Kamis, 14 Desember 2017

Hitung-hitung Harga Indofood

Indofood2 DahlanRP

Hitung-hitung Harga Indofood

Oleh: Nikita Jagad - Senin 13 Pebruari 2017 | 12:19 WIB

Kemungkinan harga INDF masih akan menggeliat. Kalau targetnya tercapai, lumayan masih ada potensi penguatan yang cukup lebar.

Harga cabai yang semakin pedas, rupanya, menular ke produk pangan lainnya. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) misalnya, pada 17 Januari, kembali menaikkan harga jual produknya. Namun, kenaikan harga jual tersebut masih sebatas pada produk mi instan yang dikerek naik Rp 100 per bungkus.

Kenaikan yang ‘aneh’, sebab dilakukan di saat harga bahan baku turun. Sebagai gambaran, harga tepung yang menjadi bahan baku mi justru turun dari semula Rp 2,3 juta per ton pada semester I-2016 menjadi sekitar Rp 2,08 juta per ton saat ini. Sehingga, kenaikan harga tepung bukan merupakan alasan utama ICBP menaikkan harga.

Kenaikan harga ini memang dilakukan rutin tiap tahun. Ini merupakan bagian dari strategi ICBP untuk menjaga marjin, serta mempertimbangkan kenaikan harga bahan baku lainnya. Dengan kenaikan harga tersebut, diprediksi ICBP tahun ini akan mencatat EBIT(laba sebelum bunga dan  pajak) Rp 5,66 triliun, naik sekitar 11% dibanding estimasi EBIT tahun lalu, yakni sebesar Rp 5,09 triliun.

Sementara, EBIT margin perseroan tahun ini diperkirakan naik menjadi 14,5% dari sebelumnya 14,2%. Hanya harga mi instan yang naik bukan berarti harga produk lain bakal anteng.

“Jika berdasarkan harga bahan baku, ICBP masih memiliki kekuatan menaikkan harga jika diperlukan,” imbuh Stevanus.

Apalagi, harga bahan baku selain tepung, seperti susu skim, mengalami kenaikan dari sekitar Rp 24,9 juta per ton pada semester I-2016 menjadi Rp 31 juta per ton di kuartal I ini. Demikian pula harga cabai yang naik, serta kenaikan sejumlah bahan baku lainnya.

Keputusan ICBP menaikkan harga mi instan akan membuat fundamental induknya, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) kian solid. “Kami memprediksi, INDF mampu mencatat kenaikan core net income tahun ini sekitar 16%,” kata Stevanus.

Ada cerita lain di balik semakin solidnya fundamental Indofood. Perseroan ini berencana menerbitkan surat utang dalam waktu dekat ini. Perseroan menunjuk enam penjamin emisi alias joint lead underwriters untuk menangani aksi korporasi tersebut.

“Saat ini, kami sedang bersiap untuk melakukan penawaran umum obligasi dalam mata uang rupiah,” ujar Elly Putranti, Sekretaris Perusahaan Indofood dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (8/2).

Namun, ia belum menyebutkan nilai emisi dari obligasi itu.Yang jelas, enam penjamin emisi yang ditunjuk adalah PT Mandiri Sekuritas, PT BCA Sekuritas, PT CIMB Securities Indonesia, PT DBS Vickers Securities Indonesia, PT Indopremier Securities dan PT Trimegah Securities Tbk.

MASIH ADA RENTANG 29%

INDF memang menyiapkan pendanaan untuk membayar kembali utang jatuh temponya pada tahun ini. Obligasi Indofood senilai Rp 2 triliun jatuh tempo pada 31 Mei 2017. Obligasi tersebut merupakan oblisgasi rupiah VI tahun 2012 bertenor 5 tahun dengan tingkat bunga tetap 7,25% per tahun. Kala itu, dana penerbitan obligasi juga digunakan untuk pelunasan surat utang sebelumnya dan modal kerja.

Per Kuartal III 2016, Indofood juga tercatat memiliki utang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu setahun sebesar Rp 2,2 triliun. Total kas dan setara kas yang dimiliki  masih cukup besar, mencapai Rp 11,4 triliun.

Joni Wintarja, Analis NH Korindo Sekuritas mengatakan, prospek Indofood tahun ini masih menarik. Pasalnya, perusahaan ini bergerak di bidangkonsumsi masyarakat yang terkait erat dengan pendapatan usaha dan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dengan estimasi pertumbuhan ekonomi tahun 2017 yang lebih tinggi, ia memperkirakan pendapatan Indofood akan tumbuh 5,4% pada tahun 2016 dan 8% pada tahun 2017 menjadi Rp 72,9 triliun.

“Divisi tepung dan agribisnis diperkirakan akan menikmati kenaikan harga komoditas pada tahun ini,” ujarnya.

Indofood juga menerapkan metode cost plus untuk divisi tepung, yakni penyesuaian harga jual dengan harga bahan baku. Meskipun secara marjin keuntungan akan stabil, kenaikan harga gandum akan meningkatkan pendapatan perusahaan dari divisi tepung.

Sedangkan, sektor agribisnis akan memperoleh marjin keuntungan yang lebih baik karena kenaikan harga crude palm oil (CPO). Maka, ia memperkirakan laba Indofood akan tumbuh sebesar 4.7% pada 2017 menjadi Rp 4,5 triliun.

Joni merekomendasikan buy saham berkode INDF ini dengan target harga Rp 10.255 per saham atau sekitar 29% dari harga yang terbenuk hari ini (10/2 Rp 7.950). Target ini diperoleh dari estimasi forward Price Earning Ratio (PER) sebesar 18,8 kali pada akhir Desember 2017.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 28 Nopember 2016 | 20:24 WIB
Ada Apa Indonesia

Dalam tiga minggu terakhir ini, presiden kita tampak supersibuk. Bukan cuma ngurus negara. Presiden Joko Widodo repot olen…

Jumat 27 Oktober 2017 | 19:32 WIB
Beli Dolar Sekarang

Nilai tukar rupiah diprediksi masih akan berada di jalur melemah. Bahkan ada yang percaya, di akhir tahun rupiah akan…

Senin 17 April 2017 | 14:15 WIB
Jalan Tol Akses Priok Diresmikan, Daya Saing Diharapkan Meningkat

Setelah pembangunannya mengalami penundaan beberapa tahun, Jalan Tol Akses Tanjung Priok, Sabtu (15/4) siang, diresmikan…

Senin 07 Maret 2016 | 20:57 WIB
Ancaman Elpiji dari Conoco

Conoco Philips bakal melepas kilang LPG di Lapangan Belanak dan Blok B Laut Natuna Selatan. Pasokan elpiji bisa terganggu. 

Selasa 31 Januari 2017 | 12:42 WIB
Kapasitas Industri Pulp Tahun Ini Diperkirakan 10,43 Juta Ton

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi besar dalam pengembangan industri pulp dan kertas. Pada industri…