Selasa, 23 Juli 2019 | Jakarta, Indonesia

Berhasil Menyulap Bisnis Keluarga

Sri Wulandari

Senin, 15 Februari 2016 - 21:22 WIB

Riset
Riset
A A A

Happel mengubah haluan bisnis perusahaan keluarga dari produsen alat penyedot debu dan persenjataan, menjadi bisnis penyedia teknologi industri bagi  pabrik makanan hingga pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Siapa yang tak kenal Otto Happel? Dia adalah salah satu  orang terkaya versi majalah Forbes di Jerman. Kekayaannya mencapai US$ 2,6 miliar yang didapatnya dari bisnis keluarga sebagai penyedia teknologi industri bagi  pabrik makanan hingga pembangkit listrik tenaga panas bumi melalui perusahaan Gesellschaft für Entstaubungsanlagen (GEA).

GEA sendiri adalah perusahaan yang didirikan oleh ayah Otto Happel pada 1920.  Semula bisnis GEA memproduksi alat penyedot debu (vacuum cleaner). Namun,  antara 1939 hingga 1945, GEA melebur dengan Metallgesellschaft AG atau MG, perusahaan perdagangan logam. Perusahaan gabungan ini memproduksi berbagai produk, mulai dari penyedot debu, bahan kimia hingga persenjataan.  

Ketika Happel mewariskan perusahaan itu dari ayahnya pada 1974 , dia mengubah haluan bisnis perusahaan keluarga dari produsen alat penyedot debu dan persenjataan, menjadi bisnis penyedia teknologi industri bagi  pabrik makanan hingga pembangkit listrik tenaga panas bumi.  Pada saat itu usia  jebolan RWTH Aachen University ini baru 26 tahun.

Dia melihat bisnis keluarganya bisa berkembang apabila bisa menjadi yang memasok kebutuhan mesin industri pangan, pertanian, dan energi. Maka Happel pun memutuskan memproduksi teknologi yang memasok kebutuhan mesin industri pangan, pertanian, dan energi. Dia juga mengembangkan bisnisnya dan mengubah perusahaannya menjadi GEA Group.

Perusahaan mulai  fokus di bisnis teknologi pemrosesan dan komponen industri pangan (food solutions), pertanian (farm technologies), dan radiator maupun refrigerator untuk kebutuhan pabrik (heat exchanges). Selain itu, dia juga membuat peralatan lnyogam (metal equipment), teknologi rekayasa industri (process engineering).

Tahun 1975, Happel memenangkan kontrak dari Saudi Aramco sebagai pemasok teknologi pendingin udara pabrik petrokimia. Nilai kontrak itu sekitar DM 120 juta. Dia juga  mengakuisisi beberapa perusahaan di Afrika Selatan, Brasil dan Prancis. Selain itu, Happel juga menjajal peruntungannya dengan mengembangkan bisnis di Amerika Serikat (AS).

Yang tak kalah mencengangkan, Happel berani  mendiversifikasi lini usaha GEA ke teknologi rekayasa pertanian setelah berhasil mengakuisisi Eduard Ahlborn GmbH di Hildesheim, Jerman pada 1979. Perlahan tapi pasti usaha bisnisnya semakin berkibar. Ayah enam anak ini juga membuat gebrakan dengan melakukan 70 akuisisi, GEA memiliki 200 anak perusahaan yang tersebar di 60 negara.

Dia berhasil mengembangkan skala bisnis perusahaan warisan keluarga menjadi perusahaan multinasional setelah 25 tahun kepemimpinannya. GEA bertransformasi menjadi perusahaan pemasok sistem industri dan memperkenalkan produk dalam teknologi pengolahan makanan, teknologi energi dan layanan pendingin (AC). Bahkan di tangan Hapel pula, GEA Grup mulai go public di bursa Frankfurt .

BERSELISIH

Meski berjaya, rupanya Happel punya strategis bisnis yang jauh ke depan.  Salah satunya adalah dia berani melepas kepemilikan sahamnya ke tangan MG Technologies sebanyak 50,1% atau senilai  US$ 775 juta. Happel menyisakan  21% saham perusahaan tersebut dan mendapatkan jatah dividen 10% dari GEA Group.

Pada 2006, Happel kembali menjual saham GEA lagi kepada investor institusi senilai US$ 700 juta. Happel sendiri masih memimpin GEA. Tahun 1999, GEA mencetak pendapatan € 2,56 miliar. Tiga belas tahun kemudian, pendapatan GEA Group mendaki menjadi € 5,7 miliar. Setahun berikutnya, pendapatan GEA Group meningkat menjadi € 5,8 miliar. Per 30 Desember 2014, karyawan  GEA Group mencapai 25.000 orang.

