Kamis, 14 Desember 2017

Tergantung, Taylor atau Powell

Dok. Review

Tergantung, Taylor atau Powell

Oleh: Bastaman - Kamis 26 Oktober 2017 | 19:28 WIB

Dalam jangka pendek ini, nikai tukar rupiah berpeluang melemah. Trump dikabarkan akan segera mengumumkan nama bos The Fed yang baru.

Angin segar bertiup dari Amerika. Hari ini (Kamis, 26/10) indeks dolar, yang mengukur kekuatan nilai tukar dolar terhadap sejumlah mata uang utama, melemah 0,15% ke level 93,571. Seperti biasa, jika indeks dolar melemah, maka sejumlah mata uang dunia akan menguat terhadap dolar. Tak terkecuali rupiah.

Dan, betul saja, hari ini sejumlah mata uang di kawasan Asia menguat terhadap dolar. Begitu pula dengan rupiah. Hari ini kurs tengah BI dan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) masing-masing menguat 10 poin (0,07%) ke level Rp 13.560 per dolar. Sayang, kurs rupiah di pasar spot justru melemah 9 poin (0,07%) ke level Rp 13.587.

Keyakinan pasar bahwa European Central Bank (ECB) akan mengurangi stimulus pembelian obligasi (tapering), pada rapat kebijakan moneter ECB Kamis ini, diduga jadi pemicu melemahnya dolar. “Hampir dipastikan ECB akan melakukan tapering, sehingga investor merasa yakin pegang euro,” kata riset tim analis Monex Investindo Future.

Hanya saja, seorang analis pasar uang menyarankan investor tetap bersikap ekstra hati-hati. Soalnya, tak lama lagi Presiden Donald Trump akan mengumumkan bos baru The Fed sebagai pengganti Janet Yellen. Dikabarkan pula, Trump telah meminta pendapat anggota senat dari Partai Republik tentang siapa yang pantas menempati pos Gubernur The Fed pada Februari 2018.

Seperti diketahui, saat ini kandidat Gubernur The Fed telah mengerucut pada dua nama, yakni John Taylor (ekonom dari Stanford Univercity) dan Jerome Powell (anggota Dewan Gubernur The Fed). Yang perlu diwaspadai, konon, para senator Partai Republik memberi dukungan kepada Taylor  untuk menjabat Gubernur The Fed pada periode berikutnya.

Itu sebabnya, si analis tadi menyarankan agar pelaku pasar untuk bersikap realistis dengan tetap memegang dolar. Sebab, jika benar Trump memilih Taylor sebagai Gubernur The Fed yang baru, maka dalam jangka pendek diperkirakan dolar bakal menguat. Maklum, Taylor dikenal lebih hawkish karena pro kenaikan suku bunga lebih tinggi dari target saat ini.

Selain itu, tentu saja, pengumuman produk domestik bruto (PDB) Amerika triwulan III di akhir pekan ini masih akan menjadi faktor yang bakal ikut menentukan kuat tidaknya nilai tukar rupiah.

Komentar

Artikel Lainnya
Senin 18 April 2016 | 23:19 WIB
AGAKNYA LEBIH BAIK SENDIRI

Sinyal pemerintah Ibu Kota untuk mengganti sistem pengendalian lalu lintas kian jelas. Proyek electronic road pricing (ERP)…

Senin 30 Mei 2016 | 20:51 WIB
Rokok Kian Dijepit

Industri rokok kian dijepit di sana-sini. Bill Gates dan Bloomberg mendirikan lembaga anti tembakau untuk melawan perusahaan…

Senin 21 Nopember 2016 | 21:35 WIB
Alutsista Kita Makin Oke

Ketika mayoritas alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI masih diimpor, ternyata alutsista bikinan dalam negeri mulai…

Senin 15 Agustus 2016 | 20:43 WIB
Surat Pembaca Edisi 1-VI

Diluar perkiraan banyak pengamat ekonomi, perekonomian nasional tumbuh 5,18% pada kuartal II-2016.

Senin 02 Mei 2016 | 20:47 WIB
Nasib Taksi Online

Taksi berbasis aplikasi online memiliki payung hukum berupa Peraturan Menteri No. 32 tahun 2016. Nantinya, STNK mobil harus…