Sabtu, 21 Oktober 2017

Menjaga Panas Batubara

Dok. Review

Menjaga Panas Batubara

Oleh: Nikita Jagad - Kamis 17 Agustus 2017 | 17:30 WIB

Produksi batubara China susut banyak. Ini karena terjadi penutupan belasan tambangnya.

Harga batubara makin memanas. Untuk kontrak pengiriman September 2017 di ICE Futures sempat terkerek 0,48% ke level US$ 93,55 per metrik ton. Ini berarti, dalam sepekan, harganya sudah melambung 2,12% atau rekor bisa dibilang merupakan rekor tertingga sejak Februari 2013.

Sentimen positif bagi batubara datang dari China. Harga komoditas ini menguat lantaran hasil produksi batubara China Juli lalu susut 7,9% menjadi 9,5 juta ton per hari. Ini jadi penurunan tertinggi dalam 19 bulan terakhir.

Tren kenaikan ini diperediksi masih akan berlangsung beberapa waktu ke depan. Sebab, China juga memberlakukan inspeksi keselamatan pertambangan serta pemeriksaan dampak lingkungan pertambangan terhadap alam sekitar. Sejumlah tambang lama yang tidak efisien dan melanggar regulasi pun ditutup.

Menurut National Energy Administration (NEA), hingga Juli 2017, China telah menutup lima tambang batubara. Hingga akhir tahun, bakal ada tujuh tambang lagi di Provinsi Heilongjiang yang ditutup. Hal ini, jelas, berpotensi mengurangi suplai batubara.

Makanya, beberapa  analis meramalkan, hingga akhir tahun ini harganya bisa menyentuh US$ 100 per metrik ton. Menurut mereka,  saat ini cukup minim sentimen negatif yang bisa menahan penguatan harga.  “Potensi kenaikan sampai akhir tahun masih terbuka,” ujarnya.

Secara teknikal harga batubara sudah berada di atas garis moving average (MA) 50, MA 100 dan MA 200. Indikator moving average convergence divergence (MACD) bergulir di area positif menunjukkan potensi penguatan masih terbuka. Hanya saja indikator relative strength index (RSI) yang sudah berada di level 69 dan stochastic di level 88, sudah menunjukkan pergerakan di area jenuh beli (overbought). Artinya, untuk sementara, harganya rawan terkoreksi.

Namun demikian, saham-sahamnya  masih layak diperhatikan. Belakangan ini, pergerakan saham di sektor tersebut kembali lincah, terdorong penguatan harga komoditasnya.

Saham kontraktor batu bara PT Delta Dunia Makmur (DOID), misalnya, sepanjang tahun ini telah naik sekitar85% menjadi Rp 945 (17/8).

Begitu juga saham sejumlah produsen batubaraan cukup konsisten bertengger di zona hijau. Misalnya saja saham PT Bukit Asam (PTBA) dan PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Tak ketinggalan, PT United Tractors Tbk (UNTR) juga masih bergerak positif, dengan kenaikan harga 42,7% sepanjang tahun ini.

Tak bisa disangkal lagi, rally yang terjadi pada saham-saham batubara disebabkan oleh kenaikan sentimen global.  Kenaikan harga tersebut didorong sentimen dari China, yang segera memasuki musim dingin.

Datangnya musim dingin akan membuat sungai membeku. Akibatnya, pembangkit listrik tenaga air tak berfungsi. Sebagai alternatif, batubara menjadi solusinya.

Di sisi lain, kondisi cuaca di dalam negeri juga sedang cerah. Musim kemarau yang berlangsung sejak Juni akan memberi keuntungan untuk sektor pertambangan. Pasalnya, aktivitas penambangan menjadi lebih mudah. Hal ini akan membuat volume produksi meningkat, diikuti dengan stabilitas harga batubara.

Itu sebabnya, ke depan saham-saham batubara makin meyakinkan untuk tetap menguat. Efek Indo Tambangraya Megah  alias ITMG misalnya, untuk jangka pendek masih akan menguat ke Rp 21.725. Artinya, jangka pendek, masih ada peluang untuk tumbuh sebesar 6%.

Sementara saham Adaro Energy (ADRO) dijagokan bakal menguat ke Rp 2.425 atau masih ada rentang penguatan sebesar 29% Sementara itu, analis juga merekomendasikan buy saham DOID, dengan target harga Rp 1.500. Dan PTBA juga menjadi pilihan dengan target harga Rp 17.600.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 18 April 2016 | 23:31 WIB
Bank, Liriknya Para Nelayan

Meski potensinya besar, kredit ke sektor kelautan dan perikanan hanya 0,5% dari kredit perbankan nasional.  Makanya,…

Senin 21 Maret 2016 | 22:27 WIB
Ketika Online Mulai Merajai Jalanan

Taksi dengan layanan online akan diresmikan oleh pemerintah. Ini ancaman bagi taksi konvensional.

Senin 15 Pebruari 2016 | 22:24 WIB
Pelni Beli Kapal Pesiar Pertama

PT Pelni (Persero) tahun ini berencana memiliki kapal pesiar dengan kapasitas 300 penumpang.

Rabu 25 Januari 2017 | 15:11 WIB
OJK: Indeks Literasi Keuangan Indonesia Meningkat

Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) kedua yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2016…

Senin 31 Oktober 2016 | 21:29 WIB
Bertahan di Level Psikologis

Indeks diperkirakan masih akan bergerak mixed. Hampir mendekati jenuh beli, memang. Namun, masih tersisa…