Kamis, 14 Desember 2017

Geliat Bisnis Animasi

Riset

Geliat Bisnis Animasi

Oleh: Satrio Adi Nugroho - Rabu 11 Oktober 2017 | 19:47 WIB

Di balik pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia, terselip  industri animasi. Industri ini, bisa dibilang tumbuh subur di Tanah Air. Apalagi digawangi anak-anak muda kreatif. Yogyakarta, menjadi salah satu basis pertumbuhan industri tersebut dan dinilai cukup potensial mendukung laju perekonomian nasional maupun daerah.

Jangan heran, bila Pemerintah Daerah Yogyakarta gencar memasarkan industri animasi karena potensi bisnisnya cukup besar.  Menurut Asisten Bidang Ekonomi, Sekretariat Daerah, Pemda DIY, Didik Purwadi, potensi besar pengembangan industri animasi itu telah ditunjukkan dengan munculnya produk animasi asal Yogyakarta, yakni film animasi Battle of Surabaya dan Ajisaka. 

Film animasi Battle of Surabaya  dipasarkan melalui jaringan distribusi Walt Disney Motion Pictures Group (The Walt Disney Company). Biaya produksi pembuatan film animasi yang dikembangkan Kampus AMIKOM Yogyakarta itu tidaklah sedikit dengan nilai jual antara US$ 10 juta hingga US$ 20 juta. Selain itu, ada juga Tatsumi, The Escape, dan Lakon Pada Suatu Ketika yang diunggah di Youtube.

Menurut Didik, industri animasi juga akan menjadi peluang bagi pengusaha lokal untuk bersaing di era pasar bebas ASEAN. Potensi industri animasi itu, diyakini mampu mengentaskan pengangguran dan kemiskinan di Yogyakarta. “Potensi lapangan kerja yang diciptakan industri kreatif, termasuk di bidang animasi cukup besar,” katanya.

Asal tahu saja, industri  animasi Indonesia sudah mengalami banyak kemajuan.  Tawaran order dari negara-negara Eropa juga sudah berdatangan.  Yang menarik, sebagian dari order tersebut  adalah dari produsen film-film besar dari Eropa dan Amerika Serikat. Jangan heran, bila studio-studio animasi telah berkembang sangat cepat, seperti di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Batam.

Menurut data dari Kementerian Perindustrian, saat ini terdapat lebih dari 100 studio animasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan nilai ekspor subsektor film, video, fotografi, dan animasi pada 2010 mencapai Rp595 miliar dan terus mengalami peningkatan pada 2016 menjadi sebesar Rp1,3 triliun.

Wakil Ketua Umum Kadin bidang MICE dan Industri Kreatif, Budiarto Linggowijono sebulan yang lalu sempat mengusulkan agar bidang usaha animasi dan multimedia dibuka bagi penanaman modal asing. Investasi asing yang akan masuk ini bukan hanya sebatas menyetor modal, tetapi juga mencakup transfer pengetahuan (transfer knowledge).

Dengan masuknya asing di industri animasi dan multimedia, Indonesia akan memiliki daya saing tinggi di bidang industri kreatif berbasis teknologi informasi. Selain itu, sokongan modal asing juga dapat membantu industri kreatif dalam negeri bertahan hidup. Derasnya investasi di sektor ini dapat mencegah tenaga ahli multimedia dan animasi domestik pindah ke luar negeri.

Asal tahu saja, dengan jumlah penduduk 263 juta jiwa dan kelas menengah mencapai 30% serta  rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 5%, jelas pasar Indonesia begitu menggiurkan. Apalagi bila dikaitkan dengan  pertumbuhan pasar industri media dan hiburan Indonesia yang juga sangat pesat. Saat ini terdapat 826 layar bioskop, 13 terrestrial TV, 12 networking TV, dan 20 TV berbayar. Alhasil, potensi ini menjadi ladang subur bagi industri animasi Indonesia.

 

 

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 21 Nopember 2016 | 22:27 WIB
Penjualan Multi Bintang Naik 34,7%

Tak selamanya rintangan bisnis menjadi hambatan bagi sebuah perusahaan untuk menggenjot pendapatan. Paling tidak, hal ini…

Senin 22 Agustus 2016 | 00:35 WIB
Merger (Untuk Sementara) Batal

Lupakan soal merger. Saham Kimia Farma dan Indofarma sama-sama menawan.

Senin 30 Mei 2016 | 19:51 WIB
Kita Bukan Negara Kaya Minyak

Indonesia bukan lagi negara kaya minyak bumi. Ayo, cari dan manfaatkan energi altenatif.

Senin 17 Oktober 2016 | 20:22 WIB
Siap Menguat Lagi

Indeks diprediksi akan melanjutkan penguatannya. Masih banyak saham yang layak dipilih investor.

Senin 12 Oktober 2015 | 21:46 WIB
Harapan Baru Gula Indonesia

Untuk menekan angka impor gula, sejumlah pabrik didirikan. Rencananya ada 14 pabrik.