Minggu, 19 Mei 2019 | Jakarta, Indonesia

Berhasil Menyulap Bisnis Keluarga

Sri Wulandari

Senin, 15 Februari 2016 - 21:22 WIB

Riset
Riset
A A A

Happel mengubah haluan bisnis perusahaan keluarga dari produsen alat penyedot debu dan persenjataan, menjadi bisnis penyedia teknologi industri bagi  pabrik makanan hingga pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Siapa yang tak kenal Otto Happel? Dia adalah salah satu  orang terkaya versi majalah Forbes di Jerman. Kekayaannya mencapai US$ 2,6 miliar yang didapatnya dari bisnis keluarga sebagai penyedia teknologi industri bagi  pabrik makanan hingga pembangkit listrik tenaga panas bumi melalui perusahaan Gesellschaft für Entstaubungsanlagen (GEA).

GEA sendiri adalah perusahaan yang didirikan oleh ayah Otto Happel pada 1920.  Semula bisnis GEA memproduksi alat penyedot debu (vacuum cleaner). Namun,  antara 1939 hingga 1945, GEA melebur dengan Metallgesellschaft AG atau MG, perusahaan perdagangan logam. Perusahaan gabungan ini memproduksi berbagai produk, mulai dari penyedot debu, bahan kimia hingga persenjataan.  

Ketika Happel mewariskan perusahaan itu dari ayahnya pada 1974 , dia mengubah haluan bisnis perusahaan keluarga dari produsen alat penyedot debu dan persenjataan, menjadi bisnis penyedia teknologi industri bagi  pabrik makanan hingga pembangkit listrik tenaga panas bumi.  Pada saat itu usia  jebolan RWTH Aachen University ini baru 26 tahun.

Dia melihat bisnis keluarganya bisa berkembang apabila bisa menjadi yang memasok kebutuhan mesin industri pangan, pertanian, dan energi. Maka Happel pun memutuskan memproduksi teknologi yang memasok kebutuhan mesin industri pangan, pertanian, dan energi. Dia juga mengembangkan bisnisnya dan mengubah perusahaannya menjadi GEA Group.

Perusahaan mulai  fokus di bisnis teknologi pemrosesan dan komponen industri pangan (food solutions), pertanian (farm technologies), dan radiator maupun refrigerator untuk kebutuhan pabrik (heat exchanges). Selain itu, dia juga membuat peralatan lnyogam (metal equipment), teknologi rekayasa industri (process engineering).

Tahun 1975, Happel memenangkan kontrak dari Saudi Aramco sebagai pemasok teknologi pendingin udara pabrik petrokimia. Nilai kontrak itu sekitar DM 120 juta. Dia juga  mengakuisisi beberapa perusahaan di Afrika Selatan, Brasil dan Prancis. Selain itu, Happel juga menjajal peruntungannya dengan mengembangkan bisnis di Amerika Serikat (AS).

Yang tak kalah mencengangkan, Happel berani  mendiversifikasi lini usaha GEA ke teknologi rekayasa pertanian setelah berhasil mengakuisisi Eduard Ahlborn GmbH di Hildesheim, Jerman pada 1979. Perlahan tapi pasti usaha bisnisnya semakin berkibar. Ayah enam anak ini juga membuat gebrakan dengan melakukan 70 akuisisi, GEA memiliki 200 anak perusahaan yang tersebar di 60 negara.

Dia berhasil mengembangkan skala bisnis perusahaan warisan keluarga menjadi perusahaan multinasional setelah 25 tahun kepemimpinannya. GEA bertransformasi menjadi perusahaan pemasok sistem industri dan memperkenalkan produk dalam teknologi pengolahan makanan, teknologi energi dan layanan pendingin (AC). Bahkan di tangan Hapel pula, GEA Grup mulai go public di bursa Frankfurt .

BERSELISIH

Meski berjaya, rupanya Happel punya strategis bisnis yang jauh ke depan.  Salah satunya adalah dia berani melepas kepemilikan sahamnya ke tangan MG Technologies sebanyak 50,1% atau senilai  US$ 775 juta. Happel menyisakan  21% saham perusahaan tersebut dan mendapatkan jatah dividen 10% dari GEA Group.

Pada 2006, Happel kembali menjual saham GEA lagi kepada investor institusi senilai US$ 700 juta. Happel sendiri masih memimpin GEA. Tahun 1999, GEA mencetak pendapatan € 2,56 miliar. Tiga belas tahun kemudian, pendapatan GEA Group mendaki menjadi € 5,7 miliar. Setahun berikutnya, pendapatan GEA Group meningkat menjadi € 5,8 miliar. Per 30 Desember 2014, karyawan  GEA Group mencapai 25.000 orang.

