Rabu, 23 Oktober 2019 | Jakarta, Indonesia

Moshe Kai Cavalin : Dipilih NASA

Sri Wulandari

Selasa, 17 November 2015 - 22:44 WIB

Riset DRP
Riset DRP
A A A

Usianya masih 17 tahun, tapi sebuah tanggungjawab besar berada di pundaknya. Ini karena National Aeronautics and Space Administration (NASA) mempercayakan dirinya untuk mengembangkan teknologi pengawasan pesawat dan drone. Dialah Moshe Kai Cavalin. Bukan tanpa alasan, Nasa memberikan pekerjaan besar yang sepantasnya dilakukan orang dewasa.

Cavalin bukanlah remaja sembarangan. Dia dikenal sangat jenius. Bayangkan saja, di usianya yang masih bocah, beberapa tahun lalu Cavalin sudah bisa menerbangkan pesawat.  Di usia 11 dia meraih gelar diploma dari East Los Angeles Community College diperoleh Moshe dengan  Indeks Prestasi (IP) sempurna 4,0.

Tiga tahun kemudian, saat usianya menginjak 14 tahun, Cavalin menyandang gelar sarjana dari University of California, Los Angeles (UCLA) jurusan matematika. Selepas sarjana, dia ingin melanjutkan di Stanford, Massachusetts Institute of Technology (MIT) atau University of Nevada, Las Vegas untuk mengambil matematika, astrofisika, maupun fisika teoritik. Namun, Cavalin akhirnya memilih mengambil kelas online untuk meraih gelar master di bidang keamanan cyber di Brandeis University, Boston, AS.

Asal tahu saja, Cavalin yang  lahir pada 14 Februari  1998 ini, memulai kuliah di usia 8 tahun.  Dia mulai belajar pada usia dua tahun dan  tidak pernah mengenyam pendidikan formal SD sampai dengan SMA karena beberapa kali ditolak sekolah formal mengingat kemampuannya yang sudah di atas rata-rata. Homeschooling akhirnya menjadi pilihan yang kemudian mengantarkannya menjadi orang hebat.

Meski demikian, Cavalin menolak disebut istimewa. “Aku tidak seistimewa itu,” ujar dia. “Aku remaja biasa, yang secara kebetulan berasal dari kombinasi  orang tua dan motivasi serta inspirasi,” jawab dia  Calavin setelah bekerja di Flight Armstrong Research Center NASA di Edwards, California, sebagaimana dilansir  yahootech.

“Yang harus Anda tahu adalah tidak butuh untuk benar-benar menjadi seorang jenius. Anda hanya harus bekerja keras dan menyelesaikannya,” kata Cavalin, yang memiliki tiga kewarganegaraan, Amerika Serikat (AS), China dan Brasil. Dia juga menguasai bahasa Spanyol, Portugis, Italia, Inggris, dan Mandarin.

Dia mengaku, hanya menuruti kehendak orang tuanya untuk belajar. Dia juga dibiarkan memilih kebebasan kegiatan di luar pelajaran yang ia suka. Dia sangat menyukai ilmu bela diri. Di rumahnya, sederet penghargaan dan piala terpajang. Kesukaannya pada kegiatan bela diri telah mendarah daging, ibunya dari Taiwan dan ayah dari Brasil. Kesukaannya pada bela diri membuat Cavalin sangat senang menonton film-film kung fu. Aktor favoritnya adalah Jet Li, Bruce Lee,  dan Jackie Chan.

Dia juga menulis buku tentang hidupnya. Yang bercerita tentang pengalamannya menjadi korban “bully” dan tentang kisah-kisah orang yang dia dengar. Melalui buku yang diberi judul We Can Do, Cavalin  berbagi kiat suksesnya. Diakui Cavalin, dia membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikan buku itu.

Buku tersebut, ditulis dalam bahasa Inggris untuk pasar AS. Sedangkan untuk pasar Asia, Cavalin menulisnya dalam bahasa Mandarin. Dari buku itu diperoleh pelajaran jangan menaruh semua telur di satu keranjang. Sebaiknya mengambil sedikit telur lalu menempatkannya di satu keranjang dan jangan terganggu dengan keranjang-keranjang lainnya.

PUNYA PERUSAHAAN CYBER

Meskipun sudah bekerja di NASA, Cavalin mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikannya. Dia terpaksa mengambil cuti karena harus konsentrasi penuh pada pekerjaannya. Apabila nanti lulus S-2 Brandeis University, pria muda yang juga suka bermain piano, sepakbola, catur, dan berenang ini, ingin sekolah lagi mengambil program bisnis, di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Dari semua target tersebut, tujuan akhirnya adalah Calavin ingin membangun perusahaan keeamanan cyber miliknya sendiri.

Menurut mentor Cavalin di NASA, Ricardo Arteaga, Calavin adalah seorang remaja dengan etos kerja yang sangat luar biasa. Ia sangat mahir di bidang matematika, komputer dan teknologi penerbangan. Karena itulah, NASA ingin lebih mengembangkan Calavin pada kemampuan intuitifnya.

Diakui Arteaga, Cavalin sempat ditolak NASA lantaran usianya masih muda. Namun, NASA tak bisa mengelak, saat Cavalin ternyata jago  software dan tahu algoritma matematika. Tak ada kandidat lain, akhirnya pekerjaan yang sangat serius itu diberikan ke Cavalin. “Kami juga membutuhkan pilot yang bisa menerbangkan  Cessna, dan Cavalin memiliki kemampuan tersebut,” katanya.

Di NASA, Cavalin akan melakukan pekerjaaan dan terlibat dalam menjalankan simulasi pesawat dan drone yang mengarah pada  tabrakan. Kemudian, dia harus mencari cara untuk menemukan rute yang aman. Nantinya, dia harus bisa mengembangkan drone, yang merupakan pesawat nir awak atau pesawat tanpa awak. Operasional pesawat drone, dikendalikan dari jarak jauh.  Fungsi drone digunakan dalam berbagai keperluan, tak hanya untuk operasi militer saja. (*)

Tag

  1. nasa

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…