Minggu, 19 Mei 2019 | Jakarta, Indonesia

Otak Proyek Grab

Sri Wulandari

Senin, 04 April 2016 - 21:08 WIB

Riset
Riset
A A A

Beginilah sambutan CEO Grab, Anthony Tan kepada para pengguna Grab. Anthony merasa perlu mendekatkan diri kepada para konsumennya, selain untuk memastikan keamanan, sekaligus memberikan kenyamanan kepada konsumen.

Ya, pasca demo taksi yang berujung anarkis d Jakarta beberapa waktu lalu, moda transportasi yang berbasis online perlu kembali menarik hati penggunanya. 
Grab sendiri ketika kejadian demo tersebut mengimbau kepada pengemudinya, untuk tidak terprovokasi aksi anarkistis sebagian oknum pendemo dari sopir taksi. Grab juga menegaskan, bahwa usahanya  legal. Dalam siaran persnya, Managing Director untuk Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata menyebutkan bahwa para mitra pengemudi Grab terikat oleh kode etik yang ketat, termasuk  menaati semua ketentuan dan peraturan yang berlaku. “Mereka telah diingatkan untuk tidak terpancing provokasi dan merespons dengan tindak kekerasan,” katanya.
Anthony sendiri memaNtau peristiwa tersebut. Anthony mengaku perusahaannya memiliki rekor kerja sama yang baik dengan pemerintah. Dia memastikan telah beroperasi secara legal di semua negara, termasuk di Indonesia. Pria lulusan dari Harvard Business School Amerika Serikat itu tetap menjaga bisnisnya agar tak terpengaruh peristiwa itu. 
Apalagi GrabTaxi telah mengantongi pendanaan sebesar US$ 90 juta (Rp 1 triliun) hanya dalam jangka waktu satu tahun. Inilah  salah satu pendanaan terbesar yang diterima oleh sebuah startup di Asia Tenggara. Pria berusia 34 tahun asal Malaysia ini tak hanya dikenal sebagai CEO Grab, tetapi juga membidani kelahirannya. “Membangun sesuatu dari bawah dengan hanya bermodal PowerPoint dan menyaksikan bagaimana hidup orang terkena pengaruhnya itu jauh lebih memuaskan,” ujarnya. 

KARENA KELUHAN TEMAN

Ide Grab yang dulunya bernama GrabTaxi muncul di kepala Anthony saat dia kuliah. Ketika itu, sebagaimana dikutip dari Bloomberg, temannya mengeluhkan sulitnya memesan taksi sewaktu dia berkunjung ke Malaysia. 
“Dia datang ke rumah saya ketika liburan musim dingin dari sekolah bisnis. Dia menggunakan taksi, ditipu sopir taksi, dan marah-marah. Ia mengeluh kepada saya dan bertanya, ‘mengapa kamu tidak melakukan sesuatu terhadap industri ini?’ Hal tersebut seketika memicu saya untuk bertindak,” kata Anthony sebagaimana dilansir Tech in Asia.
Temannya juga menegaskan, “Kakek buyut Anda adalah seorang sopir taksi, kakekmu memulai industri otomotif Jepang di Malaysia, ayo lakukan sesuatu tentang ini.” Anthony yang merupakan  anak konglomerat di Malaysia, Tan Heng Chew tergugah. Kakeknya  pengusaha taksi yang kemudian menjadi pengusaha otomotif, Tan Chong Motor Holdings Bhd, produsen dan distributor lokal Nissan di Malaysia. “Beliau hanya mampu berbicara bahasa Hokkien. Ia tidak mempunyai teman, tidak ada dukungan keluarga, namun dia mampu menghasilkan perusahaan yang hebat?”
Anak bungsu dari tiga bersaudara yang selepas lulus dari University of Chicago pada 2004 bergabung dengan perusahaan keluarganya ini mulai berpikir keras. Anthony melanjutkan kuliahnya di Harvard Business School untuk Master of Business Administration (MBA) pada 2009 dan lulus 2011. Tercetus di benaknya untuk membuat layanan seperti Uber.
Akhirnya, pada 2012, Anthony memutuskan hengkang dari perusahaan keluarganya dan membangun sendiri bisnisnya. Bersama Tan Hooi Ling, dia membangun  bisnis GrabTaxi yang pertama kali diluncurkan, bernama MyTeksi. Pada awalnya, aplikasi ini dirancang untuk mendukung perusahaan taksi. Aplikasi ini menjadi penghubung penumpang dengan pengemudi taksi dari berbagai perusahaan. Di Indonesia, Express dan Putra merupakan klien GrabTaxi. 
Bila Tan Hooi Ling lebih fokus ke operasional perusahaan, tugas Anthony fokus pada pemasaran dan hubungan investor. Untuk basis bisnisnya, Anthony memilih Singapura. Grab pun telah beroperasi di Singapura, Indonesia, Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Setelah tiga tahun berjalan, GrabTaxi berkembang pesat. Aplikasinya menjadi  layanan kendaraan panggilan terbesar di Asia Tenggara. 
Anthony pun memutuskan untuk mengubah nama aplikasi GrabTaxi menjadi Grab pada awal 2016. Perubahan identitas ini dilatarbelakangi beberapa alasan, yang utama perusahaan tidak hanya menyasar transportasi jenis mobil dengan pemesanan taksi melalui aplikasinya. Namun, sudah mengekspansi bisnisnya ke layanan lain, seperti mobil pribadi  ataupun sepeda motor. 
“Kami juga  membuka jasa pengiriman dan masih banyak lagi. Ide sederhana kami pun tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih baik,” ujar Anthony.
Grab juga telah menggalang pendanaan sebesar US$ 700 juta sejak pertama kali dibangun. Perusahaan ini telah menerima investasi dari SoftBank (Jepang), China Investment Corp, Temasek Holdings dari Singapura, dan Didi Kuaidi dari China yang memberi layanan serupa dengan Grab.
Anthony mengatakan lebih suka untuk melihat pasar menentukan pilihan. Dia punya ambisi menjadikan Grab sebagai salah satu perusahaan terbesar di Asia Tenggara dan telah menetapkan pencapaian jangka panjang hingga nanti berusia 50 tahun. 
Kegembiraan terbesar Anthony adalah ketika dia melihat bahwa para sopir yang menggunakan aplikasi GrabTaxi mampu mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi. Dia memantau pendapatan mereka setiap harinya. “Sopir kami menghasilkan uang 30% hingga 300 % lebih banyak setiap harinya,” ujarnya. 
Dan, kini, di mana-mana, khususnya di Asia Tenggara, Grab menjadi ‘heboh’ karena kehebatan Anthony.

