1,94% dan 2%. Penguatan yang cukup tinggi juga terjadi pada indeks Shanghai, CSI 300, dan Hang Seng. Sementara di Wall Street, indeks Dow Jones dan Nasdaq naik tipis.

Penguatan yang terjadi di bursa dunia dipicu itu oleh pernyataan John William, Kamis kemarin.  Presiden The Fed wilayah New York itu mengatakan bahwa The Fed akan memotong suku bunganya sebesar 25 basis poin pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) akhir bulan ini. Kabarnya, pemangkasan suku bunga akan dilakukan European Central Bank ECB). Berita lainnya, Afrika Selatan, Ukraina, Rusia dan Turki akan mengikuti langkah Indonesia dan Korea.

Seperti halnya di pasar modal, pernyataan  William juga berhasil mengangkat nilai tukar rupiah hari ini. Bahkan, di awal perdagangan, rupiah sempat menguat ke level Rp 13.885 per dolar. Namun, gara-gara banyak investor asing yang melepas sahamnya di bursa, rupiah akhirnya ditutup di level Rp 13.938 atau menguat 23 poin (0,16%).

Beberapa analis memperkirakan, di Senin pekan depan (22/7), ada kemungkinan indeks dan rupiah akan kembali berotot. Isu penurunan suku bunga The Fed masih akan menjadi pemicu penguatan tersebut. Lantas, bagaimana dengan aksi net sell yang dilakukan investor asing selama tiga hari terakhir? “Mereka belum ke luar (dari Indonesia), hanya memindahkan dananya ke instrumen lain,” ujar seorang analis.

Pendapat serupa dikatakan Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka. Kendati telah dipangkas 25 basis poin, suku bunga di Indonesia masih tetap menarik. “Selisih 3,50% - 3,75% itu masih tinggi, ke mana mereka mencari yang seperti itu,” katanya. Perkara terjadi net sell di bura efek,  itu semata-mata lantaran aksi profit taking. Itu sebanya, Ibrahim memperkirakan Senin depan rupiah masih menguat di rentang Rp 13.875 - Rp 13.950 per dolar.

Yang agak aneh adalah perkiraan analis pasar uang di luar negeri. Min Dai, contohnya. Kepala Strategi Valas dan Suku di Morgan Stanley Hong Kong ini memperkirakan BI akan memangkas suku bunga acuannya sebanyak lima kali sampai akhir tahun ini. Sementara menurut Frances Ceung, Kepala Strategi Makro Asia di Westpac Banking Singapura, BI akan kembali memotong suku bunganya setelah The Fed memangkas Fed Funda Rate. “Meski perbedaan imbal hasil dengan treasury AS makin menyempit, pasar Indonesia tetap menarik,” ujar Ceung.

Percaya? Jangan. Soalnya, bila BI kembali memangkas kembali suku bunganya (apalagi sampai lima kali), ini berpotensi mendorong terjadinya capital out flow. Sesuatu yang ditakutkan oleh BI dan pemerintah. Makanya, perkiraan Dai dan Ceung tadi jangan ditelan mentah-mentah. Siapa tahu mereka adalah bagian  dari spekulan yang selama ini selalu berusaha menggoyang stabilitas rupiah.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…