Sabtu, 21 Oktober 2017

Duh Pertamina

Kaltim Post PROKAL.co

Duh Pertamina

Oleh: Budi Kusumah - Senin 13 Pebruari 2017 | 12:26 WIB

Pencopotan Dwi Soetjipto, sebagai Direktur Utama PT Pertamina, sampai hari ini masih mengundang pertanyaan. Apa sebenarnya penyebab dilengserkannnya eksekutif nan sederhana ini? Korupsi? Jelas, tidak. Dwi yang lahir di Surabaya 62 tahun lalu ini juga dikenal taat atasan. Tak pernah membantah.

Dilihat dari sudut prestasi, juga tak mengecewakan. Laba bersih Pertamina 2016 mencapai Rp 40 triliun atau sekitar US$ 3 miliar. Tahun ini pertama kalinya Pertamina bisa mengalahkan Petronas.

Pencapaian tersebut masih bersifat sementara karena total aset yang dimiliki Pertamina masih sepertiga aset yang dimiliki Petronas. Untuk itu, investasi jangka panjang masih perlu dilakukan untuk bisa mempertahankan kinerja positif perusahaan.

Selain peningkatan investasi, efisiensi diyakini masih akan memberikan dampak positif bagi perusahaan. Hingga November tahun 2016, Pertamina mampu mencatatkan efisiensi sebesar US$2,8 miliar. Sementara pada 2015 hanya sebesar US$ 800 juta.

Strategi peningkatan sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta badan terkait lainnya juga diharapkan bisa membantu perusahaan pelat merah tersebut dalam mencapai target.

Salah satu yang tengah dikejar adalah sinergi melalui pembentukan holding migas dengan masuknya PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) sebagai bagian dari Pertamina. Selain itu juga bentuk sinergi dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dam Gas (SKK Migas) yang menjadi mitra dalam pengawasan kegiatan eksplorasi dan produksi.

Singkat kata, di bawah kepemimpinan Dwi, masa depan Pertamina terlihat jelas. Tak ada yang abu-abu. Lantas kenapa dilengserkan? Alasan Tanri Abeng, Komisaris Utama Pertamina, juga nyaris tak masuk akal. Kata dia, Dwi tak memiliki kecocokan dengan Wakilnya, Ahmad Bambang. Sehingga tak ada kominukasi yang baik dan mengakibatkanpada kelambatan pengambilan keputusan.

Kalau alasan ini yang dipakai  benar-benar aneh. Sebab, di Pertamina, posisi wakil direktur utama merupakan jabatan baru. Jabatan ini ‘diapksakan’ ada pada akhir tahun lalu. Nah, kalau penyebabnya memang masalah kemacetan komunikasi, kenapa jabatan wakil direktur utama ini tidak dihapuskan lagi?

Bukan apa-apa, ini menunjukan pengangkatan jabatan Wadirut Pertamina telah gagal dan mengganggu kinerja yang sudah tercipta. Jadi, yang paling gampang sebenarnya copot salah satu yang mengganggu. Jangan dua-duanya.

Apalagi Pertamina saat ini sedang mengahadapi tugas berat yakni menciptakan BBM satu harga di seluruh Nusantara. Dan yang penting, di tangan Dwi BUMN ini bisa tetap untung, sementara subsidi BBM makin mengecil. Itu salah satunya berkat pemasaran BBM jenis  pertalite.

Makanya, pencopotan yang tak genah ini mengundang prasangka buruk. Ini karena pemerintah atau siapapun yang merasa dirugikan, ingin mengganti Dwi Soetjipto dengan sosok lain.

Komentar

Artikel Lainnya
Rabu 01 Maret 2017 | 11:49 WIB
Pelayanan Bak Apotek 24 Jam, Jokowi Apresiasi Petugas Pajak

Program pengampunan pajak atau tax amnesty sudah berjalan selama 8 (delapan) bulan. Bulan ini menjadi bulan terakhir program…

Senin 08 Agustus 2016 | 21:20 WIB
BISI, Menanam Jagung Menuai Gain

Saham BISI masih mendapat rekomendasi beli dari para analis. Pernjualan bibit jagung dan agrokimia andalannya, diprediksi…

Senin 23 Mei 2016 | 21:11 WIB
Ruang untuk Kongkalikong

Sejak awal megaproyek listrik 35.000 megawatt (MW) sudah jadi perdebatan. Bahkan, muncul berbagai kritikan karena Indonesia…

Senin 13 Pebruari 2017 | 12:36 WIB
Kino Akuisisi Ristra

Perusahaan consumer goods, PT Kino Indonesia Tbk (KINO), mengakuisisi 80% saham Ristra Group. Setelah akuisisi…

Senin 04 April 2016 | 20:55 WIB
HEBOH UTANG US$ 3 M

Dana hasil utang dari China Development Bank sebesar US$ 3 miliar sebagian besar mengalir ke industry manufaktur. Padahal,…