Meski sukses, toh ada saja perselisihan. Walau sahamnya sebegian besar tak ada lagi di GEA, Happel tak pernah bisa melepaskan GEA begitu saja. Campur tangannya yang terlalu dalam membuat dua pimpinan GEA Group, Kajo Neukirchen dan Udo Stark, mengundurkan diri. Neukirchen  menolak permintaan Happel agar GEA fokus pada satu dari dua lini bisnisnya, bisnis teknologi industri atau bisnis bahan kimia. Udo Stark yang diharapkan bisa menjembatani perbedaan visi dengan Happel juga ikut mengundurkan diri.

Seperti menutup kenyataan itu, Happel malah bersedia diangkat menjadi dewan pengawas pada tahun 2003. Bersama dengan manajemen baru, Happel berhasil memperbaiki lagi kinerja keuangan GEA  Group dan bisa menyelesaikan restrukturisasi utang, tahun 2005. Happel menyatakan bertanggung jawab memulihkan bisnis GEA. Menurutnya, kontribusinya dalam beberapa tahun terakhir didorong oleh tanggung jawabnya terhadap perusahaan, karyawan dan pemegang saham.

Sesuai dengan komitmennya, setelah memperbaiki neraca keuangan, Happel menjauhkan diri dari GEA Group. Dia memilih menjadi seorang investor aktif di Jerman. Happel kemudian mencari peluang bisnis di sektor teknologi. Ia membeli 25,1% saham Conergy, produsen pembangkit tenaga surya senilai € 50 juta. Suntikan modal dari Happel ini telah menyelamatkan Conergy. Happel juga mendirikan Luserve AG pada  1998, jasa konsultasi keuangan di Swiss.

Setelah Happel masuk, Conergy berhasil memenangkan tender pembangkit surya terbesar pertama di Inggris pada 2011. Dalam kurun waktu tiga tahun, Conergy menjadi salah satu dari lima perusahaan terbesar di sektor rekayasa dan konstruksi pembangkit surya di Inggris. Kesuksesan itu telah membuat Conergy juga menjelajah ke benua lain.

Tag

  1. profil

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 17/05/2019 15:30 WIB

Inalum Incar Kerja Sama Dengan Huayou

PT Inalum menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd., produsen terbesar di dunia untuk material baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik.

Money 17/05/2019 14:38 WIB

BI dan KSEI Teken Perjanjian Penyelesaian Transaksi SBK

SBK (dahulu disebut Commercial Paper) adalah sumber pendanaan jangka pendek non perbankan.

Business 17/05/2019 13:58 WIB

Utang Luar Negeri Triwulan I 2019 Tumbuh 7,9%

ULN Indonesia pada akhir triwulan I 2019 tercatat sebesar 387,6 miliar dolar AS yang terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 190,5 miliar dolar AS, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar…

Business 17/05/2019 12:48 WIB

Penyesuaian TBA Tiket Pesawat Berlaku Mulai Sabtu Besok

Penurunan Tarif Batas Atas (TBA) sebanyak 12 – 16 persen, sudah memperhatikan faktor-faktor substansial seperti keselamatan dan keamanan.

Business 17/05/2019 11:45 WIB

Menteri Jonan Bahas Blok Masela dengan Inpex

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Iganius Jonan kembali bertemu dengan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda di Tokyo, Kamis (16/5).

Business 17/05/2019 11:15 WIB

Inalum Jajaki Peluang Kerja Sama dengan Industri Logam di China

Menteri BUMN Rini M. Soemarno melakukan kunjungan singkat tiga hari ke China untuk bertemu dengan sejumlah CEO industri logam China guna mempercepat hilirisasi industri tambang.

Business 17/05/2019 10:45 WIB

Pasokan BBM Jalur Mudik Lintas Jawa Dipastikan Aman

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Penyalur Hilir Minyak dan Gas Bumi dan PT Pertamina (Persero) melakukan pemantauan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mendukung…

Business 17/05/2019 10:15 WIB

Kinerja APBN Hingga April Masih Aman

Di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang melemah, kebijakan countercyclical yang diambil Pemerintah dalam pengelolaan fiskal mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan capaian…

Business 17/05/2019 09:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Tersendat

Gejolak ekonomi global belakangan ini diprediksi bakal memukul banyak negara. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan lebih baik kemungkinan akan tersendat.

Business 17/05/2019 09:15 WIB

Kemenperin Bidik Investasi Elektronika Rp1,3 Triliun

Kementerian Perindustrian terus membidik investasi di sektor industri elektronika dan telematika.