Kamis, 14 Desember 2017

Matahari Siap Bersinar

Matahari DAhlanRP2

Matahari Siap Bersinar

Oleh: Nikita Jagad - Senin 13 Pebruari 2017 | 12:20 WIB

Pemegang saham utama akan melego kepemilikannya di Matahari Putra Prima. Tapi, kabarnya, harga yang dipasang sangat tinggi.

Entah benar tidaknya kabar ini, pemegang saham utama PT Matahari Putra Prima, akan melepas kepemilikannya pada pihak lain. Belum jelas benar pula siapa yang dimaksud dengan pihak lain itu. Yang pasti, kini mayoritas saham PT Matahari Putra Prima dikuasai PT Multipolar Tbk (MLPL) sebesar 50,23% dan Temasek Singapura 26,09%.

Matahari Putra  Prima, sebenarnya, merupakan perusahaan yang ritel yang sedang berupaya memosisikan untuk menjadi perusahaan yang solid. Selama sembilan bulan 2016 telah mengumpulkan penjualan bersih sebesar Rp 10,4 triliun, turun 0,57% dibanding tahun sebelumnya.

Seiring penurunan penjualan, laba bersih perseroan menurun 87,53% menjadi Rp32,6 miliar atau Rp6 per saham dibandingkan Rp261,09 miliar atau Rp49 per saham pada periode yang sama tahun 2015. Adapun marjin laba bruto sebesar 16,3% dan total beban usaha sebesar 15,4% dari penjualan.

Hal ini sebagian besar disebabkan oleh pergeseran musim Lebaran dari kuartal ke tiga sampai kuartal ke dua dan rendahnya daya beli di Sumatera dan Kalimantan yang berkelanjutan. Tanpa penutupan gerai untuk renovasi, SSSG MPPA tumbuh sebesar 1,3% untuk 9M 2016 dan menurun sebesar 2,9% untuk 3Q 2016.

Mengawali kuartal III-2016, perseroan mengubah sistem akuntansi dari metode ritel menjadi metode biaya. Perubahan ini memungkinkan Matahari menerapkan strategi harga yang lebih agresif.

Perubahan sistem ini membuat terjadinya penyesuaian pada penjualan di kuartal terakhir. Dengan demikian, diproyeksikan laba bersih MPPA mencapai Rp 207 miliar untuk 2016 dan Rp342 miliar untuk 2017 mendatang. Atas dasar itulah seorang analis merekomendasikan buy untuk saham matahari (MPPA) dengan target harga Rp 2.250.

Namun, ada juga yang memprediksi saham PT Matahari Putra Prima punya berpotensi naik menuju Rp 2.600 per saham, dari level Rp 1.395 pada 9 Februari 2017 pukul 11.00 WIB. Alasannya, salah satu ritel terbesar di Tanah  tersebut diperkirakan tumbuh prospektif sepanjang tahun ini.

POTENSI PENGUATANNYA SANGAT BESAR

Seorang analis saham  menjelaskan, laju inflasi di Indonesia yang masih rendah, daya beli masyarakat yang tetap kuat, dan ekonomi yang bakal tumbuh lebih tinggi berdampak positif terhadap kinerja emiten ritel. Tahun ini, Bank Indonesia (BI) meyakini inflasi akan terjaga pada level 4 persen plus-minus 1 persen. Adapun pertumbuhan ekonomi 2017 diperkirakan mencapai 5-5,5 persen.

Saham emiten segmen ritel masih prospektif sepanjang tahun ini, sehingga saham tersebut masih menjadi pilihan investor. “Sektor ritel bakal membukukan kinerja positif dan memiliki fundamental kuat,” kata sang analis.

Itulah sebabnya, ia merekomendasikan sejumlah saham di sektor ritel untuk dikoleksi. Ini antara lain MPPA dengan target harga Rp 2.600 per saham. Kalau dihitung dengan harga yang terbentuk saat ini, berarti masih ada ruang untuk penguatan sebesar 90%. Masih cukup lebar.

Kepala Riset PT Koneksi Capital Alfred Nainggolan menuturkan, MPPA memiliki peluang pertumbuhan prospektif sepanjang tahun ini. Demikian pula emiten PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) memiliki prospek yang baik, karena memiliki outlet yang tersebar cukup banyak di sejumlah wilayah. Selain itu, keputusan perusahaan untuk merambah pasar online dapat menjadi katalis pertumbuhan yang baik.

“Karena itulah, saham LPPF dan MPPA layak dikoleksi. Pasar akan lebih mengapresiasi perusahaan yang mengembangkan jaringan, memiliki basis gerai yang kuat di sejumlah daerah, produk yang menarik, serta menawarkan mekanisme transaksi yang mudah,” kata dia.

Hingga 30 September 2016, MPPA mengoperasikan total 294 gerai di Indonesia. Gerai itu terdiri atas 112 Hypermart, 25 Foodmart, 106 Boston, 49 FMX, dan 2 SmartClub.

Berdasarkan berita yang dirilis The Wall Street Journal (WSJ), pemegang saham utama MPPA — termasuk perusahaan investasi Singapura Temasek Holdings Pte Ltd — berencana menjual saham mereka dalam kesepakatan yang kemungkinan menghargai perusahaan senilai US$ 1 miliar.

Menanggapi hal tersebut, Investor Relations Multipolar Agus Arismunandar mengakui, pihaknya didekati sejumlah pihak yang berminat membeli saham MPPA yang dimiliki perseroan. “Cuma kalau boleh saya jelaskan, sebenarnya angka komersial Matahari Putra Prima jauh lebih dari nominal itu (US$ 1 miliar),” ujarnya.

Jadi berapa? Dan siapa gerangan yang berani membeli Matahari dengan harga  di atas US$ 1 miliar?

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 15 Agustus 2016 | 20:35 WIB
Ingin Cepat Kaya

ADA banyak persoalan yang  membelit bangsa ini. Tapi yang menonjol tampaknya ada dua. Yang pertama adalah banjir narkoba.

Senin 27 Juni 2016 | 20:46 WIB
Memburu Mereka yang Nakal

Tok, tok, tok. Badan Anggaran DPR akhirnya menyetujui postur sementara RAPBN-P 2016, Selasa pekan lalu. Postur sementara…

Selasa 18 April 2017 | 13:26 WIB
Baru 58,97 Persen Wajib Pajak Serahkan SPT

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terus mendorong seluruh Wajib Pajak (WP) yang belum menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan…

Senin 20 Juni 2016 | 21:17 WIB
Ajakan Memboikot Lion

Gara-gara kelebihan bagasi kargo, bagasi penumpang diturunkan. Kekecewaan melahirkan petisi. YLKI pun menyerukan boikot…

Jumat 24 Pebruari 2017 | 21:28 WIB
BTN Luncurkan KPR BTN Mikro

PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk meluncurkan kredit pemilikan rumah untuk pekerja informal yaitu KPR BTN Mikro.