Tag

  1. profil

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 17/05/2019 15:30 WIB

Inalum Incar Kerja Sama Dengan Huayou

PT Inalum menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd., produsen terbesar di dunia untuk material baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik.

Money 17/05/2019 14:38 WIB

BI dan KSEI Teken Perjanjian Penyelesaian Transaksi SBK

SBK (dahulu disebut Commercial Paper) adalah sumber pendanaan jangka pendek non perbankan.

Business 17/05/2019 13:58 WIB

Utang Luar Negeri Triwulan I 2019 Tumbuh 7,9%

ULN Indonesia pada akhir triwulan I 2019 tercatat sebesar 387,6 miliar dolar AS yang terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 190,5 miliar dolar AS, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar…

Business 17/05/2019 12:48 WIB

Penyesuaian TBA Tiket Pesawat Berlaku Mulai Sabtu Besok

Penurunan Tarif Batas Atas (TBA) sebanyak 12 – 16 persen, sudah memperhatikan faktor-faktor substansial seperti keselamatan dan keamanan.

Business 17/05/2019 11:45 WIB

Menteri Jonan Bahas Blok Masela dengan Inpex

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Iganius Jonan kembali bertemu dengan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda di Tokyo, Kamis (16/5).

Business 17/05/2019 11:15 WIB

Inalum Jajaki Peluang Kerja Sama dengan Industri Logam di China

Menteri BUMN Rini M. Soemarno melakukan kunjungan singkat tiga hari ke China untuk bertemu dengan sejumlah CEO industri logam China guna mempercepat hilirisasi industri tambang.

Business 17/05/2019 10:45 WIB

Pasokan BBM Jalur Mudik Lintas Jawa Dipastikan Aman

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Penyalur Hilir Minyak dan Gas Bumi dan PT Pertamina (Persero) melakukan pemantauan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mendukung…

Business 17/05/2019 10:15 WIB

Kinerja APBN Hingga April Masih Aman

Di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang melemah, kebijakan countercyclical yang diambil Pemerintah dalam pengelolaan fiskal mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan capaian…

Business 17/05/2019 09:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Tersendat

Gejolak ekonomi global belakangan ini diprediksi bakal memukul banyak negara. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan lebih baik kemungkinan akan tersendat.

Business 17/05/2019 09:15 WIB

Kemenperin Bidik Investasi Elektronika Rp1,3 Triliun

Kementerian Perindustrian terus membidik investasi di sektor industri elektronika dan telematika.