Kamis, 14 Desember 2017

Adu Kuat Sentimen

YouTube

Adu Kuat Sentimen

Oleh: Nikita Jagad - Senin 13 Pebruari 2017 | 12:24 WIB

Ekonomi AS makin membaik. Ini yang perlu diwaspadai Indonesia. Untuk sementara IHSG diramalkan masih akan melemah.

Bursa saham Amerika Serikat (AS) makin menghijau setelah janji Presiden Donald Trump  atas kebijakan pajak. Sementara, dolar AS menuju kenaikan mingguan pertama tahun ini. Sabtu subuh (11/2), Dow Jones Industrial Average kembali mencatat penguatan sebesar  0,48% menjadi 20.269,37. Sementara Indeks Nasdaq Composite naik 0,33% ke level 5.734,13.

Sekadar mengingatkan,  Trump menyatakan akan  menerapkan kebijakan penting soal reformasi perpajakan di AS secepatnya. Paling tidak, kebijakan itu akan diambilnya dalam kurun waktu dua tiga pekan ke depan.

“Pemulihan perekonomian Amerika Serikat terus terjadi, meski tidak seperti yang kita proyeksikan, tapi itu perlu diwaspadai. Sehingga apa yang ada di dalam negeri itu harus kita kelola dengan baik,” kata Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia.

Di Bursa Efek Indonesia juga, secara keseluruhan pekan lalu, indeks bergerak cukup kondusif. Di perdagangan hari terakhir indeks harga saham gabungan ditutup stagnan pada level 5.371,669. Berarti, dalam seminggu IHSG hanya menguat 10,9 poin atau sekitar 0,2%.

Sejumlah analis menilai, kembali menukiknya indeks pada perdagangan akhir pekan, lebih disebabkan oleh adanya aksi profit taking dari para pelaku pasar. Sentimen dalam negeri sendiri tidak terlalu berdampak pada pasar.

Indeks sempat menguat kemarin Kamis (9/2), disebabkan oleh laporan data ekonomi China yang membaik, bahkan di luar ekspektasi pasar. “China ekspornya meningkat, ini berarti ada peningkatan demand secara global sehingga investor optimistis,” ungkap seorang analis.

Lantas bagaimana dengan kondisi pekan ini? Para analis  memproyeksi indeks bakal cenderung melemah. Pasalnya, pasar akan menanti pidato Yelllen, Presiden The Fed terkait Fed Fund Rate. Menurutnya, jika Fed Fund Rate akan naik, maka akan terjadi capital outflow.

Adapun kontestasi Pilkada DKI Jakarta bakal membuat pasar wait and see. Jika Pilkada sukses, dia memprediksi IHSG akan melaju. Diprediksi, indeks pekan ini akan bergerak di level support 5.330 dan resistance 5.400.

BANYAK SENTIMEN POSITIF

Sementara sebagian analis lain optimistis, masih ada ruang bagi IHSG untuk mengalami penguatan. Pasalnya, rilis neraca perdagangan mengalami surplus. Selain itu, akan ada penetapan suku bunga 7 days (reverse) repo rate oleh Bank Indonesia. Nah, karena sentimen-sentimen positif itu indeks diperkirakan bakal bergerak di level 5.330 – 5.440. 

Apalagi data perdagangan China periode Januari 2017 lebih baik akibat meningkatnya permintaan global. Sentimen itu dapat memicu laju bursa saham di kawasan Asia, termasuk IHSG.

Belum lagi dorongan yang muncul akibat terbitnya laporan keuangan para emiten. Diperkirakan laporan kinerja Full Year 2016 akan mujadi stimulus bagi indeks harga saham gabungan. Investor asing akan semakin banyak yang masuk ke pasar saham domestik.

Satu faktor positif lainnya adalah diperbaikinya rating kredit Indonesia oleh Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Investors Service (Moody’s). Rating  Baa3 (Investment Grade) menjadi modal bagi Indonesia dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi tahun ini.

Betul, ada sentimen  negatif yang cukup merisaukan pelaku pasar yakni otot rupiah yang makin melemah. Sejak awal bulan kurs rupiah sudah terkoreksi 0,51 persen. Sedangkan, sejak awal tahun terkoreksi 1,4 persen. Tapi diharapkan, pelemahan itu akan berhenti dengan senridinya karena ada perbaikan pada Neraca Pembayaran Indonesia.

Bank Indonesia  melaporkan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal IV 2016 surplus sebesar US$ 4,5 miliar. Surplus NPI kuartal IV 2016 mendorong kenaikan posisi cadangan devisa menjadi sebesar US$ 116,4 miliar.

Jumlah cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai kebutuhan pembayaran impor dan utang luar negeri pemerintah selama 8,4 bulan dan berada di atas standar kecukupan internasional.

Sementara defisit transaksi berjalan turun dari US$ 17,5 miliar atau 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2015 menjadi US$ 16,3 miliar atau 1,8 persen dari PDB di 2016.

Surplus neraca perdagangan meningkat karena penurunan impor yang lebih besar dibandingkan dengan penurunan ekspor. Meskipun demikian, laju penurunan impor di 2016 tidak sedalam pada 2015 sejalan dengan membaiknya perekonomian domestik. “Demikian pula halnya dengan laju penurunan ekspor yang tidak sedalam tahun sebelumnya karena didukung meningkatnya harga komoditas global,” ujar Tirta Segara, Jubir BI.

Ke depan, kata Tirta, Bank Indonesia akan terus mewaspadai perkembangan global, khususnya risiko terkait arah kebijakan AS dan China serta meningkatnya harga minyak dunia, yang dapat memengaruhi kinerja neraca pembayaran secara keseluruhan.

Komentar

Artikel Lainnya
Rabu 06 September 2017 | 06:00 WIB
Bullish Vs Bearish

Pertarungan antara banteng dan beruang semakin sengit. Selain aset safe haven masih ada saham yang patut…

Senin 12 Oktober 2015 | 10:11 WIB
Bom Waktu Skandal VW

Terjerat skandal emisi, VW berusaha untuk tegar. Namun otoritas Jerman tetap ketar-ketir karena industri otomotif merupakan…

Senin 12 Desember 2016 | 20:46 WIB
Menunggu Dampak Boikot

Sempat ada seruan boikot terhadap Sari Roti ketika manajemen mengatakan mereka tidak terlibat dalam Aksi Super Damai 212.

Senin 15 Agustus 2016 | 21:11 WIB
Senang Indonesia

Menjadi pemimpin Toshiba Corporation untuk kawasan Asia  Pacific, Doko akan  fokus melanjutkan  usaha baru…

Senin 19 Desember 2016 | 20:51 WIB
Nanti Dulu, Belum Tentu Naik

Naiknya harga minyak membuat APBN 2017 harus direvisi. Tapi, menteri keuangan menilai kenaikan pada 2017 itu masih…