Kamis, 14 Desember 2017

Menengok Belanja Militer Indonesia

MLRS YouTube

Menengok Belanja Militer Indonesia

Oleh: Lucky Benyamin - Senin 13 Pebruari 2017 | 11:39 WIB

Indonesia masuk dalam 20 negara besar yang belanja militernya naik cukup besar. 

Mungkin banyak yang tidak tahu, kalau TNI sejak sepuluh tahun belakangan terus berbenah dengan memperbaiki dan membeli alat utama sistem persenjataan (alutsista) modern.

Alutsista terbaru adalah delapan kendaraan tempur jenis RM Multi Launch Rocket System (MLRS) Kaliber 122 MM Vampire yang dimiliki TNI Angkatan Laut. Alutsista ini digunakan untuk menjaga keamanan dan sistem pertahanan Indonesia di wilayah perairan. terutama bagian terluar.

Alutsista terbaru lain yang dimiliki TNI Angkatan Laut adalah Fuel Tank Vehicle. Berbeda dengan alutsista sebelumnya yang didatangkan dalam jumlah banyak sekaligus, Fuel Tank Vehicle tersebut hanya dipesan 1 unit karena dirasa sesuai dengan kebutuhan sistem pertahanan Indonesia.

Selain kedua jenis kendaraan tersebut, masih terdapat sejumlah unit alutsista yang memiliki tingkat kecanggihan cukup tinggi, diantaranya yaitu, Recovery Vehicle, Battalion Combat Vehicle, dan Ammunition Vehicle. Ketiga jenis kendaraan tersebut didatangkan dengan jumlah yang beragam disesuaikan dengan rancangan sistem pertahanan Indonesia.

Untuk Recovery Vehicle dan Battalion Combat Vehicle masing-masing berjumlah 1 unit, sedangkan untuk Ammunition Vehicle didatangkan dengan jumlah yang lebih banyak, yaitu 2 unit.

Selain memperkaya alutsista untuk menjaga sistem keamanan di wilayah perairan Indonesia, TNI juga menambah sejumlah pesawat tempur untuk memastikan tingkat keamanan wilayah udara di Indonesia. Dalam hal tersebut TNI Angkatan Udara mendatangkan pesawat Hercules C-130.

Meskipun pesawat tempur itu termasuk kendaraan baru, namun TNI Angkatan Udara selaku pengelolanya diharapkan selalu melakukan perawatan yang maksimal agar tidak terjadi hal-hal membahayakan dalam misi yang melibatkan pesawat Hercules C-130 tersebut.

Seperti diketahui, TNI Angkatan Laut tidak hanya diperkaya dengan kehadiran pesawat Hercules tersebut, tetapi juga pesawat tempur taktis bernama Super Tunaco. Berbeda dengan pesawat sebelumnya yang dihadirkan dalam jumlah terbatas, Super Tunaco didatangkan sekaligus dalam jumlah 16 unit.

Selain TNI Angkatan Laut dan Udara, TNI Angkatan Darat juga memiliki alutsista terbaru, yaitu Tank Leopard 2. Kendaraan tempur tersebut memiliki sejumlah kelebihan, salah satunya adalah kemampuan menembak secara akurat dari jarak 4 km.

Dengan kelebihan tersebut, kendaraan tempur baru ini diharapkan mampu menunjang performa TNI Angkatan Darat dalam upaya menjaga keamanan wilayah Indonesia. Tank yang memiliki berat 62 ton tersebut didatangkan langsung dari Jerman.

Menurut laporan Stockholm International Peace Research Institute yang dirilis baru-baru ini,  sejak tahun 2006 hingga 2015 belanja militer Indonesia naik sampai 150%. Dengan peningkatan ini, Indonesia masuk dalam 20 negara besar yang belanja militernya naik cukup besar.

Untuk 2015 saja, belanja militer Indonesia mengalami kenaikan 16% ketimbang tahun 2014. Di Asia Tenggara, persentase kenaikan belanja militer Indonesia 2015 hanya kalah dari Filipina yang naik 25,5%.

Stockholm International Peace Research Institute mencatat, memanasnya suhu politik Laut China Selatan dinilai menjadi pemicu kenaikan anggaran pertahanan Tanah Air.

Sementara majalah ekonomi bergengsi, Forbes merilis, tahun 2016 ini anggaran militer Indonesia mencapai US$ 7,6 miliar atau Rp 99,6 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 sebesar US$ 6,9 miliar

Menurut Forbes, saat ini Indonesia memiliki jumlah tentara aktif  sebanyak 676.500 orang. Untuk jumlah personel aktif yang siap bertugas di garis depan pada 2015, TNI hanya memiliki 476 ribu orang dan pasukan cadangan 400 ribu personel, dengan jumlah alutsista yang cukup besar.

