Selasa, 23 Juli 2019 | Jakarta, Indonesia

Moshe Kai Cavalin : Dipilih NASA

Sri Wulandari

Selasa, 17 November 2015 - 22:44 WIB

Riset DRP
Riset DRP
A A A

Usianya masih 17 tahun, tapi sebuah tanggungjawab besar berada di pundaknya. Ini karena National Aeronautics and Space Administration (NASA) mempercayakan dirinya untuk mengembangkan teknologi pengawasan pesawat dan drone. Dialah Moshe Kai Cavalin. Bukan tanpa alasan, Nasa memberikan pekerjaan besar yang sepantasnya dilakukan orang dewasa.

Cavalin bukanlah remaja sembarangan. Dia dikenal sangat jenius. Bayangkan saja, di usianya yang masih bocah, beberapa tahun lalu Cavalin sudah bisa menerbangkan pesawat.  Di usia 11 dia meraih gelar diploma dari East Los Angeles Community College diperoleh Moshe dengan  Indeks Prestasi (IP) sempurna 4,0.

Tiga tahun kemudian, saat usianya menginjak 14 tahun, Cavalin menyandang gelar sarjana dari University of California, Los Angeles (UCLA) jurusan matematika. Selepas sarjana, dia ingin melanjutkan di Stanford, Massachusetts Institute of Technology (MIT) atau University of Nevada, Las Vegas untuk mengambil matematika, astrofisika, maupun fisika teoritik. Namun, Cavalin akhirnya memilih mengambil kelas online untuk meraih gelar master di bidang keamanan cyber di Brandeis University, Boston, AS.

Asal tahu saja, Cavalin yang  lahir pada 14 Februari  1998 ini, memulai kuliah di usia 8 tahun.  Dia mulai belajar pada usia dua tahun dan  tidak pernah mengenyam pendidikan formal SD sampai dengan SMA karena beberapa kali ditolak sekolah formal mengingat kemampuannya yang sudah di atas rata-rata. Homeschooling akhirnya menjadi pilihan yang kemudian mengantarkannya menjadi orang hebat.

Meski demikian, Cavalin menolak disebut istimewa. “Aku tidak seistimewa itu,” ujar dia. “Aku remaja biasa, yang secara kebetulan berasal dari kombinasi  orang tua dan motivasi serta inspirasi,” jawab dia  Calavin setelah bekerja di Flight Armstrong Research Center NASA di Edwards, California, sebagaimana dilansir  yahootech.

“Yang harus Anda tahu adalah tidak butuh untuk benar-benar menjadi seorang jenius. Anda hanya harus bekerja keras dan menyelesaikannya,” kata Cavalin, yang memiliki tiga kewarganegaraan, Amerika Serikat (AS), China dan Brasil. Dia juga menguasai bahasa Spanyol, Portugis, Italia, Inggris, dan Mandarin.

Dia mengaku, hanya menuruti kehendak orang tuanya untuk belajar. Dia juga dibiarkan memilih kebebasan kegiatan di luar pelajaran yang ia suka. Dia sangat menyukai ilmu bela diri. Di rumahnya, sederet penghargaan dan piala terpajang. Kesukaannya pada kegiatan bela diri telah mendarah daging, ibunya dari Taiwan dan ayah dari Brasil. Kesukaannya pada bela diri membuat Cavalin sangat senang menonton film-film kung fu. Aktor favoritnya adalah Jet Li, Bruce Lee,  dan Jackie Chan.

Dia juga menulis buku tentang hidupnya. Yang bercerita tentang pengalamannya menjadi korban “bully” dan tentang kisah-kisah orang yang dia dengar. Melalui buku yang diberi judul We Can Do, Cavalin  berbagi kiat suksesnya. Diakui Cavalin, dia membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikan buku itu.

Buku tersebut, ditulis dalam bahasa Inggris untuk pasar AS. Sedangkan untuk pasar Asia, Cavalin menulisnya dalam bahasa Mandarin. Dari buku itu diperoleh pelajaran jangan menaruh semua telur di satu keranjang. Sebaiknya mengambil sedikit telur lalu menempatkannya di satu keranjang dan jangan terganggu dengan keranjang-keranjang lainnya.

