Minggu, 19 Mei 2019 | Jakarta, Indonesia

DARI INDONESIA, TERBESAR DI DUNIA (Lakshmi Mittal)

Sri Wulandari

Senin, 31 Agustus 2015 - 22:07 WIB

Lakshmi Mittal (Foto: luxpresso.com)
Lakshmi Mittal (Foto: luxpresso.com)
A A A

DALAM dunia industri baja, nama Lakshmi Mittal atau juga dikenal sebagai Lakshmi Niwas Mittal bertengger di urutan pertama. Dia menjadi pengusaha baja terbesar di dunia, dengan jumlah kekayaan pribadi mencapai US$ 45 miliar. Simbolisasi kesuksesan Lakshmi yang kini bermukim di London, Inggris dan berkali-kali dinobatkan sebagai pria terkaya di London itu adalah saat dia membeli rumah termahal dalam sejarah, Kensington Mansion, senilai US$ 128 juta. 

Tak cuma itu saja, dia juga menikahkan putrinya, Vanisha pada 2012, dengan sebuah pesta pernikahan paling mewah di abad 20. Konon untuk pesta itu, dia menghabiskan dana US$ 50 juta. Pesta pernikahan Vanisha dirayakan selama 5 hari berturut-turut di Palace of Versailles, Hotel Bristol dan Jardin-des-Tuileries. Para tamu yang berjumlah sekitar 1.200 orang disediakan tempat menginap di Hotel Intercontinental di Paris selama pesta berlangsung. Undangannya yang berbahan perak setebal 21 halaman itu disertai cendramata berupa giok dan berlian. 

Tapi tahukah Anda, kerajaan bisnis Lakshmi justru dibangun di Indonesia pada 1976 silam? Ketika itu, Mohan, ayah Lakshmi mengajak keluarganya bermigrasi ke Calcutta, India. Di kota barunya ini, Mohan mendapat peluang mengubah nasib membuat usaha di bidang baja. Dan, inilah, rupanya awal Lakshmi berhubungan dengan usaha yang kini membesarkan namanya

Lakshmi yang lahir pada 2 September 1950 di Rajasthan menempuh pendidikan di St. Xavier’s College Calcutta. Di sela-sela waktunya belajar, dia membantu usaha ayahnya. Lakshmi membuktikan, bahwa pendidikannya tak sekadar teori. Ia pun lantas terlibat lebih jauh dengan usaha keluarganya di bisnis baja. Dia pun berpikir untuk mengembangkan usaha ayahnya tak hanya di India saja, tetapi meluas hingga ke manca negara.

Ketika dia meraih gelar Bachelor of Commerce Degree setamat kuliah, Lakshmi memutuskan hijrah dari Calcuta. Pertimbangannya karena India mengenakan pajak yang tinggi, hampir 97% serta adanya pembatasan kuota. Dengan membawa istri dan anaknya yang baru berumur 1 tahun, Lakshmi menuju Waru Sidoarjo, Surabaya. Di sini, dia mempunyai saudara perempuan yang menikah dengan warga Indonesia keturunan India dan bekerja di bidang tekstil.

Lakshmi melihat adanya peluang bisnis di Indonesia. Dia lalu membeli sebuah perusahaan yang nyaris bangkrut di Indonesia, Andra Steel, dan mengubah namanya menjadi Mittal Steel dengan bantuan Nur Saidah, wanita setempat yang kini menjabat sebagai pimpinan dari PT Ispat Indo, sebuah pabrik baja di bawah naungan Mittal Corporation. 

Selama 13 tahun, pabrik baja itu dikelola Lakshmi dengan kerja keras. Daerah Waru yang dulunya terbilang terpencil, perlahan menjadi maju. Pabrik yang kondisinya kembang-kempis itu kemudian digarap menjadi pabrik yang sehat, dengan kapasitas produksi 60.000 ton per tahun. 

Seiring waktu berjalan, pabrik itu mengalami peningkatan, sehingga mampu memproduksi baja 700.000 ton per tahun. “Banyak orang bekerja keras. Karena itu, jika ingin sukses kita harus bekerja lebih keras dan mendedikasikan diri pada tujuan yang ingin kita capai,” begitu katanya. 

PECAH KONGSI

Sayang, di saat usahanya tengah menanjak, pada 1994, terjadi perbedaan pendapat yang membuat usaha itu pecah. Lakshmi lantas memilih jalan membesarkan usahanya sendiri, tanpa melibatkan keluarga. Ia kemudian dibantu oleh istrinya, Usha. Dan, berkat tangan dinginnya bisnis Mittal Steel semakin berkembang dan merambah 17 negara. Ia juga menemukan sejumlah inovasi pengembangan usaha baja yang membuat pabriknya menjadi yang terbesar di dunia dengan jutaan ton produksi.