Indonesia memiliki tank lapis baja 400 unit, kendaraan tempur lapis baja 506 unit, artileri jarak jauh 62 unit, peluncur roket 50 unit, mortir 3.350 unit, senjata antitank 11 ribu unit, dan kendaraan angkut logistik 11.100 unit.

Kapal perang 150 unit, kapal selam 2 unit, kapal angkut personel 26 unit, kapal kelas korvet 23 unit, kapal kelas frigat 6 unit, kapal patroli 70 unit, serta pesawat tempur 118 unit (50 unit pesawat tempur sergap dan 68 pesawat tempur taktis).

Indonesia berada di tempat keempat dalam daftar negara-negara Asia dengan kekuatan militer terbesar. Posisi Indonesia di bawah China, India, dan Korea Utara. Kekuatan Indonesia yang terbesar di kawasan Asia Tenggara mengalahkan Thailand, Myanmar, dan Malaysia. Tentara China berjumlah 29 juta dengan anggaran US$ 214 miliar. India memiliki 2,7 juta tentara, sedangkan Korea Utara 1,3 juta orang.

PENGEKSPOR SENJATA

Institut Riset Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) menyebut ekspor senjata periode 2011-2015 meningkat 14% dibanding periode sebelumnya (2006-2010). Amerika Serikat (AS) masih bertahan menjadi negara nomor 1 pengekspor senjata.

AS menguasai 31% ekspor senjata dunia.  Ekspor senjata negeri Paman Sam meningkat 27% antara 2005-2010 dan 2011-2015.

Ada 96 negara konsumen senjata AS. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menjadi konsumen terbesar. Sampai akhir 2015, AS meneken berbagai kontrak besar termasuk penjualan 611 pesawat F-35 generasi baru.

Setelah AS, Rusia menjadi pemasok kedua terbesar dengan penguasaan pasar 5% perdagangan senjata dunia.

Sebanyak 50 negara menjadi konsumen senjata buatan Negeri Beruang Merah ini. India, China, dan Vietnam merupakan konsumen terbesar Rusia.

Peralatan yang sering dipesan adalah pesawat tempur, tank, kapal selam nuklir dan senapan serbu.

China berada di urutan ketiga.  Pada periode 2011-15 China memasok senjata kepada 37 negara.

Konsumen terbesar Negeri Tirai Bambu adalah Pakistan (35%), Bangladesh (20%) dan Myanmar (16%).

Selain negara yang menjadi pemasok, Stockholm International Peace Research Institute melaporkan, terdapat sembilan perusahaan penjual senjata di dunia (di luar China). Misalnya, Lockheed Martin (AS). Pada 2014 penjualan senjata Lockheed Martin mencapai US$ 37,5 miliar,  meningkat dari tahun sebelumnya US$ 35,5 miliar.

Kemudian Boeing (AS) dengan penjualan pada 2014 mencapai US$ 28,3 miliar, turun dari tahun sebelumnya US$ 30,7 miliar. Lantas BAE System (Inggris)
yang menjual senjata senilai US$ 25,7 miliar di tahun 2014, turun dari tahun sebelumnya US$ 26,8 miliar.

Setelah itu Raytheon (AS),  Northrop Grumman (AS), General Dynamics (AS), Airbus Group (Eropa), dan United Technology Corp (AS).

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 18 Juli 2016 | 20:25 WIB
Telkom Luncurkan Smart Office Pro

PT Telkom Indonesia  (Persero) Tbk  (Telkom) meluncurkan layanan Smart Office Pro (SAFIRO). 

Senin 01 Agustus 2016 | 21:40 WIB
Hikmah Reshuffle

Setelah menjabat selama setahun kurang 17 hari, akhirnya, Rizal Ramli dilengserkan dari kursi Menko Bidang Kematiman RI.

Senin 02 Mei 2016 | 21:04 WIB
Gaya Pejabat Daerah

Banyak pejabat daerah memakai dana pemberian pemerintah pusat untuk kepentingan pribadi.

Senin 05 September 2016 | 21:05 WIB
Indeks Sudah Kemahalan

Bersiaplah mengadapi koreksi berikutnya. Mudah-mudahan tidak terlalu dalam

Senin 29 Agustus 2016 | 12:24 WIB
PAK LEE SEDANG SAKIT

Banyak yang khawatir tentang masa depan Singapura jika sesuatu terjadi pada diri PM Lee Hsien Loong.