Kamis, 14 Desember 2017

Optimistislah Rupiah Bakal Berotot

Money Changer DahlanRP (3)

Optimistislah Rupiah Bakal Berotot

Oleh: Bastaman - Senin 13 Pebruari 2017 | 12:12 WIB

Kampanye pilkada berlangsung adem. Banyak analis yang meramalkan, pekan ini rupiah akan melanjutkan penguatan.

Konsentrasi sebagian besar masyarakat Indonesia, pekan ini, hampir bisa dipastikan akan terfokus pada Pilkada. Pesta demokrasi yang digelar serentrak disejumlah daerah (15 Februari) itu tentu bakal menjadi momen teramat penting yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Bila Pilkada berjalan mulus, tentu akan memberikan kepercayaan baru. Tidak saja bagi masyarakat, tapi juga entitas bisnis.

Suasana adem selama kampanye dinilai telah memberi keyakinan bahwa Pilkada akan berlangsung damai. Berdasarkan perkiraan itu, tren penguatan rupiah diperkirakan akan terus berlangsung pekan ini. Apalagi sejumlah indikator makro ekonomi menunjukan hasil positif. Cadangan devisa meningkat, rating kredit pun  naik. Perkara inflasi Januari yang mencapai 0,93%, tak terlalu berpengaruh. Sebab, tingkat tersebut masih dalam kendali.

Di samping itu, yang membuat pasar semakin optimistis adalah penampilan data tenaga kerja Amerika yang kurang oke.  Betul, angka non farm payroll membaik. Tapi rata-rata kenaikan upah per jam turun, sementara tingkat pengangguran naik.  Hal itu membuat pelaku pasar yakin, kenaikan suku bunga The Fed belum akan terjadi dalam waktu dekat. Apalagi harga minyak, salah satu faktor pemicu inflasi, juga memperlihatkan tren menurun.

Berbagai sentimen positif itulah yang membuat nilai tukar rupiah, pekan lalu, menguat 0,23% ke level Rp 13.312 per dolar.  Untuk pekan ini, selain Pilkada, nasib rupiah akan dutentukan sejumlah pengumuman penting dari dalam negeri. Misalnya pengumuman BI 7 – day reserve repo rate dan neraca perdaganagan. Tapi sejumlah kalangan yakin, BI akan tetap mempertahankan suku bunganya di level 4.75%. Neraca perdagangan juga diperkirakan masih akan surplus.

Sementara dari luar negeri, pasar menunggu keputusan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dalam menstabilkan harga minyak dunia. Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak harga minyak, yang akhirnya akan menjadi katalis positif bagi pergerakan harga komoditas. Pasar juga masih menanti pengumuman data pertumbuhan ekonomi Jepang, Inggris, dan Jerman. Lalu, rilis data inflasi data inflasi China, Inggris dan Amerika.

Berdasarkan kondisi di atas, tren penguatan rupiah diperkirakan akan terus berlangsung. Apalagi aksi borong dolar oleh korporasi mulai mengendur. Putu Agus Pransuamitra, Research and Analyst Monex Investindo Future, memperkirakan pekan ini nilai tukar rupiah masih dalam poisisi menguat di  rentang Rp 13.320 – Rp 13.450 per dolar. “Bahkan bisa menguat sampai Rp 13.250,” ujarnya.

WASPADAI RINGGIT MALAYSIA

Josua Pardede pun berpandangan sama. Analis Bank Permata ini yakin, nilai tukar rupiah masih akan menguat. “Apalagi ada pernyataan BI bahwa data arus uang yang akan dirilis Jum’at ini akan defisit. Ini positif buat rupiah,” ujarnya. Jika tidak ada kejadian besar, menurut Josua, pekan ini kemungkinan rupiah dihargai Rp 13.300 – Rp 13.375.

