Kamis, 14 Desember 2017

Hari ini Menguat, Entah Besok

Hari ini Menguat, Entah Besok

Oleh: Bastaman - Senin 09 Oktober 2017 | 21:51 WIB

Rupiah diselamatkan isu geopolitik. Apiknya penampilan ekonomi Amerika dan ketidakpastian di Eropa tetap menjadi ancaman serius buat rupiah.

Kalau melihat eloknya data perekonomian Amerika, di awal pekan ini sudah semestinya kurs rupiah memasuki tren pelemahan. Apalagi Janet Yellen, Gubernur The Fed, sudah memberi aba-aba untuk kembali mengerek tingkat suku bunganya. Tapi, nanti dulu, apiknya data ekonomi Amerika tak berarti dolar akan langsung menguat. Sebab, masih banyak hal yang dapat menghambat pergerakan si greenback.

Salah satu faktor penghambat penguatan dolar itu datang dari Semenanjung Korea. Gara-gara Korea Utara dikabarkan sedang mempersiapkan uji coba rudal terbaru, indeks dolar (yang mengukur kekuatan kurs dolar terhadap sejumlah mata uang utama) langsung melemah terhadap sejumlah mata uang dunia, termasuk rupiah. Seperti kita saksikan, hari ini (Senin, 9/10) nilai tukar rupiah di pasar spot menguat 5 poin (0,04%) ke level Rp 13.514 per dolar.

Sebenarnya, isu uji coba rudal bukanlah hal baru karena kerap dilontarkan pemerintahan Korea Utara untuk menggertak Amerika. Itu sebabnya,   sejumlah analis menduga, penguatan yang terjadi pada rupiah hari ini bersifat sementara. Dengan kata lain, besok atau lusa dolar berpeluang untuk kembali menguat. Apalagi, saat ini mata uang Amerika itu tengah disesaki sejumlah sentimen positif.

Itu sebabnya, tidak aneh bila pelaku di pasar uang bersikap pesimistis. Mereka begitu yakin, posisi rupiah akan cenderung tetap berada di atas Rp 13.500 per dolar. Apalagi, menurut Rully Arya, ekonom Bank Mandiri, saat ini benua Eropa tengah dilanda ketidakpastian. “Masalah referendum Catalunya melemahkan kurs euro dan membuat dolar terus menguat atas mata uang lainnya,” ujarnya.

Gejala inilah yang patut dicermati. Maklum, bila dolar terus menguat, bukan tidak mungkin para investor akan menarik dananya dari pasar dan kembali beralih ke aset dolar. Apalagi tak sedikit dana asing yang beredar di sini adalah investasi jangka pendek, yang sewaktu-waktu bisa terbang. Nah, bila itu terjadi, bukan hanya rupiah yang akan loyo, harga saham dan obligasi negara pun bisa rontok.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 18 Juli 2016 | 20:16 WIB
Medco Kinclong Karena Newmont

Diharapkan, akuisisi yang dilakukan Medco, akan memperbaiki kinerja perseroan. Sahamnya, oleh sebagian analis, mendapat…

Minggu 06 September 2015 | 12:59 WIB
Jangan Sampai Kita Terbuai (LAPUT BOM KRISIS DARI MALAYSIA Bagian 4)

Jangan terlalu mabuk dengan segala pujian. Kita harus ingat sebelum terjadi krisis 1998, banyak pujian dilontarkan…

Senin 18 April 2016 | 23:41 WIB
Kinclongnya Bisnis Perkakas

Kinerja Ace Hardware diprediksi akan makin mengilat. Itu sebabnya, analis menaikkan rekomendasi sahamnya.

Senin 13 Pebruari 2017 | 10:58 WIB
Pemerintah Serius Garap KEK Mandalika

Pemerintah memberikan perhatian serius terhadap pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, di Lombok Tengah, Nusa…

Senin 19 September 2016 | 21:57 WIB
Penguasa Gas Industri di Lantai Bursa

Perusahaan yang nyaris monopoli ini, penguasa pasar di gas industri. Sayang, belum ada perusahaan sejenis sebagai pembandingnya.