Minggu, 19 Mei 2019 | Jakarta, Indonesia

Pencipta Obat Langka

Sri Wulandari

Senin, 08 Februari 2016 - 13:47 WIB

Riset
Riset
A A A

Pendiri Regeneron, Leonard Schleifer dinobatkan sebagai sosok kaya raya dengan nilai kekayaan mencapai US$ 1,89 miliar. Apa kunci sukses usahanya?

Nama farmasi Regeneron yang berbasis di New York, AS cukup terkenal di dunia. Farmasi ini menghasilkan produk utama obat untuk penyakit ginjal langka yang meraup angka penjualan sebesar US$ 20 juta dalam setahun. Selain itu produk lain yang cukup fenomenal adalah obat mengatasi kebutaan  bernama Eylea. Sejak obat ini meluncur di pasaran, harga saham Regeneron  melonjak hingga 220% selama dua tahun terakhir.

Untuk menambah jejaring, Regeneron menjalin kerja sama dengan raksasa farmasi Jerman, Bayer. Dari catatan keuangannya, Regeneron membukukan penjualan US$ 3 miliar per akhir kuartal III-2015 atau melonjak 50% secara tahunan. Tak pelak,  sang pendiri,  Leonard Schleifer dinobatkan sebagai sosok kaya raya dengan nilai kekayaan mencapai US$ 1,89 miliar.

Buat Schleifer, Regeneron adalah mimpinya sejak kecil. Sayang, dia tak bisa langsung mewujudkan mimpinya karena kesulitan ekonomi. Keluarganya hidup pas-pasan. Bisnis ayahnya, yaitu memproduksi baju hangat alias sweater tak begitu lancar. Ayahya justru memaksa dia untuk melanjutkan bisnisnya. Dia akhirya mengalah menerima permintaan sang ayah.

Meski demikian, mimpi untuk membangun perusahaan farmasi tak pernah pupus.  Apalagi otaknya lumayan cerdas dan sederet gelar akademik dikantonginya, salah satunya dari Cornell University dan gelar Ph.D lewat jalur beasiswa dari University of Virginia. Sambil belajar, Schleifer memutuskan mencicip pengalaman bekerja di Rumah Sakit Cornell New York sebagai ahli saraf dan asisten profesor di kampus.

Hingga suatu ketika dia bertemu dengan penerima nobel bidang biokimia Alfred Gilman. Pada pertengahan 1980-an, Schleifer banyak membaca soal Genentech, salah satu pionir di industri bioteknologi. Saat itu memang belum banyak perusahaan yang bergerak di bidang itu. Gilman menyarankan, Schleifer untuk mencoba peruntungan dengan melamar ke perusahaan tersebut karena melihat bakatnya di bidang bioteknologi.

Sadar bahwa ini adalah peluang besar, Schleifer memupuk mimpi memiliki perusahaan pengembangan obat syaraf sendiri. Dengan dana pas-pasan, Schleifer mulai mendirikan perusahaan obat-obatan dengan nama Regeneron pada 1988 dengan dana pinjaman dari Merrill Lynch sebesar US$ 1 juta. Berpusat di New York, awalnya perusahaan yang ia dirikan fokus pada pengembangan obat-obatan neurotropik dan kemampuan regeneratif.

Pertemuan dengan petinggi Merrill Lynch terjadi di sebuah restoran masakan China. Saat makan bersama dia mempresentasikan tentang pengembangan obat syaraf di masa depan. Pembicaraan di atas meja makan selanjutnya mengubah hidup Schleifer. Merrill Lynch bsedia untuk mengucurkan kredit sebesar US$ 1 juta untuk mendirikan Regeneron.

Tak lama kemudian, Regeneron mengembangkan sejumlah obat untuk penyakit kritis, seperti cytokine dan tyrosine kinase. Berbagai pengembangan obat Regeneron akhirnya menemui sukses pasca mengantongi lisensi dari regulator obat dan makanan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA). Salah satunya, obat Eylea yang mendapat persetujuan FDA pada November 2011. Produk ini dikembangkan untuk mengobati penyebab umum kebutaan pada orang lanjut usia.

Selain itu ada obat merek Zaltrap yang digunakan untuk perawatan penyakit kanker kolorektal metastatik.  Produk ini disetujui oleh FDA pada bulan Agustus 2012. Ada juga lisensi obat Praluent pada  2015. Obat ini berguna untuk terapi diet bagi penderita dengan kondisi hiperkolesterolemia familial heterozigot atau penyakit langka kardiovaskular aterosklerosis klinis yang membutuhkan penurunan kolesterol LDL.