Namun, sekali lagi, perkiraan para analis tadi baru akan menjadi kenyataan bila tidak ada kejadian yang luar biasa. Masalahnya, saat ini situasi dunia sedang kurang baik. Salah satunya adalah perkembangan politik di Eropa, khususnya Prancis. Maklum, salah satu calon kuat Presiden Prancia, Marine Le Pen, getol mengkampanyekan program ke luarnya Prancis dari Uni Eropa atau Frexit.

Bila Pen terpilih, hampir bisa dipastikan nilai tukar euro bakal makin melorot. Seperti yang terjadi pekan lalu, pelemahan euro berdampak terhadap mata uang Asia. “Pelemahan euro cukup berdampak ke Asia, termasuk rupiah,” ujar Josua. Untungnya, fundamental dalam negeri masih positif, sehingga efeknya terhadap rupiah tak terlalu besar.

Lain Prancis, lain pula sikap Skotlandia dan Irlandia Utara. Kedua negara ini justru memilih untuk tetap di dalam Uni Eropa. Hanya saja, karena Inggris sudah ke luar dari Uni Eropa, kini muncul keinginan dari dua negara tersebut untuk menggelar referendum kemerdekaan dari Inggris Raya. Bila itu sampai terjadi, euro dan poundsterling diperkirakan akan makin melemah terhadap dolar.

Ancaman lain datang dari negeri jiran, Malaysia. Januari lalu, nilai tukar ringgit membukukan rekor terburuk sepanjang masa terhadap dolar. Ketika itu ringgit jatuh ke level 4,43 per dolar. Menurut Bloomberg, kejatuhan  mata uang Malaysia itu dipicu oleh kebijakan bank sentral (Bank Negara Malaysia/BNM) yang membatasi transaksi non deliverable forward (NDF) ringgit di pasar luar negeri (offshore).

Betul, kebijakan yang diliris BNM pada 2016 mampu menekan volatilitas. Namun efek negatifnya, investor kehilangan kepercayaan. Menurut catatan Macquarie Bank Ltd, sepanjang November – Desember 2016, asing menarik investasinya dari surat utang Malaysia hingga  US$ 5,7 miliar. Alhasi, penarikan dana oleh asing itu membuat cadangan devisa Malaysia terkuras tinggal US$ 95 miliar.

Nah, bukan tidak mungkin, kejutan ringgit itu akan merembet kepada rupiah. Masih ingat krisis moneter 1998? Krisis keuangan yang membuat sejumlah bank tutup itu awalnya juga bermula dari Thailand. Tapi, seperti kita ketahui, Indonesialah yang paling menderita  akibat krisis tersebut. Kurs rupiah, yang semula  berada di kisaran Rp 2.500, sempat terkapar hingga level Rp 16.000 per dolar.

Mengerikan.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 10 Oktober 2016 | 23:52 WIB
Telkomsel-BTPN Uji Coba Penyaluran Nontunai

Telkomsel dan PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) bersama dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan…

Senin 02 Januari 2017 | 18:12 WIB
Honda Pecahkan Rekor Penjualan di RI

Honda kembali memecahkan rekor penjualan tahunan tertinggi di Indonesia, setelah membukukan penjualan sebesar 199.364 unit…

Senin 27 Juni 2016 | 21:03 WIB
LRT Mulai Dikerjakan

Pembangunan LRT Jakarta tahap awal akan menelan anggaran sekitar Rp 4,5 triliun. Saat ini sedang dilakukan lelang pelaksana…

Rabu 12 Oktober 2016 | 19:13 WIB
Banyak Pilihan, Tapi Tetap Waspada

IHSG terseret penurunan indeks Dow Jones dan Nasdaq. Tapi koreksi ini membuka peluang bagi investor untuk bermain jangka…

Senin 28 Maret 2016 | 21:42 WIB
Pilihan Terbaik di Kala Susah

Penerbit kartu kredit kembali gencar menjajakan dagangannya. Agar makin banyak digesek, beberapa  bank berencana memangkas…