Pada 1994 pula, dia hijrah ke Trinidad dan Tobago. Di negara kepulauan yang terletak di pantai timur Amerika Tengah itu, ia mengakuisisi perusahaan baja milik pemerintah setempat, Iscoot, yang harganya jatuh. Dengan dibantu tim manajemen yang diterbangkan dari India, perusahaan baja itu jadi sehat kembali. Lalu, Lakshmi melakukan ekspansi ke Meksiko. Dia mengakuisisi Sicartsa, perusahaan baja milik pemerintah, yang dirundung masalah dengan harga hanya US$ 220 juta, padahal nilai investasinya mencapai US$ 2,2 miliar.

Nama perusahaan dia ubah menjadi Mittal Steel Lazaro Cardenas, dan menjadi tulang punggung produksi baja Kelompok Mittal Steel di seluruh dunia. Produksinya mencapai 6,7 juta ton per tahun. Sukses di Meksiko, dia mengakusisi perusahaan serupa di Kanada, Jerman, Irlandia, Inggris, Amerika Serikat, Kazakstan, dan Polandia. 

Di London, dia mendirikan kantor pusat dari seluruh jaringan usahanya. Dia juga mengakuisisi pabrik baja terbesar di Eropa, Arcelor, yang berlokasi di Luksemburg. Pabrik raksasa ini sebelumnya dimiliki bersama antara Pemerintah Prancis, Belgia, dan Spanyol. Pada 2006, dia mendirikan holding company dengan nama Arcelor-Mittal. Sebagaimana dilansir dari Time, Selasa (18/8), perusahaannya kini menjadi perusahaan baja terbesar di dunia dan menempatkan dirinya sebagai chief executive officer. 

Tak heran jika ia kemudian dianugerahi berbagai predikat dari berbagai lembaga dan media di dunia. Dari Majalah Fortune Eropa, ia diberi predikat European Businessman of the Year 2004. Selain itu, ia juga digelari the Willy Korf Steel Vision Award di 1998 oleh American Metal Market and PaineWeber’s World Steel Dynamics atas dedikasinya dalam industri baja. Majalah Forbes, New York, menempatkan Lakshmi Mittal di peringkat keempat orang terkaya di dunia. rw

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 17/05/2019 15:30 WIB

Inalum Incar Kerja Sama Dengan Huayou

PT Inalum menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd., produsen terbesar di dunia untuk material baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik.

Money 17/05/2019 14:38 WIB

BI dan KSEI Teken Perjanjian Penyelesaian Transaksi SBK

SBK (dahulu disebut Commercial Paper) adalah sumber pendanaan jangka pendek non perbankan.

Business 17/05/2019 13:58 WIB

Utang Luar Negeri Triwulan I 2019 Tumbuh 7,9%

ULN Indonesia pada akhir triwulan I 2019 tercatat sebesar 387,6 miliar dolar AS yang terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 190,5 miliar dolar AS, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar…

Business 17/05/2019 12:48 WIB

Penyesuaian TBA Tiket Pesawat Berlaku Mulai Sabtu Besok

Penurunan Tarif Batas Atas (TBA) sebanyak 12 – 16 persen, sudah memperhatikan faktor-faktor substansial seperti keselamatan dan keamanan.

Business 17/05/2019 11:45 WIB

Menteri Jonan Bahas Blok Masela dengan Inpex

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Iganius Jonan kembali bertemu dengan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda di Tokyo, Kamis (16/5).

Business 17/05/2019 11:15 WIB

Inalum Jajaki Peluang Kerja Sama dengan Industri Logam di China

Menteri BUMN Rini M. Soemarno melakukan kunjungan singkat tiga hari ke China untuk bertemu dengan sejumlah CEO industri logam China guna mempercepat hilirisasi industri tambang.

Business 17/05/2019 10:45 WIB

Pasokan BBM Jalur Mudik Lintas Jawa Dipastikan Aman

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Penyalur Hilir Minyak dan Gas Bumi dan PT Pertamina (Persero) melakukan pemantauan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mendukung…

Business 17/05/2019 10:15 WIB

Kinerja APBN Hingga April Masih Aman

Di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang melemah, kebijakan countercyclical yang diambil Pemerintah dalam pengelolaan fiskal mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan capaian…

Business 17/05/2019 09:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Tersendat

Gejolak ekonomi global belakangan ini diprediksi bakal memukul banyak negara. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan lebih baik kemungkinan akan tersendat.

Business 17/05/2019 09:15 WIB

Kemenperin Bidik Investasi Elektronika Rp1,3 Triliun

Kementerian Perindustrian terus membidik investasi di sektor industri elektronika dan telematika.