Kamis, 14 Desember 2017

Duh Pertamina

Kaltim Post PROKAL.co

Duh Pertamina

Oleh: Budi Kusumah - Senin 13 Pebruari 2017 | 12:26 WIB

Pencopotan Dwi Soetjipto, sebagai Direktur Utama PT Pertamina, sampai hari ini masih mengundang pertanyaan. Apa sebenarnya penyebab dilengserkannnya eksekutif nan sederhana ini? Korupsi? Jelas, tidak. Dwi yang lahir di Surabaya 62 tahun lalu ini juga dikenal taat atasan. Tak pernah membantah.

Dilihat dari sudut prestasi, juga tak mengecewakan. Laba bersih Pertamina 2016 mencapai Rp 40 triliun atau sekitar US$ 3 miliar. Tahun ini pertama kalinya Pertamina bisa mengalahkan Petronas.

Pencapaian tersebut masih bersifat sementara karena total aset yang dimiliki Pertamina masih sepertiga aset yang dimiliki Petronas. Untuk itu, investasi jangka panjang masih perlu dilakukan untuk bisa mempertahankan kinerja positif perusahaan.

Selain peningkatan investasi, efisiensi diyakini masih akan memberikan dampak positif bagi perusahaan. Hingga November tahun 2016, Pertamina mampu mencatatkan efisiensi sebesar US$2,8 miliar. Sementara pada 2015 hanya sebesar US$ 800 juta.

Strategi peningkatan sinergi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta badan terkait lainnya juga diharapkan bisa membantu perusahaan pelat merah tersebut dalam mencapai target.

Salah satu yang tengah dikejar adalah sinergi melalui pembentukan holding migas dengan masuknya PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) sebagai bagian dari Pertamina. Selain itu juga bentuk sinergi dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dam Gas (SKK Migas) yang menjadi mitra dalam pengawasan kegiatan eksplorasi dan produksi.

Singkat kata, di bawah kepemimpinan Dwi, masa depan Pertamina terlihat jelas. Tak ada yang abu-abu. Lantas kenapa dilengserkan? Alasan Tanri Abeng, Komisaris Utama Pertamina, juga nyaris tak masuk akal. Kata dia, Dwi tak memiliki kecocokan dengan Wakilnya, Ahmad Bambang. Sehingga tak ada kominukasi yang baik dan mengakibatkanpada kelambatan pengambilan keputusan.

Kalau alasan ini yang dipakai  benar-benar aneh. Sebab, di Pertamina, posisi wakil direktur utama merupakan jabatan baru. Jabatan ini ‘diapksakan’ ada pada akhir tahun lalu. Nah, kalau penyebabnya memang masalah kemacetan komunikasi, kenapa jabatan wakil direktur utama ini tidak dihapuskan lagi?

Bukan apa-apa, ini menunjukan pengangkatan jabatan Wadirut Pertamina telah gagal dan mengganggu kinerja yang sudah tercipta. Jadi, yang paling gampang sebenarnya copot salah satu yang mengganggu. Jangan dua-duanya.

Apalagi Pertamina saat ini sedang mengahadapi tugas berat yakni menciptakan BBM satu harga di seluruh Nusantara. Dan yang penting, di tangan Dwi BUMN ini bisa tetap untung, sementara subsidi BBM makin mengecil. Itu salah satunya berkat pemasaran BBM jenis  pertalite.

Makanya, pencopotan yang tak genah ini mengundang prasangka buruk. Ini karena pemerintah atau siapapun yang merasa dirugikan, ingin mengganti Dwi Soetjipto dengan sosok lain.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 23 Mei 2016 | 21:06 WIB
KESETRUM PROYEK LISTRIK

Proyek pembangkit listrik 35.000 MW hampir dipastikan molor dari jadwal, bahkan terancam gagal. Hubungan Kementerian ESDM…

Senin 10 Oktober 2016 | 23:27 WIB
Belum Tentu Jadi Kredit

Dana amnesti pajak tahap I mulai memenuhi laci bank. Tapi jangan harap suku bungan bakal segera turun dan kredit akan mengucur…

Rabu 21 Oktober 2015 | 18:03 WIB
Kucuran Kredit Masih Akan Seret

Sejumlah bank mulai giat memangkas suku bunga pinjaman maupun kredit. Tapi standar Basel III bakal membatasi ruang gerak…

Senin 24 Oktober 2016 | 19:50 WIB
PGE yang Menawan

Saat ini kondisi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) sudah bagus dan progresif di bawah naungan Pertamina.

Senin 30 Mei 2016 | 21:22 WIB
Matahari Bersinar Menjelang Lebaran

Hari raya umat muslim yang segera datang, diperkirakan akan mendongkrak pendapatan Matahari Department Store. Sahamnya masih…