Minggu, 19 Mei 2019 | Jakarta, Indonesia

Moshe Kai Cavalin : Dipilih NASA

Sri Wulandari

Selasa, 17 November 2015 - 22:44 WIB

Riset DRP
Riset DRP
A A A

Usianya masih 17 tahun, tapi sebuah tanggungjawab besar berada di pundaknya. Ini karena National Aeronautics and Space Administration (NASA) mempercayakan dirinya untuk mengembangkan teknologi pengawasan pesawat dan drone. Dialah Moshe Kai Cavalin. Bukan tanpa alasan, Nasa memberikan pekerjaan besar yang sepantasnya dilakukan orang dewasa.

Cavalin bukanlah remaja sembarangan. Dia dikenal sangat jenius. Bayangkan saja, di usianya yang masih bocah, beberapa tahun lalu Cavalin sudah bisa menerbangkan pesawat.  Di usia 11 dia meraih gelar diploma dari East Los Angeles Community College diperoleh Moshe dengan  Indeks Prestasi (IP) sempurna 4,0.

Tiga tahun kemudian, saat usianya menginjak 14 tahun, Cavalin menyandang gelar sarjana dari University of California, Los Angeles (UCLA) jurusan matematika. Selepas sarjana, dia ingin melanjutkan di Stanford, Massachusetts Institute of Technology (MIT) atau University of Nevada, Las Vegas untuk mengambil matematika, astrofisika, maupun fisika teoritik. Namun, Cavalin akhirnya memilih mengambil kelas online untuk meraih gelar master di bidang keamanan cyber di Brandeis University, Boston, AS.

Asal tahu saja, Cavalin yang  lahir pada 14 Februari  1998 ini, memulai kuliah di usia 8 tahun.  Dia mulai belajar pada usia dua tahun dan  tidak pernah mengenyam pendidikan formal SD sampai dengan SMA karena beberapa kali ditolak sekolah formal mengingat kemampuannya yang sudah di atas rata-rata. Homeschooling akhirnya menjadi pilihan yang kemudian mengantarkannya menjadi orang hebat.

Meski demikian, Cavalin menolak disebut istimewa. “Aku tidak seistimewa itu,” ujar dia. “Aku remaja biasa, yang secara kebetulan berasal dari kombinasi  orang tua dan motivasi serta inspirasi,” jawab dia  Calavin setelah bekerja di Flight Armstrong Research Center NASA di Edwards, California, sebagaimana dilansir  yahootech.

“Yang harus Anda tahu adalah tidak butuh untuk benar-benar menjadi seorang jenius. Anda hanya harus bekerja keras dan menyelesaikannya,” kata Cavalin, yang memiliki tiga kewarganegaraan, Amerika Serikat (AS), China dan Brasil. Dia juga menguasai bahasa Spanyol, Portugis, Italia, Inggris, dan Mandarin.

Dia mengaku, hanya menuruti kehendak orang tuanya untuk belajar. Dia juga dibiarkan memilih kebebasan kegiatan di luar pelajaran yang ia suka. Dia sangat menyukai ilmu bela diri. Di rumahnya, sederet penghargaan dan piala terpajang. Kesukaannya pada kegiatan bela diri telah mendarah daging, ibunya dari Taiwan dan ayah dari Brasil. Kesukaannya pada bela diri membuat Cavalin sangat senang menonton film-film kung fu. Aktor favoritnya adalah Jet Li, Bruce Lee,  dan Jackie Chan.

Dia juga menulis buku tentang hidupnya. Yang bercerita tentang pengalamannya menjadi korban “bully” dan tentang kisah-kisah orang yang dia dengar. Melalui buku yang diberi judul We Can Do, Cavalin  berbagi kiat suksesnya. Diakui Cavalin, dia membutuhkan waktu empat tahun untuk menyelesaikan buku itu.

Buku tersebut, ditulis dalam bahasa Inggris untuk pasar AS. Sedangkan untuk pasar Asia, Cavalin menulisnya dalam bahasa Mandarin. Dari buku itu diperoleh pelajaran jangan menaruh semua telur di satu keranjang. Sebaiknya mengambil sedikit telur lalu menempatkannya di satu keranjang dan jangan terganggu dengan keranjang-keranjang lainnya.

