Kamis, 14 Desember 2017

Menunggu Pertemuan FOMC

Dok. Review

Menunggu Pertemuan FOMC

Oleh: Bastaman - Selasa 10 Oktober 2017 | 16:46 WIB

Isu geopolitik dan perseteruan Trump dengan rekannya dari Parta Republik membuat dolar terkulai. Tapi Rabu besok mungkin situasinya akan berubah.  

Untuk sementara, para petinggi di Bank Indonesia (BI) bisa bernapas lega. Soalnya, hari ini (Selasa, 10/10) nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menunjukkan sedikit penguatan. Tidak banyak, memang, hanya naik 6 poin (0,04%) ke level Rp 13.512 per dolar. Sementara kurs tengah BI menguat 13 poin dari Rp 13.504 ke posisi Rp 13.491.

Masih sama dengan Senin kemarin, faktor utama yang membuat rupiah menguat adalah rencana uji coba rudal Korea Utara. Seperti dikutip oleh kantor berita RIA Rusia, seorang anggota parlemen Rusia yang kembali dari kunjungannya ke Pyongyang mengatakan bahwa rudal tersebut dapat mencapai pantai Barat Amerika. “Ketika berita itu sampai di pasar, greenback langsung melemah,” ujar Stephen Innes, Kepala Perdagangan Asia Pasifik untuk Oanda.

Selain itu, pelemahan dolar ternyata juga didorong oleh perselisihan antaran Presiden Donald Trump dengan rekannya dari Partai Republik, Senator Bob Corker. Yang jadi soal, perselisihan ini dapat mengancam reformasi perpajakan yang digagas Trump. Maklum, Corker merupakan pemain kunci dalam debat perpajakan. Selain itu, perselisihan ini juga dapat menjauhkan Trump dari anggota Partai Republik penting lainnya, seperti Senator John McCain.

Ketegangan diplomatik antara Amerika dengan Turki pun dianggap ikut memancing para investor untuk melepas dolar. Tapi, menurut Jameel Ahmad, Vice President Market Research FXTM,  ketegangan polik itu tidak akan berpengaruh besar terhadap negara-negara berkembang seperti Indonesia. “Ini soal politik di antara kedua negara,” ujarnya.

Kalaulah ada peristiwa yang dapat menekan rupiah, lanjut Ahmad, itu datang dari rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar pada Rabu malam (11/10). “Apabila FOMC mengindikasikan kembali dinaikannya fed fund rate (FFR) pada akhir 2017, ini menjadi sentimen menguatnya dolar dan berpotensi menekan rupiah,” ujarnya.

Komentar

Artikel Lainnya
Selasa 25 April 2017 | 13:28 WIB
OJK: Pertumbuhan Industri Dana Pensiun Masih Lambat

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya untuk meningkatkan pertumbuhan industri Dana Pensiun sehingga mampu memberikan…

Selasa 22 Agustus 2017 | 10:00 WIB
Rugi PLN Karena 10.000 MW

Indonesia itu, ironis sekali. Sumber energi begitu berlimpah di sini.

Rabu 21 Oktober 2015 | 19:08 WIB
Meja Panas Renegosiasi

Setiap tahun, negara ini rugi ratusan triliunan rupiah karena tidak berhasil memungut royalti dari 37 perusahaan tambang…

Senin 02 Mei 2016 | 21:21 WIB
Meneropong Saham BCA

BCA merupakan bank yang paling siap menurunkan kredit. Itu berkat keberhasilan manajemen adalah melakukan efisiensi.

Senin 20 Juni 2016 | 23:09 WIB
Nusantara Sehat untuk Masyarakat di Daerah

Bupati Kabupaten Nias Sokhiatulo Laoli menjamin terlaksananya program Nusantara Sehat (NS) dengan menciptakan suasana yang…