Selasa, 23 Juli 2019 | Jakarta, Indonesia

Bermain dengan CIA

Sri Wulandari

Senin, 18 April 2016 - 23:08 WIB

Riset
Riset
A A A

Merintis bisnis start up di bidang jasa keamanan, Alex berhasil meraup klien kakap dan menempatkannya sebagai miliader. Dia juga berhasil mengendus gerak-gerik teroris.

Di Sillicon Valley, nama Alexander Karp sejajar dengan nama tokoh-tokoh lain yang mendunia. Namanya juga masuk dalam daftar teratas miliarder lajang versi Forbes dengan jumlah kekayaannya yang mencapai  US$ 1,6 miliar atau setara Rp 21,05 triliun per Maret 2016. Kekayaannya  ini didapat dari perusahaan analisis atau big data Palantir Technologies, yang bergerak di bidang  keamanan data di Amerika. Dia dikenal sebagai pendiri sekaligus CEO Palantir Technologies
Popularitas Alex semakin besar seiring dengan dominasi perusahaan piranti lunak ini di bidang jasa keamanan. Perusahaannya menguasai pangsa pasar di bisnis big data keamanan di Amerika Serikat. Sejumlah klien kakap berhasil dirangkulnya. Tercatat nama besar seperti Badan Intelijen AS atau Central Intelligence Agency (CIA) yang terdaftar sebagai klien pertama. Lalu ada IBM, Booz Allen dan Lockheed Martin. Juga Thomson Reuters, FBI, NSA, dan Angkatan Darat AS.
CIA melalui anak usahanya yang bergerak di bidang investasi In-Q-Tel menanamkan modal sebesar US$ 2 juta. Begitu juga dengan Peter Thiel ikut membenamkan duit sebesar US$ 30 juta lewat perusahaan investasi miliknya,  Founders Fund. 
Keahlian Palantir di bidang big data keamanan menyedot para investor kakap. Akhir tahun lalu, Palantir mendapat suntikan dana segar sebesar US$ 880 juta. Selain In-Q-Tel dan Founders Fund, perusahaan investasi Tiger Global Management juga membenamkan duitnya di Palantir. Saat ini, valuasi Palantir telah mencapai US$ 20 miliar. 
Sejak berdiri hingga akhir 2011, Palantir memperoleh pendapatan sebesar US$ 250 juta. Di sepanjang 2015, sebanyak 60% dari total pendapatan Palantir berasal dari sektor swasta. Pendapatan Palantir menembus US$ 450 juta, naik 50% dari pencapaian tahun sebelumnya yaitu US$ 300 juta. Saat ini, Palantir memiliki sembilan kantor perwakilan dan lima kantor di antaranya  berada di luar Amerika Serikat. 

