Selasa, 23 Juli 2019 | Jakarta, Indonesia

Martin Winterkorn, CEO Volkswagen AG : Akhirnya Mundur

Sri Wulandari

Kamis, 08 Oktober 2015 - 19:49 WIB

autoevolurion
autoevolurion
A A A

KABAR mengejutkan datang dari industri otomotif.  Adalah Martin Winterkorn, chief executive officer  (CEO) Volkswagen AG yang membuat berita. Pria kelahiran 24 Mei 1947 ini, memutuskan mengundurkan diri menyusul mencuatnya skandal manipulasi hasil uji emisi kendaraan produksi pabrikan otomotif asal Jerman itu di Amerika Serikat.

Dalam temuan Environmental Protection Agency (EPA, dinas perlindungan lingkungan) AS ditemukan, piranti lunak di sejumlah model VW berbahan bakar diesel, bisa memanipulasi uji emisi. Inilah skandal terberat sepanjang sejarah Volkswagen. VW diperintahkan untuk menarik lagi lebih dari setengah juta unit mobil produksinya. Selain harus membayar biaya penarikan mobil, VW juga terancam hukuman denda miliaran dolar, dan para eksekutifnya terancam dipidanakan pula.

Winterkorn pergi tak dengan tangan kosong. Karena, dia akan mendapatkan dan pensiun hingga Rp 471 miliar setelah mengundurkan diri dari jabatannya itu. Berdasarkan laporan Bloomberg sebagaimana dilansir Left Lane News, Winterkorn akan menerima dana hingga US$ 32.000.000.  Dana pensiun sebesar itu adalah akumulasi dari nilai pengabdian Winterkorn di Volkswagen sejak 1993 ketika direkrut menjadi head of Group Quality Assurance dan kemudian dipromosikan menjadi CEO pada 2007.

Meski mengantongi uang pensiun, tetap saja Winterkorn dibayang-bayangi jeratan hukum. Jaksa penuntut Jerman melakukan investigasi pada mantan Winterkorn, dengan tuduhan penipuan atas skandal uji emisi bahan bakar mesin diesel di Amerika Serikat. Tuntutan Jaksa didasari komplain dari 10 individual yang identitasnya disembunyikan. Mereka meminta dilakukan investigasi kriminal untuk mencari penyebab dan siapa yang bertanggungjawab atas kesalahan Volkswagen.

Sebelum mengundurkan diri, Winterkorn memang mengakui  adanya kecurangan pada uji emisi  itu.  Meski demikian, dalam keterangan resminya, Volkswagen menyebutkan bahwa Winterkorn tidak terlibat dalam skandal ini. Winterkorn sendiri juga mengakui bahwa tidak terlibat. “Volkswagen membutuhkan lembaran baru, terutama menyangkut sumber daya manusia.  Dengan mengundurkan diri, saya memberikan jalan bagi anak-anak muda untuk maju,” kata Winterkorn.

Winterkorn pun menyatakan permintaan maafnya secara terbuka. Dia mengaku terkejut, dan tidak menyangka terjadi manipulasi semacam itu terjadi di perusahaan yang dipimpinnya. Winterkorn menegaskan pengunduran diri ini sebagai bentuk tanggung jawab sebagai CEO. Pengunduran diri Winterkorn mengakhiri gejolak harga saham VW hingga turun mencapai 35%, pekan lalu.

Untuk meredam gejolak akibat skandal itu, Volkswagen sudah menyiapkan dana sebesar 6,5 miliar euro untuk membayar denda. Namun sebagian analis  beeranggapan jumlah itu tidak cukup, sebab perusahaan asal Jerman itu mengaku skandal tersebut kemungkinan mempengaruhi sekitar 11 juta unit kendaraan produksinya di seluruh dunia. “Proses klarifikasi dan transparansi harus terus. Ini adalah satu-satunya cara untuk memenangkan kembali kepercayaan. Saya yakin bahwa Grup Volkswagen dan tim akan mengatasi krisis  ini,” kata Winterkorn.

Ini bukan satu-satunya masalah yang dihadapi Winterkorn. April lalu, dia juga harus menerima kenyataan berhadap langsung mantan ketua dewan direksi Ferdinand Piech  yang menuduh Winterkorn bertanggungjawab atas lemahnya penjualan Volkswagen di AS. Piech akhirnya mengundurkan diri.