Penemuan-penemuan obat baru ini menambah pundi-pundi kekayaan Regeneron. Regeneron pun berhasil mendapat pengakuan sebagai salah satu perusahaan farmasi bidang bioteknologi yang sukses menelurkan sejumlah obat fenomenal.

KUNCINYA KERJASAMA

Walau sukses sudah di tangan, kata Schleifer, apa yang diraihnya tak terlepas dari peran George Yancopoulos, seorang peneliti yang diajak bergabung setahun setelah dia mendirikan Regeneron. George diberi kepercayaan sebagai kepala peneliti.

Lalu apa rahasia sukses Schleifer? Kerjasama, itulah kuncinya. Tak segan Schleifer menggandeng sejumlah raksasa lain di industri farmasi untuk membuat Regeneron makin berkibar. Seperti yang dilakukan dengan Sanofi pada 2011 lewat perjanjian kolaborasi global untuk menemukan, mengembangkan, dan mengomersialkan obat immuno-onkologi baru. Dari kerjasama ini, dana segar sebanyak US$ 2 miliar masuk ke kantong Regeneron.

Toh, pada awal berdirinya Regeneron,  Schleifer tak langsung meraup sukses. Jatuh bangun dia rasakan. Sederet kegagalan harus dia telan. Selama belasan tahun, tim ilmuwan Regeneron belum mampu menemukan obat yang mampu dijual komersial. Hingga akhirnya Regeneron merilis obat ginjal yang laris manis di pasaran pada 2008 dan meraup angka penjualan sebesar US$ 20 juta dalam setahun. Disusul dengan Eylea, obat kebutaan yang juga laris manis di pasaran. Kontribusi penjualan eylea mencapai 65% dari total penjualan Regeneron. Selain itu,  obat kanker Zaltrap juga menyumbang tak kecil bagi pendapatan perusahaan.

Tag

  1. bisnis23v

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 17/05/2019 15:30 WIB

Inalum Incar Kerja Sama Dengan Huayou

PT Inalum menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd., produsen terbesar di dunia untuk material baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik.

Money 17/05/2019 14:38 WIB

BI dan KSEI Teken Perjanjian Penyelesaian Transaksi SBK

SBK (dahulu disebut Commercial Paper) adalah sumber pendanaan jangka pendek non perbankan.

Business 17/05/2019 13:58 WIB

Utang Luar Negeri Triwulan I 2019 Tumbuh 7,9%

ULN Indonesia pada akhir triwulan I 2019 tercatat sebesar 387,6 miliar dolar AS yang terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 190,5 miliar dolar AS, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar…

Business 17/05/2019 12:48 WIB

Penyesuaian TBA Tiket Pesawat Berlaku Mulai Sabtu Besok

Penurunan Tarif Batas Atas (TBA) sebanyak 12 – 16 persen, sudah memperhatikan faktor-faktor substansial seperti keselamatan dan keamanan.

Business 17/05/2019 11:45 WIB

Menteri Jonan Bahas Blok Masela dengan Inpex

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Iganius Jonan kembali bertemu dengan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda di Tokyo, Kamis (16/5).

Business 17/05/2019 11:15 WIB

Inalum Jajaki Peluang Kerja Sama dengan Industri Logam di China

Menteri BUMN Rini M. Soemarno melakukan kunjungan singkat tiga hari ke China untuk bertemu dengan sejumlah CEO industri logam China guna mempercepat hilirisasi industri tambang.

Business 17/05/2019 10:45 WIB

Pasokan BBM Jalur Mudik Lintas Jawa Dipastikan Aman

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Penyalur Hilir Minyak dan Gas Bumi dan PT Pertamina (Persero) melakukan pemantauan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mendukung…

Business 17/05/2019 10:15 WIB

Kinerja APBN Hingga April Masih Aman

Di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang melemah, kebijakan countercyclical yang diambil Pemerintah dalam pengelolaan fiskal mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan capaian…

Business 17/05/2019 09:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Tersendat

Gejolak ekonomi global belakangan ini diprediksi bakal memukul banyak negara. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan lebih baik kemungkinan akan tersendat.

Business 17/05/2019 09:15 WIB

Kemenperin Bidik Investasi Elektronika Rp1,3 Triliun

Kementerian Perindustrian terus membidik investasi di sektor industri elektronika dan telematika.