Selasa, 23 Juli 2019 | Jakarta, Indonesia

DARI INDONESIA, TERBESAR DI DUNIA (Lakshmi Mittal)

Sri Wulandari

Senin, 31 Agustus 2015 - 22:07 WIB

Lakshmi Mittal (Foto: luxpresso.com)
Lakshmi Mittal (Foto: luxpresso.com)
A A A

DALAM dunia industri baja, nama Lakshmi Mittal atau juga dikenal sebagai Lakshmi Niwas Mittal bertengger di urutan pertama. Dia menjadi pengusaha baja terbesar di dunia, dengan jumlah kekayaan pribadi mencapai US$ 45 miliar. Simbolisasi kesuksesan Lakshmi yang kini bermukim di London, Inggris dan berkali-kali dinobatkan sebagai pria terkaya di London itu adalah saat dia membeli rumah termahal dalam sejarah, Kensington Mansion, senilai US$ 128 juta. 

Tak cuma itu saja, dia juga menikahkan putrinya, Vanisha pada 2012, dengan sebuah pesta pernikahan paling mewah di abad 20. Konon untuk pesta itu, dia menghabiskan dana US$ 50 juta. Pesta pernikahan Vanisha dirayakan selama 5 hari berturut-turut di Palace of Versailles, Hotel Bristol dan Jardin-des-Tuileries. Para tamu yang berjumlah sekitar 1.200 orang disediakan tempat menginap di Hotel Intercontinental di Paris selama pesta berlangsung. Undangannya yang berbahan perak setebal 21 halaman itu disertai cendramata berupa giok dan berlian. 

Tapi tahukah Anda, kerajaan bisnis Lakshmi justru dibangun di Indonesia pada 1976 silam? Ketika itu, Mohan, ayah Lakshmi mengajak keluarganya bermigrasi ke Calcutta, India. Di kota barunya ini, Mohan mendapat peluang mengubah nasib membuat usaha di bidang baja. Dan, inilah, rupanya awal Lakshmi berhubungan dengan usaha yang kini membesarkan namanya

Lakshmi yang lahir pada 2 September 1950 di Rajasthan menempuh pendidikan di St. Xavier’s College Calcutta. Di sela-sela waktunya belajar, dia membantu usaha ayahnya. Lakshmi membuktikan, bahwa pendidikannya tak sekadar teori. Ia pun lantas terlibat lebih jauh dengan usaha keluarganya di bisnis baja. Dia pun berpikir untuk mengembangkan usaha ayahnya tak hanya di India saja, tetapi meluas hingga ke manca negara.

Ketika dia meraih gelar Bachelor of Commerce Degree setamat kuliah, Lakshmi memutuskan hijrah dari Calcuta. Pertimbangannya karena India mengenakan pajak yang tinggi, hampir 97% serta adanya pembatasan kuota. Dengan membawa istri dan anaknya yang baru berumur 1 tahun, Lakshmi menuju Waru Sidoarjo, Surabaya. Di sini, dia mempunyai saudara perempuan yang menikah dengan warga Indonesia keturunan India dan bekerja di bidang tekstil.

Lakshmi melihat adanya peluang bisnis di Indonesia. Dia lalu membeli sebuah perusahaan yang nyaris bangkrut di Indonesia, Andra Steel, dan mengubah namanya menjadi Mittal Steel dengan bantuan Nur Saidah, wanita setempat yang kini menjabat sebagai pimpinan dari PT Ispat Indo, sebuah pabrik baja di bawah naungan Mittal Corporation. 

Selama 13 tahun, pabrik baja itu dikelola Lakshmi dengan kerja keras. Daerah Waru yang dulunya terbilang terpencil, perlahan menjadi maju. Pabrik yang kondisinya kembang-kempis itu kemudian digarap menjadi pabrik yang sehat, dengan kapasitas produksi 60.000 ton per tahun. 

Seiring waktu berjalan, pabrik itu mengalami peningkatan, sehingga mampu memproduksi baja 700.000 ton per tahun. “Banyak orang bekerja keras. Karena itu, jika ingin sukses kita harus bekerja lebih keras dan mendedikasikan diri pada tujuan yang ingin kita capai,” begitu katanya. 

PECAH KONGSI

Sayang, di saat usahanya tengah menanjak, pada 1994, terjadi perbedaan pendapat yang membuat usaha itu pecah. Lakshmi lantas memilih jalan membesarkan usahanya sendiri, tanpa melibatkan keluarga. Ia kemudian dibantu oleh istrinya, Usha. Dan, berkat tangan dinginnya bisnis Mittal Steel semakin berkembang dan merambah 17 negara. Ia juga menemukan sejumlah inovasi pengembangan usaha baja yang membuat pabriknya menjadi yang terbesar di dunia dengan jutaan ton produksi.