Sekarang, skandal manipulasi hasil emisi di pasar AS, yang jadi pasar mobil paling penting di dunia bisa jadi batu sandungan besar. Apalagi, skandal ini menambah sulit pencapaian target yang diinginkan, yaitu penjualan 800.000 unit kendaraan sampai 2018 dan mampu menyalip penjualan Toyota. Ditambah lagi dengan kekhawatiran skandal itu akan mencoreng citra "Made in Germany" yang jadi lambang jaminan kualitas di dunia

Bagi Volkswagen, pasar AS selalu jadi tantangan, sebab  warga AS kebanyakan lebih suka memilih mobil merek Ford atau General Motors. Tak hanya itu saja, mobil-mobil merek Jepang masuk ke AS sejak 1990 dan berhasil mengungguli merek Eropa. Alhasil, Volkswagen harus berjuang keras. Volkswagen berhasil  menancapkan kaki di AS dengan memperkenalkan VW kodok versi baru, New Beetle pada 1997. Tetapi dalam dekade setelahnya tidak ada kemajuan berarti, bahkan mengecewakan.

Winterkorn menjabat sebagai CEO sejak 2013, ketika jumlah penjualan VW di AS merosot pada 7%. Dia menggantikan posisi  Michael Horn. Sebelumnya Winterkorn,  menjabat CEO Audi (unit usaha Volkswagen), sejak 1 Januari 2007 menggantikan Bernd Pischetsrieder. Pada 2013, Winterkorn menempati posisi kedua pejabat dengan gaji  yang sangat tinggi mencapai US$ 19.920.167  atau setara Rp 232,5 miliar. **

COMMENTS

OTHER NEWS

Global 48 menit yang lalu

Langgar Data Penduduk, Equifax Didenda USD700 Juta

Di Amerika Serikat, lembaga kredit Equifax harus membayar sedikitnya USD650 juta hingga USD700 juta karena mengekspose data kependudukan dari 148 juta orang.

Business 1 jam yang lalu

Bappebti Hentikan Seminar Ilegal di Jogja

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan didampingi Korwas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Polda Yogyakarta menghentikan acara seminar yang tidak memiliki…

Business 2 jam yang lalu

Ekspor TPT Tahun Ini Ditargetkan USD15 Miliar

Sepanjang tahun ini, Kementerian Perindustrian menargetkan nilai ekspor dari industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dapat  menembus USD15 Miliar

Business 16 jam yang lalu

Kemenperin Usulkan Empat Strategi untuk TPT

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan empat strategi untuk memacu industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Business 17 jam yang lalu

Stainless Steel Indonesia Kena Bea Anti Dumping di China

China akan mengenakan bea impor baru bagi berbagai produk stainless steel dari Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia. Hal ini diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China sebagai tanggapan atas…

Business 18 jam yang lalu

Kontrak Kerja Sama WK Corridor Diperpanjang

Kontrak Bagi Hasil WK Corridor akan berlaku untuk 20 tahun, efektif sejak tanggal 20 Desember 2023 dan menggunakan skema Gross Split.

Business 20 jam yang lalu

Pertamina Libatkan Tim Asal AS Tangani Kebocoran Sumur Migas

Pertamina melibatkan berbagai pihak yang kredibel, kompeten dan berpengalaman dalam menangani munculnya gelembung gas di sumur migas lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java…

Business 21 jam yang lalu

Pemerintah Akan Lelang 7 Ruas Jalan Tol Senilai Rp151,13 Triliun

Kementerian PUPR akan melanjutkan pembangunan jalan tol dengan mendorong pendanaan dari investasi sektor swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pembangunan jalan tol diperlukan…

Business 24 jam yang lalu

Pegatron Mulai Operasikan Pabriknya di Batam

Pegatron telah menambah investasi sebesar USD40 juta untuk membangun pabrik di Batam.

Business 24 jam yang lalu

Runway 3 Bandara Soetta Siap Beroperasi Pertengahan Agustus

Secara teknis Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) siap beroperasi pada pertengahan Agustus 2019.