PUNYA PERUSAHAAN CYBER

Meskipun sudah bekerja di NASA, Cavalin mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikannya. Dia terpaksa mengambil cuti karena harus konsentrasi penuh pada pekerjaannya. Apabila nanti lulus S-2 Brandeis University, pria muda yang juga suka bermain piano, sepakbola, catur, dan berenang ini, ingin sekolah lagi mengambil program bisnis, di Massachusetts Institute of Technology (MIT). Dari semua target tersebut, tujuan akhirnya adalah Calavin ingin membangun perusahaan keeamanan cyber miliknya sendiri.

Menurut mentor Cavalin di NASA, Ricardo Arteaga, Calavin adalah seorang remaja dengan etos kerja yang sangat luar biasa. Ia sangat mahir di bidang matematika, komputer dan teknologi penerbangan. Karena itulah, NASA ingin lebih mengembangkan Calavin pada kemampuan intuitifnya.

Diakui Arteaga, Cavalin sempat ditolak NASA lantaran usianya masih muda. Namun, NASA tak bisa mengelak, saat Cavalin ternyata jago  software dan tahu algoritma matematika. Tak ada kandidat lain, akhirnya pekerjaan yang sangat serius itu diberikan ke Cavalin. “Kami juga membutuhkan pilot yang bisa menerbangkan  Cessna, dan Cavalin memiliki kemampuan tersebut,” katanya.

Di NASA, Cavalin akan melakukan pekerjaaan dan terlibat dalam menjalankan simulasi pesawat dan drone yang mengarah pada  tabrakan. Kemudian, dia harus mencari cara untuk menemukan rute yang aman. Nantinya, dia harus bisa mengembangkan drone, yang merupakan pesawat nir awak atau pesawat tanpa awak. Operasional pesawat drone, dikendalikan dari jarak jauh.  Fungsi drone digunakan dalam berbagai keperluan, tak hanya untuk operasi militer saja. (*)

Tag

  1. nasa

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 17/05/2019 15:30 WIB

Inalum Incar Kerja Sama Dengan Huayou

PT Inalum menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd., produsen terbesar di dunia untuk material baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik.

Money 17/05/2019 14:38 WIB

BI dan KSEI Teken Perjanjian Penyelesaian Transaksi SBK

SBK (dahulu disebut Commercial Paper) adalah sumber pendanaan jangka pendek non perbankan.

Business 17/05/2019 13:58 WIB

Utang Luar Negeri Triwulan I 2019 Tumbuh 7,9%

ULN Indonesia pada akhir triwulan I 2019 tercatat sebesar 387,6 miliar dolar AS yang terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 190,5 miliar dolar AS, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar…

Business 17/05/2019 12:48 WIB

Penyesuaian TBA Tiket Pesawat Berlaku Mulai Sabtu Besok

Penurunan Tarif Batas Atas (TBA) sebanyak 12 – 16 persen, sudah memperhatikan faktor-faktor substansial seperti keselamatan dan keamanan.

Business 17/05/2019 11:45 WIB

Menteri Jonan Bahas Blok Masela dengan Inpex

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Iganius Jonan kembali bertemu dengan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda di Tokyo, Kamis (16/5).

Business 17/05/2019 11:15 WIB

Inalum Jajaki Peluang Kerja Sama dengan Industri Logam di China

Menteri BUMN Rini M. Soemarno melakukan kunjungan singkat tiga hari ke China untuk bertemu dengan sejumlah CEO industri logam China guna mempercepat hilirisasi industri tambang.

Business 17/05/2019 10:45 WIB

Pasokan BBM Jalur Mudik Lintas Jawa Dipastikan Aman

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Penyalur Hilir Minyak dan Gas Bumi dan PT Pertamina (Persero) melakukan pemantauan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mendukung…

Business 17/05/2019 10:15 WIB

Kinerja APBN Hingga April Masih Aman

Di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang melemah, kebijakan countercyclical yang diambil Pemerintah dalam pengelolaan fiskal mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan capaian…

Business 17/05/2019 09:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Tersendat

Gejolak ekonomi global belakangan ini diprediksi bakal memukul banyak negara. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan lebih baik kemungkinan akan tersendat.

Business 17/05/2019 09:15 WIB

Kemenperin Bidik Investasi Elektronika Rp1,3 Triliun

Kementerian Perindustrian terus membidik investasi di sektor industri elektronika dan telematika.