Pada 1994 pula, dia hijrah ke Trinidad dan Tobago. Di negara kepulauan yang terletak di pantai timur Amerika Tengah itu, ia mengakuisisi perusahaan baja milik pemerintah setempat, Iscoot, yang harganya jatuh. Dengan dibantu tim manajemen yang diterbangkan dari India, perusahaan baja itu jadi sehat kembali. Lalu, Lakshmi melakukan ekspansi ke Meksiko. Dia mengakuisisi Sicartsa, perusahaan baja milik pemerintah, yang dirundung masalah dengan harga hanya US$ 220 juta, padahal nilai investasinya mencapai US$ 2,2 miliar.

Nama perusahaan dia ubah menjadi Mittal Steel Lazaro Cardenas, dan menjadi tulang punggung produksi baja Kelompok Mittal Steel di seluruh dunia. Produksinya mencapai 6,7 juta ton per tahun. Sukses di Meksiko, dia mengakusisi perusahaan serupa di Kanada, Jerman, Irlandia, Inggris, Amerika Serikat, Kazakstan, dan Polandia. 

Di London, dia mendirikan kantor pusat dari seluruh jaringan usahanya. Dia juga mengakuisisi pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor, yang berlokasi di Luksemburg. Pabrik raksasa ini sebelumnya dimiliki bersama antara Pemerintah Prancis, Belgia, dan Spanyol. Pada 2006, dia mendirikan holding company dengan nama Arcelor-Mittal. Sebagaimana dilansir dari Time, Selasa (18/8), perusahaannya kini menjadi perusahaan baja terbesar di dunia dan menempatkan dirinya sebagai chief executive officer. 

Tak heran jika ia kemudian dianugerahi berbagai predikat dari berbagai lembaga dan media di dunia. Dari Majalah Fortune Eropa, ia diberi predikat European Businessman of the Year 2004. Selain itu, ia juga digelari the Willy Korf Steel Vision Award di 1998 oleh American Metal Market and PaineWeber’s World Steel Dynamics atas dedikasinya dalam industri baja. Majalah Forbes, New York, menempatkan Lakshmi Mittal di peringkat keempat orang terkaya di dunia. rw

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 37 menit yang lalu

Bappebti Hentikan Seminar Ilegal di Jogja

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan didampingi Korwas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Polda Yogyakarta menghentikan acara seminar yang tidak memiliki…

Business 49 menit yang lalu

Ekspor TPT Tahun Ini Ditargetkan USD15 Miliar

Sepanjang tahun ini, Kementerian Perindustrian menargetkan nilai ekspor dari industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dapat  menembus USD15 Miliar

Business 15 jam yang lalu

Kemenperin Usulkan Empat Strategi untuk TPT

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan empat strategi untuk memacu industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Business 17 jam yang lalu

Stainless Steel Indonesia Kena Bea Anti Dumping di China

China akan mengenakan bea impor baru bagi berbagai produk stainless steel dari Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia. Hal ini diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China sebagai tanggapan atas…

Business 17 jam yang lalu

Kontrak Kerja Sama WK Corridor Diperpanjang

Kontrak Bagi Hasil WK Corridor akan berlaku untuk 20 tahun, efektif sejak tanggal 20 Desember 2023 dan menggunakan skema Gross Split.

Business 19 jam yang lalu

Pertamina Libatkan Tim Asal AS Tangani Kebocoran Sumur Migas

Pertamina melibatkan berbagai pihak yang kredibel, kompeten dan berpengalaman dalam menangani munculnya gelembung gas di sumur migas lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java…

Business 20 jam yang lalu

Pemerintah Akan Lelang 7 Ruas Jalan Tol Senilai Rp151,13 Triliun

Kementerian PUPR akan melanjutkan pembangunan jalan tol dengan mendorong pendanaan dari investasi sektor swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pembangunan jalan tol diperlukan…

Business 23 jam yang lalu

Pegatron Mulai Operasikan Pabriknya di Batam

Pegatron telah menambah investasi sebesar USD40 juta untuk membangun pabrik di Batam.

Business 24 jam yang lalu

Runway 3 Bandara Soetta Siap Beroperasi Pertengahan Agustus

Secara teknis Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) siap beroperasi pada pertengahan Agustus 2019.

Business 22/07/2019 08:18 WIB

OJK Gelar Pertemuan Bilateral dengan Bank of Thailand

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan pertemuan bilateral dengan Bank of Thailand (BoT) di Bangkok, Jumat (19/7) dalam rangka penguatan kerja sama peran sektor jasa keuangan di kedua negara.