Rabu, 23 Oktober 2019 | Jakarta, Indonesia

Berhasil Menyulap Bisnis Keluarga

Sri Wulandari

Senin, 15 Februari 2016 - 21:22 WIB

Riset
Riset
A A A

Happel mengubah haluan bisnis perusahaan keluarga dari produsen alat penyedot debu dan persenjataan, menjadi bisnis penyedia teknologi industri bagi  pabrik makanan hingga pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Siapa yang tak kenal Otto Happel? Dia adalah salah satu  orang terkaya versi majalah Forbes di Jerman. Kekayaannya mencapai US$ 2,6 miliar yang didapatnya dari bisnis keluarga sebagai penyedia teknologi industri bagi  pabrik makanan hingga pembangkit listrik tenaga panas bumi melalui perusahaan Gesellschaft für Entstaubungsanlagen (GEA).

GEA sendiri adalah perusahaan yang didirikan oleh ayah Otto Happel pada 1920.  Semula bisnis GEA memproduksi alat penyedot debu (vacuum cleaner). Namun,  antara 1939 hingga 1945, GEA melebur dengan Metallgesellschaft AG atau MG, perusahaan perdagangan logam. Perusahaan gabungan ini memproduksi berbagai produk, mulai dari penyedot debu, bahan kimia hingga persenjataan.  

Ketika Happel mewariskan perusahaan itu dari ayahnya pada 1974 , dia mengubah haluan bisnis perusahaan keluarga dari produsen alat penyedot debu dan persenjataan, menjadi bisnis penyedia teknologi industri bagi  pabrik makanan hingga pembangkit listrik tenaga panas bumi.  Pada saat itu usia  jebolan RWTH Aachen University ini baru 26 tahun.

Dia melihat bisnis keluarganya bisa berkembang apabila bisa menjadi yang memasok kebutuhan mesin industri pangan, pertanian, dan energi. Maka Happel pun memutuskan memproduksi teknologi yang memasok kebutuhan mesin industri pangan, pertanian, dan energi. Dia juga mengembangkan bisnisnya dan mengubah perusahaannya menjadi GEA Group.

Perusahaan mulai  fokus di bisnis teknologi pemrosesan dan komponen industri pangan (food solutions), pertanian (farm technologies), dan radiator maupun refrigerator untuk kebutuhan pabrik (heat exchanges). Selain itu, dia juga membuat peralatan lnyogam (metal equipment), teknologi rekayasa industri (process engineering).

Tahun 1975, Happel memenangkan kontrak dari Saudi Aramco sebagai pemasok teknologi pendingin udara pabrik petrokimia. Nilai kontrak itu sekitar DM 120 juta. Dia juga  mengakuisisi beberapa perusahaan di Afrika Selatan, Brasil dan Prancis. Selain itu, Happel juga menjajal peruntungannya dengan mengembangkan bisnis di Amerika Serikat (AS).

Yang tak kalah mencengangkan, Happel berani  mendiversifikasi lini usaha GEA ke teknologi rekayasa pertanian setelah berhasil mengakuisisi Eduard Ahlborn GmbH di Hildesheim, Jerman pada 1979. Perlahan tapi pasti usaha bisnisnya semakin berkibar. Ayah enam anak ini juga membuat gebrakan dengan melakukan 70 akuisisi, GEA memiliki 200 anak perusahaan yang tersebar di 60 negara.

Dia berhasil mengembangkan skala bisnis perusahaan warisan keluarga menjadi perusahaan multinasional setelah 25 tahun kepemimpinannya. GEA bertransformasi menjadi perusahaan pemasok sistem industri dan memperkenalkan produk dalam teknologi pengolahan makanan, teknologi energi dan layanan pendingin (AC). Bahkan di tangan Hapel pula, GEA Grup mulai go public di bursa Frankfurt .

BERSELISIH

Meski berjaya, rupanya Happel punya strategis bisnis yang jauh ke depan.  Salah satunya adalah dia berani melepas kepemilikan sahamnya ke tangan MG Technologies sebanyak 50,1% atau senilai  US$ 775 juta. Happel menyisakan  21% saham perusahaan tersebut dan mendapatkan jatah dividen 10% dari GEA Group.

Pada 2006, Happel kembali menjual saham GEA lagi kepada investor institusi senilai US$ 700 juta. Happel sendiri masih memimpin GEA. Tahun 1999, GEA mencetak pendapatan € 2,56 miliar. Tiga belas tahun kemudian, pendapatan GEA Group mendaki menjadi € 5,7 miliar. Setahun berikutnya, pendapatan GEA Group meningkat menjadi € 5,8 miliar. Per 30 Desember 2014, karyawan  GEA Group mencapai 25.000 orang.

Meski sukses, toh ada saja perselisihan. Walau sahamnya sebegian besar tak ada lagi di GEA, Happel tak pernah bisa melepaskan GEA begitu saja. Campur tangannya yang terlalu dalam membuat dua pimpinan GEA Group, Kajo Neukirchen dan Udo Stark, mengundurkan diri. Neukirchen  menolak permintaan Happel agar GEA fokus pada satu dari dua lini bisnisnya, bisnis teknologi industri atau bisnis bahan kimia. Udo Stark yang diharapkan bisa menjembatani perbedaan visi dengan Happel juga ikut mengundurkan diri.

Seperti menutup kenyataan itu, Happel malah bersedia diangkat menjadi dewan pengawas pada tahun 2003. Bersama dengan manajemen baru, Happel berhasil memperbaiki lagi kinerja keuangan GEA  Group dan bisa menyelesaikan restrukturisasi utang, tahun 2005. Happel menyatakan bertanggung jawab memulihkan bisnis GEA. Menurutnya, kontribusinya dalam beberapa tahun terakhir didorong oleh tanggung jawabnya terhadap perusahaan, karyawan dan pemegang saham.

Sesuai dengan komitmennya, setelah memperbaiki neraca keuangan, Happel menjauhkan diri dari GEA Group. Dia memilih menjadi seorang investor aktif di Jerman. Happel kemudian mencari peluang bisnis di sektor teknologi. Ia membeli 25,1% saham Conergy, produsen pembangkit tenaga surya senilai € 50 juta. Suntikan modal dari Happel ini telah menyelamatkan Conergy. Happel juga mendirikan Luserve AG pada  1998, jasa konsultasi keuangan di Swiss.

Setelah Happel masuk, Conergy berhasil memenangkan tender pembangkit surya terbesar pertama di Inggris pada 2011. Dalam kurun waktu tiga tahun, Conergy menjadi salah satu dari lima perusahaan terbesar di sektor rekayasa dan konstruksi pembangkit surya di Inggris. Kesuksesan itu telah membuat Conergy juga menjelajah ke benua lain.

Tag

  1. profil

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…