Kamis, 14 Desember 2017

Bursa Bos Pertamina

Sudirman Said Katadata

Bursa Bos Pertamina

Oleh: Bastaman - Senin 13 Pebruari 2017 | 11:59 WIB

Sejumlah nama disebut-sebut akan menempati posisi Direktur Utama Pertamina. Siapa pun yang terplih, dia akan mengelola mega proyek senilai Rp 700 triliun.

Meskipun sudah terpental dari posisinya, Dwi Soetjipto boleh berbangga. Soalnya, di bawah kepemimpinannya, prestasi Pertamina di tahun 2016 terbilang luar biasa. Selain berhasil meraih untung besar, BUMN ini juga mampu meningkatkan produksinya. Belum lagi upaya  efisiensi yang bisa menghemat pengeluaran hingga jutaan dolar.

Jika melihat banyak kemajuan yang diraih Pertamina, memang wajar bila pencopotan Dwi menimbulkan berbagai spekulasi. Faisal Yusra, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Migas Indonesia, contohnya. Ia menduga pencopotan itu ada kaitannya dengan sejumlah proyek di Pertamina yang nilainya mencapai Rp 700 triliun. “Kalau melihat nilainya, tentu banyak pihak yang meneteskan air liur,” ujar Faisal.

Lain lagi cerita Faisal Basri, mantan Ketua Tim Pemberantasan Mafia Migas. Dalam blognya, ekonom UI ini berkisah bahwa Dwi pernah menyampaikan sebuah  keganjilan dalam anggaran rumah tangga Pertamina yang baru. Keganjilan itu terkait dengan kewenangan wakil direktur utama yang dapat memegang  komando tertinggi di Pertamina bilamana direktur utama sedang berhalangan.

Namun, terlepas dari spekulasi yang berseliweran, saat ini muncul sejumlah nama yang disebut-sebut akan segera mengisi posisi yang ditinggalkan Dwi. “Mudah-mudahan tidak perlu 30 hari sudah ada direktur utama yang baru,” ujar Tanri Abeng, Komisaris Pertamina. Lantas, siapa saja calon yang akan mengisi jabatan basah tersebut? Berikut rangkuman riwayat singkat para kandidat Direktur Utama Pertamina:

Sudirman Said

Cukup sering Sudirman Said disebut-sebut akan menjabat Direktur Utama Pertamina. Kini, kejadian itu terulang. Banyak yang mengatakan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral itu adalah calon terkuat untuk menduduki posisi nomor satu di Pertamina. Maklum, aktivis anti korupsi ini pernah menjabat Deputi Direktur Integrated Supply Chain (ISC) untuk mengatasi mafia impor BBM.

Alumnus George Washington University ini mulai bersinggungan dengan Pertamina ketika ditunjuk sebagai Sekretaris Perusahaan di tahun  2008. Tugas utamanya melakukan pembenahan fungsi sekretaris perusahaan dan Supply Chain Management. Di bawah kepemimpinan Ari Soemarno, kakak kandung dari Menteri BUMN Rini Soemarno, pria kelahiran Brebes ini pernah memegang jabatan Direktur Umum dan Sumber Daya Manusia Pertamina.

Namun setelah menjabat Koordinator Restrukturisasi Asset dan Anak Usaha Pertamina, kiprah manta Ketua Batan Pelaksana Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) ini tidak terlalu sering terdengar. Namanya kembali mencuat setelah Menteri BUMN memberinya posisi Direktur Utama PT Pindad Bandung. “Saya kira  Sudirman paling pas menjabat Direktur Utama Pertamia,” ujar  Fahmi Radhi, mantan Anggota Tim Pemberantasan Mafia Migas.

Yenni Andayani

Pelaksana tugas sementara (Plt) Direktur Utama Pertamina ini  termasuk yang patut diperhitungkan. Apalagi berbagai posisi penting pernah diembannya, seperti  Direktur Utama PT Nusantara Gas Company Service di Osaka, Direktur Utama PT Donggi – Senoro LNG, dan Direktur Direktur Energi Baru Terbarukan Pertamina. Ada yang bilang, wanita berusia 49 tahun itu akan mengikuti jejak Galaila Karen Agustiawan, wanita pertama yang pernah menjabat Direktur Utama Pertamina.

