Sabtu, 21 Oktober 2017

Berlomba ke Pasar Ekspor

Pameran Mobil dok reviewo 2

Berlomba ke Pasar Ekspor

Oleh: Nikita Jagad - Senin 13 Pebruari 2017 | 11:56 WIB

Artikel Terkait

Seiring membaiknya pasar, target penjualan suku cadang juga naik bersamaan dengan naiknya target penjualan mobil.

Prospek nan cerah di pasar mobil, otomatis, membuat masa depan industri suku cadang menjadi bersinar. Selain di dalam negeri, penjualan suku cadang buatan Indonesia juga telah merambah ke berbagai negeri. Jika ekspor suku cadang otonotif mobil dan sepeda motor sampai dengan 2016 menyumbang 8 persen dari total penjualan anggota Gambungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM). Maka tahun ini, angka tersebut akan digenjot seiring dengan perluasan pasar.

“Setidaknya ada peningkatan total ekspor onderdil dan komponen otomotif di kisaran 9% untuk tahun ini. Destinasi baru yang menjadi sasaran ekspor di antaranya negara-negara di kawasan Afrika,” ujar Hamdani Dzulkarnaen Salim, Ketua Umum GIAMM.

Selain menambah destinasi tujuan ekspor, anggotanya juga akan menambah jenis produk yang di masukkan ke pasar global. “Untuk varian produk, pelaku industri akan meningkatkan ekspor non baterai,” katanya.

Peningkatan ekspor juga akan disumbang dari penjualan komponen kendaraan bermotor baik secara terurai, completely knocked down (CKD) atau kendaraan utuh alias completely built up (CBU).

GIAMM optimistis, sejalan dengan perbaikan ekonomi global dan stabilitas nilai tukar rupiah target tersebut akan mudah terealisasi. “Kami yakin akan lebih baik kondisinya,” ujarnya.

Produk yang paling banyak diminati oleh pasar global di antaranya adalah fast moving parts seperti baterai, filter, dan barang sejenis lainnya.

Ada secercah harapan, tapi tetap harus waspada. Makanya, produsen komponen otomotif PT Astra Otoparts Tbk menargetkan pertumbuhan yang tidak ambisius. Emiten dengan kode saham AUTO ini hanya menargetkan pertumbuhan di atas 5 persen untuk pendapatan dan minimal 10 persen untuk  laba bersih pada 2017.

Hamdhani Dzulkarnaen yang juga menjabat sebagai Presiden Direktur Astra Otparts, mengatakan  bahwa pihaknya harus hati-hati mematok target pertumbuhan pada 2017. Sebab penjualan kendaraan bermotor baru dinilai  tidak akan terlalu agresif tahun ini.

Hamdhani menyebut, pada 2016 penjualan mobil domestik hanya sekitar 1,08 juta unit, sedangkan untuk kendaraan roda dua mengalami penurunan. Tahun ini penjualan mobil diperkirakan tumbuh tipis menjadi 1,1 juta unit, pun demikian dengan sepeda motor diproyeksikan tumbuh tidak terlalu tinggi. Namun dia tidak menyebut angka untuk penjualan kendaraan roda dua.

Sehingga, prospek pertumbuhan penjualan suku cadang yang diserap pabrikan otomotif alias original equipment manufacturer (OEM) tidak terlalu besar. Sebelumnya Hamdhani  menyebut kontribusi penjualan OEM dan suku cadang pengganti terhadap kinerja keuangan konsolidasian perseroan akan sama yaitu masing-masing sekitar 50 persen tahun ini.

MENGGELINDING SEMAKIN CEPAT

Contoh produsen suku cadang lainnya adalah PT Gajah Tunggal. Pabrik ban ini menargetkan penjualannya bisa naik 5% - 10% di tahun ini. “Proporsi yang diharapkan antara domestik dan ekspor adalah sebesar 55% dan 45%,” kata Catharina Widjaja, Direktur Corporate Communicatian, Gajah Tunggal.

Salah satu upaya untuk bisa meningkatkan penjualan dengan cara ekspansi di ban radial bus truk dan bus. Tahun lalu produsen bank GT Radial ini memproduksi 600 sampai 1.200 ban per hari. Tahun ini, ditargetkan bisa mencapai 2.200 ban per hari.

Selain itu saat ini dua pabrik GJTL di Tangerang dan Serang dapat memproduksi ban passenger car radial (PCR) sebanyak 55.000 ban/hari, ban untuk motor sebesar 95.000 ban/hari dan Bis sebanyak 14.500 ban/hari.

Di ban roda empat, Gajah Tunggal juga tercatat pemasok ban Low Cost Green Car (LGCC) seperti Avanza dan Xenia. Untuk tahun ini perseroan menyiapkan capex (capital expenditure) sebesar US$ 60 juta – US$70 juta.

PT Multistrada Arah Sarana Tbk juga  serius menggarap pasar Amerika Serikat (AS). Pemegang merk  Achiles tersebut menganggarkan belanja modal atau capital expenditure (capex) senilai US$ 30 juta atau sekitar Rp 390 miliar demi memenuhi permintaan ban dari negeri Paman Sam itu.

Penggunaan capex ini dilakukan secara bertahap, selain proses pembuatan mesinnya yang membutuhkan waktu juga karena disesuaikan oleh permintaan di AS. Sejauh ini, serapannya baru sekitar 20% dari total anggaran.

Pada kuartal pertama 2017 nanti, diperkirakan, anggaran itu terserap habis. Jadi, mulai periode tersebut, produksi ban untuk pasar AS bisa lebih ngebut. Bukan tanpa alasan Multistrada begitu serius memaksimalkan permintaan dari AS.  Ini karena pemetaan penjualan ekspor yang dimiliki perseroan.

Sebesar 30% penjualan Multistrada dilakukan di pasar lokal, sedangkan 70% dijual di pasar ekspor. Nah, dari 70% itu, 10 % diantaranya ditujukan ke AS. 

Komentar

Artikel Lainnya
Rabu 27 September 2017 | 15:39 WIB
Dari pada Dijual, Mending Diberdayakan

Menko Maritim Luhut Pandjaitan mengusulkan agar pemerintah menjual BUMN. Alasannya, badan usaha milik negara sudah…

Senin 05 Oktober 2015 | 05:22 WIB
Insentif untuk Investor Kilang

Mencari investor kilang  minyak bukan perkara  gampang. Selain modalnya besar, keuntungannya juga tipis.…

Sabtu 09 September 2017 | 21:14 WIB
Yang Tertohok Jagung

Gara-gara impor jagung distop, untung emiten pakan menurun. Tapi, untuk jangka panjang harga sahamnya masih bisa naik.

Senin 18 Juli 2016 | 20:53 WIB
Percikan Api Proyek Listrik

Diam-diam ada perseteruan antara Menteri ESDM Sudirman Said dan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir. 

Senin 14 Maret 2016 | 18:32 WIB
Menunggu Premium di bawah Rp 5.000

Harga premium dikabarkan bakal di bawah Rp 5.000 per liter, pada 1 April mendatang. Harga keekonomiannya sedang jatuh.