Sabtu, 21 Oktober 2017

PPRO Setelah Stock Split

Properti DahlanRP

PPRO Setelah Stock Split

Oleh: Nikita Jagad - Senin 13 Pebruari 2017 | 12:22 WIB

Inilah saham properti yang super mahal. Mungkinkah masih kuat nanjak?

Ada beberapa saham yang ‘menggelegar’ di saat sektor properti lesu darah. Salah satunya adalah efek terbitan PT PP Properti alias PPRO. Dalam kurun waktu setahun (2016) harga saham ini naik telah mengalami kenaikan 7,7 kali lipat, dari Rp 175 ke Rp 1.360. Padahal, sepanjang tahun lalu saham-saham sektor properti besar cukup tertekan.

Naiknya harga saham PPRO yang melesat membuat nilai kapitalisasi perusahaan ini melonjak tajam menjadi Rp18,33 triliun, tujuh kali lipat lebih tinggi dibandingkan Rp 2,6 triliun pada waktu IPO tengah tahun lalu.

Tingginya nilai tersebut membuat kapitalisasi PPRO telah melampaui sejumlah kapitalisasi perusahaan properti lainnya, seperti PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR),  PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), PT Intiland Development Tbk (DILD) dan n PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN).

Tidak hanya itu, kapitalisasi PPRO juga mendekati kapitalisasi dari saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) yang mencapai Rp19,9 triliun. Melesatnya harga saham PPRO membuat lonjakan kapitalisasinya hampir sama dengan kapitalisasi induk usahanya yaitu PTPP sebesar Rp19,17 triliun.

Taufik Hidayat, Direktur Utama PP Properti, mengatakan stock split PPRO akan mendorong likuiditas perdagangan saham PPRO di pasar modal. Saat ini saham beredar PPRO mencapai 14,04 miliar lembar saham dengan saham yang kini dimiliki publik mencapai 4,91 miliar lembar saham.

“Kami juga merencanakan rights issue dengan target dana senilai Rp1,5 triliun yang akan digunakan untuk ekspansi dan penambahan belanja modal,” imbuh Taufik. Dia mengatakan pada tahun ini perseroan menyiapkan belanja modal mencapai Rp1,90 triliun yang akan digunakan untuk melanjutkan rencana ekspansi proyek-proyek existing serta sejumlah proyek baru.

Indaryanto, Direktur Keuangan PP Properti, saat dikonfirmasi membenarkan bahwa para pemegang saham menyetujui rencana right issue tersebut dan juga menyetujui rasio stock split sebesar 1:4. 

Sebenarnya likuiditas saham emiten properti ini tidak perlu dipertanyakan. Mengacu pada laporan keuangan PTPP dan PPRO di kuartal III 2016, masing-masing mencatatkan jumlah saham beredar sebanyak 4,8 miliar saham dan 14,04 miliar saham. Dari sini terlihat saham PPRO bisa lebih likuid dibandingkan dengan PTPP.

Apabila stock split dengan rasio 1:4 terjadi maka jumlah saham beredar PPRO meningkat menjadi 56,2 miliar lembar saham. Namun, peningkatan kepemilikan tersebut akan diimbangi dengan penurunan harga saham PPRO itu sendiri. Setelah stock split, otomatis harga sahamnya menjadi Rp 315.

 SUDAH SUPER MAHAL

Untuk menghitung seberapa mahal harga saham, pakai saja rasio harga terhadap laba per saham (price to earning ratio/PER). PER tersebut dihitung dengan nilai laba per saham (earning per share/EPS) berdasarkan kuartal III 2016.

Berdasarkan hitungan tersebut, dapat dilihat bahwa harga PPRO lebih mahal 2,3 kali dibandingkan induknya. PER PPRO akan terus meningkat apabila diasumsikan harga saham tetap serta rencana stock split dan right issue terealisasi. Hal ini mengingat semakin tingginya jumlah saham yang beredar berpeluang membuat EPS menurun apabila tidak diikuti dengan meningkatnya laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Tapi terlepas dari mahalnya PPRO, emiten ini memang tergolong yang penuh dengan  kemilau. Dan tahun 2016 tampaknya menjadi tahun cuan bagi PPRO yang mencetak pertumbuhan pendapatan 42,84% jadi Rp 2,15 triliun.

PPRO mampu mengerek pendapatan dua digit di tengah lesunya industri properti. Tapi, margin kotor emiten pelat merah ini turun tipis menjadi 27,25% dari level tahun 2015 yang mencapai 29,75%.

Berdasarkan laporan keuangan 2016 yang dipublikasikan Rabu (1/2), kontribusi terbesar pendapatan PPRO berasal dari bisnis penjualan properti yang mencapai Rp 2,01 triliun. Sedangkan pendapatan properti dari bisnis hotel, pendapatan sera dan service charge hanya Rp 134,41 miliar.

Laba bersihnya tumbuh 21,66% menjadi Rp 365,36 miliar sepanjang 2016 ketimbang tahun sebelumnya Rp 300,32 miliar. Tak cuma mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba yang tinggi, total aset emiten properti ini pun melonjak.

Aset PPRO akhir 2016 mencapai Rp 8,83 triliun, melonjak 65,94% jika dibandingkan dengan periode akhir 2015 yang masih Rp 5,33 triliun. Kenaikan aset terutama didorong oleh utang bank, obligasi serta surat utang jangka menengah.

Nah, dengan kinerja yang mencorong, mungkinkah hargaPPRO yang sudah mahal itu mampu menggeliat lagi? Seperti saham-saham lain yang melakukan stock split. Kita lihat saja nanti.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 14 Maret 2016 | 18:06 WIB
Isu Hot Menyerang VIVA

VIVA kembali digoyang isu tak sedap. Lagi-lagi soal penjualan sahamnya. 

Senin 05 Desember 2016 | 21:33 WIB
OPEC, Sudahlah

Ketika Indonesia memaklumatkan kembali menjadi anggota OPEC, banyak orang bertanya-tanya: Untuk apa?

Senin 05 September 2016 | 21:17 WIB
e-Port Card ke Pelabuhan

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menjalin kerjasama dengan PT Pelindo III dalam peluncuran kartu prabayar e-Port Card. Kartu…

Senin 28 Maret 2016 | 22:01 WIB
Meneropong Peluang INDF

Laba Indofood 2015 tergerus secara signifikan. Tapi harga sahamnya, kalau dihitung sejak awal tahun, sudah naik banyak.…

Senin 18 Januari 2016 | 23:59 WIB
Bersaing di Satu Arena

Kendati BI rate dipangkas, belum tentu suku bunga bank bakal turun. Tingginya kupon obligasi memaksa perbankan mempertahankan…