Selasa, 10 Desember 2019 | Jakarta, Indonesia

Penantian Yang Masih Panjang

Bambang Aji Setiady

Rabu, 24 Juli 2019 - 17:02 WIB

Ilustrasi saham turun oleh AReview Design
Ilustrasi saham turun oleh AReview Design
A A A

Majalahreviewweekly.com - Perlahan tapi pasti, investor asing mulai ke luar dari Bursa Efek Indonesia. Itu terlihat dari semakin menipisnya nilai efek yang ditransaksikan serta kian kerapnya asing mencatatkan net sell. Seperti yang terjadi Rabu ini (24/7), asing mencatatkan net sell Rp110,59 miliar. Ini merupakan hari keenam investor asing melakukan jual bersih secara beruntun.

Jadi, jangan kaget bila indeks harga saham gabungan (IHSG) kembali melemah. Hingga akhir perdagangan, indeks ditutup di level 6.384,99 atau melemah 18,82 poin (0,29%) dibandingkan dengan penutupan Selasa kemarin. Selain didorong aksi jual asing, pelaku pasar juga masih menunggu rilis data manufaktur dan servis PMI AS yang akan ke luar malam ini. Dari situlah pelaku pasar bisa menduga kebijakan yang akan diambil The Fed pekan depan.

Banyak analis yang menduga, aksi jual oleh investor asing ini akan terus berlangsung hingga  rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selesai 31 Juli, pekan depan. Alasannya masih klise, investor cenderung berhati-hati setiap mejelang rapat FOMC. Mereka lebih suka mengamankan kekayaannya dalam bentuk cash. Apalagi, untuk kedua kalinya, IMF kembali memangkas pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 0,1% menjadi 3,2%.

Sebenarnya hari ini ada kabar baik yang bisa mendongkrak indeks. Kabar itu menyebutkan, awal pekan depan AS dan China akan kembali menggelar perundingan yang macet sejak Mei lalu. Sebagian bursa dunia merespon positif kabar baik ini. Di New York, indeks S & P 500 menguat 0,7% pada Selasa kemarin. Sementara indeks utama di bursa China menguat lebih dari 1% pada Rabu pagi.  

Tapi, entah kenapa, indeks di BEI justru melemah. Boleh jadi, pelemahan ini akan berlanjut ke perdagangan Rabu besok. Sebab, jika data manufaktur dan servis PMI AS lebih rendah dari prediksi, itu akan menekan indeks di bursa Wall Street. Sementara dari dalam negeri belum ada baik yang dapat mengangkat indeks. Itu sebabnya, para analis memperkirakan besok indeks masih akan melemah.

Seperti halnya indeks, nilai tukar rupiah di pasar spot juga cukup menyedihkan. Kendati tidak terlalu besar, hari ini rupiah melemah 0,08% ke level Rp13.997 per dolar. Sejatinya, memang, dolar sedang naik daun setelah pemerintah dan kongres AS menyepakati batas pagu utang untuk dua tahun ke depan. Peningkatan pinjaman pemerintah AS ini diduga akan memperketat pasokan uang ke  sistem perbankan sehingga mendorong penguatan dolar.

Kemungkinan European Central Bank memangkas suku bunganya sebesar 10 bps, Rabu besok (25/7), juga membuat dolar menguat terhadap sejumlah mata uang dunia. Dolar semakin diuntungkan karena pelaku pasar begitu yakin The Fed tidak akan memangkas suku bunganya secara agresif. “Untuk itu, rupiah akan melanjutkan pelemahannya Rabu besok,” ujar Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka. Ia memperkirakan, rupiah akan bergerak di rentang Rp13.965 - Rp14.050 per dolar.

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…