Syamsu Alam

Tiga tahun silam, nama Syamsu Alam sempat masuk dalam nominasi bursa direktur utama Pertamina. Kala itu,  pria kelahiran Purwerejo 54 tahun silam ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Pertamina EP dan Senior Vice President Exploration Pertamina. Namun akhirnya lulusan sarjana geologi ITB ini dipercaya untuk menduduki posisi  Direktur Hulu Pertamina, di bawah kepemimpinan Dwi Soetjipto.

Di bawah kepemimpinannya, tahun lalu Pertamina berhasil meningkatkan produksi minyaknya menjadi 646.000 barel per hari atau naik 12,3%. Kendati pernah diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus suap jual beli gas di Bangkalan Madura, Doktor dari University of Texas A & M ini dinilai memenuhi tiga kriteria calon dirut Pertamina: memiliki integritas, independen, dan profesional.

Rachmat Hardadi

Direktur Megaproyek dan Petrokimia Pertamina ini termasuk yang digadang-gadang sebagai calon Ditrektur Utama Pertamina. Maklum, direktorat yang dipimpin Rachmat saat ini tengah menangani empat proyek besar refinery untuk meningkatkan kapasitas produksi. Nilai  proyek tersebut mencapai total US$ 30 miliar – US$ 40 miliar  atau sekitar Rp 465,5 triliun untuk 5 tahun ke depan.

Mega proyek itu pula yang disebut-sebut sejumlah kalangan sebagai biang dari pencopotan Dwi. Jika isu itu benar adanya, peluang Rachmat memang cukup besar. Apalagi, kabarnya, alumni Teknik Kimia ITB ini juga mendapat dukungan dari dalam. Ia memulai karirnya di Pertamina mulai 1988. Berbagai posisi penting penah dipegangnya, termasuk sebagai Presiden Direktur PT Badak LNG.

Budi Gunadi Sadikin

Setelah lengser sebagai Direktur Utama Bank Mandiri, tiga tahun silam, Budi Guinadi Sadikin sebenarnya sempat masuk bursa direktur utama Pertamina. Namun nasib kemudian membawa lulusan Fisika Nuklir ITB itu menjadi Staf Khusus Menteri BUMN Rini Soemarno. Makanya, tidak terlalu mengejutkan juga tatkala namanya kembali menyeruak ke arena bursa direktur utama Pertamina.

Dibandingkan dengan kandidat lainnya, Budi nyaris tidak pernah besentuhan dengan bisnis minyak. Mantan pegawai IMB Indonesia ini memang seorang akhli finansial yang andal. Sebelum bergabung dengan Bank Mandiri, ia pernah berkarir di Bank Bali (kini Bank Permata), ABN Amro Bank Indonesia, dan Bank Danamon.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 25 Juli 2016 | 23:02 WIB
Asap GGRM Masih Mengepul

Walau dijepit oleh berbagai masalah, saham Gudang Garam masih melaju. Rekomendasi dari analis buy. Bagaimana HMSP?

Rabu 03 Pebruari 2016 | 01:28 WIB
Kok, Amdal Cuma Seminggu

Sehari sebelum groundbreaking proyek kereta cepat Jakarta Bandung dilakukan, izin analisis dampak lingkungan (amdal)…

Senin 18 April 2016 | 22:44 WIB
Serangan Sohib Lama

Rini kerap menjadi bulan-bulanan elit PDI Perjuangan dan lawan-lawan politiknya. Sebaliknya, Dahlan Iskan mengaguminya. 

Senin 10 Oktober 2016 | 19:32 WIB
Tergantung Sentimen Laporan Triwulan III

Beberapa hari ke depan kondisi bursa tergantung baik buruknya kinerja triwulan III. Tapi perhatikan juga faktor eksternal.…

Senin 21 Maret 2016 | 22:03 WIB
Nasib Batu Bara

Para pengusaha industri batu bara sudah banyak yang gulung tikar. Pemerintah segera membuat regulasi guna menyelamatkannya.…