Meski sukses, toh ada saja perselisihan. Walau sahamnya sebegian besar tak ada lagi di GEA, Happel tak pernah bisa melepaskan GEA begitu saja. Campur tangannya yang terlalu dalam membuat dua pimpinan GEA Group, Kajo Neukirchen dan Udo Stark, mengundurkan diri. Neukirchen  menolak permintaan Happel agar GEA fokus pada satu dari dua lini bisnisnya, bisnis teknologi industri atau bisnis bahan kimia. Udo Stark yang diharapkan bisa menjembatani perbedaan visi dengan Happel juga ikut mengundurkan diri.

Seperti menutup kenyataan itu, Happel malah bersedia diangkat menjadi dewan pengawas pada tahun 2003. Bersama dengan manajemen baru, Happel berhasil memperbaiki lagi kinerja keuangan GEA  Group dan bisa menyelesaikan restrukturisasi utang, tahun 2005. Happel menyatakan bertanggung jawab memulihkan bisnis GEA. Menurutnya, kontribusinya dalam beberapa tahun terakhir didorong oleh tanggung jawabnya terhadap perusahaan, karyawan dan pemegang saham.

Sesuai dengan komitmennya, setelah memperbaiki neraca keuangan, Happel menjauhkan diri dari GEA Group. Dia memilih menjadi seorang investor aktif di Jerman. Happel kemudian mencari peluang bisnis di sektor teknologi. Ia membeli 25,1% saham Conergy, produsen pembangkit tenaga surya senilai € 50 juta. Suntikan modal dari Happel ini telah menyelamatkan Conergy. Happel juga mendirikan Luserve AG pada  1998, jasa konsultasi keuangan di Swiss.

Setelah Happel masuk, Conergy berhasil memenangkan tender pembangkit surya terbesar pertama di Inggris pada 2011. Dalam kurun waktu tiga tahun, Conergy menjadi salah satu dari lima perusahaan terbesar di sektor rekayasa dan konstruksi pembangkit surya di Inggris. Kesuksesan itu telah membuat Conergy juga menjelajah ke benua lain.

Tag

  1. profil

COMMENTS

OTHER NEWS

Global 34 menit yang lalu

Langgar Data Penduduk, Equifax Didenda USD700 Juta

Di Amerika Serikat, lembaga kredit Equifax harus membayar sedikitnya USD650 juta hingga USD700 juta karena mengekspose data kependudukan dari 148 juta orang.

Business 1 jam yang lalu

Bappebti Hentikan Seminar Ilegal di Jogja

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan didampingi Korwas Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Polda Yogyakarta menghentikan acara seminar yang tidak memiliki…

Business 1 jam yang lalu

Ekspor TPT Tahun Ini Ditargetkan USD15 Miliar

Sepanjang tahun ini, Kementerian Perindustrian menargetkan nilai ekspor dari industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dapat  menembus USD15 Miliar

Business 15 jam yang lalu

Kemenperin Usulkan Empat Strategi untuk TPT

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan empat strategi untuk memacu industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Business 17 jam yang lalu

Stainless Steel Indonesia Kena Bea Anti Dumping di China

China akan mengenakan bea impor baru bagi berbagai produk stainless steel dari Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia. Hal ini diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China sebagai tanggapan atas…

Business 17 jam yang lalu

Kontrak Kerja Sama WK Corridor Diperpanjang

Kontrak Bagi Hasil WK Corridor akan berlaku untuk 20 tahun, efektif sejak tanggal 20 Desember 2023 dan menggunakan skema Gross Split.

Business 20 jam yang lalu

Pertamina Libatkan Tim Asal AS Tangani Kebocoran Sumur Migas

Pertamina melibatkan berbagai pihak yang kredibel, kompeten dan berpengalaman dalam menangani munculnya gelembung gas di sumur migas lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java…

Business 20 jam yang lalu

Pemerintah Akan Lelang 7 Ruas Jalan Tol Senilai Rp151,13 Triliun

Kementerian PUPR akan melanjutkan pembangunan jalan tol dengan mendorong pendanaan dari investasi sektor swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pembangunan jalan tol diperlukan…

Business 24 jam yang lalu

Pegatron Mulai Operasikan Pabriknya di Batam

Pegatron telah menambah investasi sebesar USD40 juta untuk membangun pabrik di Batam.

Business 24 jam yang lalu

Runway 3 Bandara Soetta Siap Beroperasi Pertengahan Agustus

Secara teknis Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) siap beroperasi pada pertengahan Agustus 2019.