ANALISIS MELAWAN TERORISME

Lalu siapa sebenarnya Alexander Karp? Usianya baru 48 tahun, lahir pada 2 Oktober 1967 di Philadelphia, Pennsylvania, AS. Dia menyelesaikan pendidikannya di Stanford University dan meraih gelar doktor yurisprudensi. Tak cuma itu saja, dia juga mengantongi gelar doktor dari Frankfurt University dan gelar sarjana dari Haverford College.
Alex  juga dikenal sebagai pribadi yang tertutup, perfeksionis dan inovatif. Kehidupan masa kecil Alex dikabarkan mirip pendiri Apple Inc, Steve Jobs. Sejak kecil dia memiliki hobi mengotak-atik piranti lunak. Di luar waktu senggangnya, pria yang masih melajang ini, menekuni hobi bermain rubiks, meditasi, judo, dan aikido. Saat ini, dia berdomisili di Palo Alto, California.
Palantir tak sendiri didirikan oleh Alex. Tetapi dia membangunnya bersama lima kawan lain, dari kampus Stanford University pada 2004. Kelima temannya ini  sudah berpengalaman dalam membesarkan startup. Antara lain  Peter Thiel, Joe Lonsdale, Stephen Cohen, dan Nathan Gettings. Peter merupakan pendiri Paypal  dan investor awal di Facebook. Otak Alex yang jenius klop dengan mereka.
Begitu mereka mengibarkan Palantir, CIA datang sebagai klien pertama. Mereka saat itu,  diuntungkan oleh situasi kondisi karena setelah peristiwa 11 September, Pemerintah AS gencar memerangi terorisme. Kala itu, CIA membutuhkan piranti lunak yang bisa menganalisa data dengan tujuan menemukan gerak-gerik teroris sekaligus mendeteksi dini potensi wabah penyakit. Belum banyak ketika itu start up yang bermain pada analisa data intelijen. 
Nah, ide dari Palantir pun disambut baik, bahkan kemudian CIA tertarik untuk menjadi salah satu investor mereka. Sejumlah nama penting di kalangan militer masuk jajaran dewan penasihat Palantir. Diantaranya eks Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice dan mantan Direktur CIA George Tenet
Palantir mengolah data kejahatan dari CIA sehingga bisa menciptakan piranti lunak yang memungkinkan CIA untuk mengetahui gerak-gerik sindikat berbahaya yang dikembangkan China dan negara lain. Sukses dengan CIA, Palantir merambah klien korporasi dengan menyodorkan jasa analisisi data keamanan. Palantir mempunyai 18 layanan mulai dari anti fraud, kemanan jaringan, asuransi analisis sampai beberapa solusi teknlogi yang bisa disesuaikan dengan keinginan klien
Namun bisnis utamanya adalah Palantir Gotham yang digunakan untuk analisis melawan terorisme. Produk ini ditujukan untuk beberapa instansi pemerintahan. Selain itu, ada juga produk Palantir Metropolis yang ditujukan untuk perusahaan swasta seperti pengelola dana, perbankan dan beberapa perusahaan jasa finansial lain. 
Sebagai CEO, tentu saja Alex memiliki tantangan berat. Salah satu proyek perdana Palantir adalah mengembangkan sistem analisis data yang menghasilkan deteksi dini terkait kejahatan. Palantir juga memburu jejak teroris dari lalu lintas aktivitas fraud atau malware di kanal internet. 
Bahkan konon, seperti diungkap Forbes, lokasi persembunyian Osama bin Laden dapat diendus oleh Palantir, sehingga dengan mudah pemerintah Amerika Serikat mengeksekusinya. Jenderal David Petraeus, mantan Kepala CIA menyebut Alex manusia berotak cemerlang. 
Tentu saja kehidupan Alex tak seperti dahulu. Setidaknya dari segi keamanan. Alex selalu mendapatkan pengawasan ketat lantaran diincar sindikat berbahaya. Tak cuma itu, sepak terjang Palantir  dianggap memiliki potensi ancaman karena bisa memonitor privasi warga negara. Alex sendiri mengklaim termasuk orang yang menghormati privasi orang lain. Toh, meski demikian bisnis Palantir tetap menggurita.

Tag

  1. profil

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 33 menit yang lalu

Ekspor TPT Tahun Ini Ditargetkan USD15 Miliar

Sepanjang tahun ini, Kementerian Perindustrian menargetkan nilai ekspor dari industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dapat  menembus USD15 Miliar

Business 15 jam yang lalu

Kemenperin Usulkan Empat Strategi untuk TPT

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan empat strategi untuk memacu industri tekstil dan produk tekstil (TPT).

Business 16 jam yang lalu

Stainless Steel Indonesia Kena Bea Anti Dumping di China

China akan mengenakan bea impor baru bagi berbagai produk stainless steel dari Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Indonesia. Hal ini diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China sebagai tanggapan atas…

Business 17 jam yang lalu

Kontrak Kerja Sama WK Corridor Diperpanjang

Kontrak Bagi Hasil WK Corridor akan berlaku untuk 20 tahun, efektif sejak tanggal 20 Desember 2023 dan menggunakan skema Gross Split.

Business 19 jam yang lalu

Pertamina Libatkan Tim Asal AS Tangani Kebocoran Sumur Migas

Pertamina melibatkan berbagai pihak yang kredibel, kompeten dan berpengalaman dalam menangani munculnya gelembung gas di sumur migas lepas Pantai YYA-1 area Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java…

Business 20 jam yang lalu

Pemerintah Akan Lelang 7 Ruas Jalan Tol Senilai Rp151,13 Triliun

Kementerian PUPR akan melanjutkan pembangunan jalan tol dengan mendorong pendanaan dari investasi sektor swasta melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU). Pembangunan jalan tol diperlukan…

Business 23 jam yang lalu

Pegatron Mulai Operasikan Pabriknya di Batam

Pegatron telah menambah investasi sebesar USD40 juta untuk membangun pabrik di Batam.

Business 24 jam yang lalu

Runway 3 Bandara Soetta Siap Beroperasi Pertengahan Agustus

Secara teknis Runway 3 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) siap beroperasi pada pertengahan Agustus 2019.

Business 22/07/2019 08:18 WIB

OJK Gelar Pertemuan Bilateral dengan Bank of Thailand

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengadakan pertemuan bilateral dengan Bank of Thailand (BoT) di Bangkok, Jumat (19/7) dalam rangka penguatan kerja sama peran sektor jasa keuangan di kedua negara.

Business 21/07/2019 11:03 WIB

OJK Terus Pantau Upaya Mitigasi Bank Mandiri

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memonitor upaya mitigasi yang dilakukan oleh Bank Mandiri dalam mengatasi permasalahan teknologi informasi bank tersebut.