PUNYA PERUSAHAAN CYBER

Meskipun sudah bekerja di NASA, Cavalin mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikannya. Dia terpaksa mengambil cuti karena harus konsentrasi penuh pada pekerjaannya. Apabila nanti lulus S-2 Brandeis University, pria muda yang juga suka bermain piano, sepakbola, catur, dan berenang ini, ingin sekolah lagi mengambil program bisnis, di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Dari semua target tersebut, tujuan akhirnya adalah Calavin ingin membangun perusahaan keeamanan cyber miliknya sendiri.

Menurut mentor Cavalin di NASA, Ricardo Arteaga, Calavin adalah seorang remaja dengan etos kerja yang sangat luar biasa. Ia sangat mahir di bidang matematika, komputer dan teknologi penerbangan. Karena itulah, NASA ingin lebih mengembangkan Calavin pada kemampuan intuitifnya.

Diakui Arteaga, Cavalin sempat ditolak NASA lantaran usianya masih muda. Namun, NASA tak bisa mengelak, saat Cavalin ternyata jago  software dan tahu algoritma matematika. Tak ada kandidat lain, akhirnya pekerjaan yang sangat serius itu diberikan ke Cavalin. “Kami juga membutuhkan pilot yang bisa menerbangkan  Cessna, dan Cavalin memiliki kemampuan tersebut,” katanya.

Di NASA, Cavalin akan melakukan pekerjaaan dan terlibat dalam menjalankan simulasi pesawat dan drone yang mengarah pada  tabrakan. Kemudian, dia harus mencari cara untuk menemukan rute yang aman. Nantinya, dia harus bisa mengembangkan drone, yang merupakan pesawat nir awak atau pesawat tanpa awak. Operasional pesawat drone, dikendalikan dari jarak jauh.  Fungsi drone digunakan dalam berbagai keperluan, tak hanya untuk operasi militer saja. (*)

Tag

  1. nasa

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 42 menit yang lalu

Bappebti Hentikan Seminar Ilegal di Jogja

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan didampingi Korwas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Polda Yogyakarta menghentikan acara seminar yang tidak memiliki…

Business 54 menit yang lalu

Ekspor TPT Tahun Ini Ditargetkan USD15 Miliar

Sepanjang tahun ini, Kementerian Perindustrian menargetkan nilai ekspor dari industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dapat  menembus USD15 Miliar

Business 15 jam yang lalu

Kemenperin Usulkan Empat Strategi untuk TPT

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan empat strategi untuk memacu industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Business 17 jam yang lalu

Stainless Steel Indonesia Kena Bea Anti Dumping di China

China akan mengenakan bea impor baru bagi berbagai produk stainless steel dari Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia. Hal ini diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China sebagai tanggapan atas…

Business 17 jam yang lalu

Kontrak Kerja Sama WK Corridor Diperpanjang

Kontrak Bagi Hasil WK Corridor akan berlaku untuk 20 tahun, efektif sejak tanggal 20 Desember 2023 dan menggunakan skema Gross Split.

Business 19 jam yang lalu

Pertamina Libatkan Tim Asal AS Tangani Kebocoran Sumur Migas

Pertamina melibatkan berbagai pihak yang kredibel, kompeten dan berpengalaman dalam menangani munculnya gelembung gas di sumur migas lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java…

Business 20 jam yang lalu

Pemerintah Akan Lelang 7 Ruas Jalan Tol Senilai Rp151,13 Triliun

Kementerian PUPR akan melanjutkan pembangunan jalan tol dengan mendorong pendanaan dari investasi sektor swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pembangunan jalan tol diperlukan…

Business 23 jam yang lalu

Pegatron Mulai Operasikan Pabriknya di Batam

Pegatron telah menambah investasi sebesar USD40 juta untuk membangun pabrik di Batam.

Business 24 jam yang lalu

Runway 3 Bandara Soetta Siap Beroperasi Pertengahan Agustus

Secara teknis Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) siap beroperasi pada pertengahan Agustus 2019.

Business 22/07/2019 08:18 WIB

OJK Gelar Pertemuan Bilateral dengan Bank of Thailand

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan pertemuan bilateral dengan Bank of Thailand (BoT) di Bangkok, Jumat (19/7) dalam rangka penguatan kerja sama peran sektor jasa keuangan di kedua negara.