Minggu, 19 Mei 2019 | Jakarta, Indonesia

Meski Cacat, Sukses Diraih

Sri Wulandari

Senin, 25 April 2016 - 21:41 WIB

Riset
Riset
A A A

Karena buta kehidupan Srikanth tidaklah mudah. Diejek dan dijauhi teman-temannya. Ditolak masuk universitas di India. Kini dia menjadi CEO yang sukses mengembangkan perusahaannya.

Keterbatasan fisik tak menghalangi seseorang berkembang, bahkan mencapai pucuk pimpinan. Setidaknya itulah yang terjadi pada Srikanth Bolla. Dia lahir 23 tahun lalu dalam kondisi kedua mata buta. Di India yang masih kental memegang tradisi, bayi yang lahir dalam kondisi cacat dianggap membawa musibah. Itu sebabnya beberapa kerabat dan teman-teman orangtuanya menyarankan agar bayi Srikanth dibuang. 

Kehidupan orangtua Srikanth saat itu sangatlah papa. Mereka hanya berpenghasilan  sekitar US$ 300 atau sekitar Rp 4 juta setahun. Kondisi yang sangat berat untuk memelihara bayi cacat. Untungnya, kedua orang tua Srikanth tak terpengaruh oleh desakan itu. Mereka memilih membesarkan buah hatinya dengan penuh kasih sayang. Srikanth pun mendapat pendidikan yang layak.

Meski kaya dengan kasih sayang orangtuanya, kehidupan Srikanth tidaklah mudah. Saat sekolah, dia menghadapi banyak ejekan dari kawan-kawannya. Tak ada yang mau berteman dengan dirinya. Orangtuanyalah yang kerap membesarkan hatinya. “Mereka adalah orang paling kaya yang pernah saya kenal,” ujar Srikanth.

Kemudian orangtuanya mendaftarkan dia ke sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Berada di lingkungan yang sama-sama memiliki keterbatasan, Srikanth berkembang lebih cepat. Otaknya semakin cerdas. Dia menjadi anak yang pintar dan di atas rata-rata. Selain itu, Srikanth ternyata memiliki bakat di bidang olahraga catur serta kriket.

Barulah saat di memasuki masa SMA, Srikanth bersekolah di SMA umum. Dia harus berjuang keras untuk bersaing dengan rekan-rekannya yang normal. Untung ada seorang guru yang bersedia mengubah semua bahan pelajaran dalam bentuk audio. Srikanth bisa mengikuti pelajarannya dan lulus ujian dengan baik. 

Selepas SMA, Srikanth berniat melanjutkan pendidikannya di bidang teknologi informasi di The Indian Institutes of Technology (IIT), sebuah universitas ternama di India pada 2009. Sayangnya, saat mendaftar kuliah dan mengikuti tes masuk dengan hasil memuaskan, dia ditolak. Alasannya, karena Srikanth tunanetra. 

MEMBANGUN PERUSAHAAN
Tak menyerah dengan penolakan itu, dia justru diterima di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat karena catatan akademisnya yang luar biasa. Dia lulus pada 2012. Selepas MIT, dia kembali ke India. Tak perlu menunggu lama, dia kini menjadi CEO Bollant Industries Pvt yang memiliki nilai aset US$ 7,5 juta atau setara Rp 97,93 miliar dengan 450 karyawan.

Yang menarik, di perusahaan yang dirikan pada Desember 2012 itu, dia juga mempekerjakan ratusan penyandang disabilitas sebagai pegawainya. Menurut Srikanth, Bollant Industries Pvt didirikan dengan misi untuk menciptakan lapangan kerja bagi jutaan orang yang cacat, yang sebagian besar tidak berpendidikan dan tidak terampil. “Sudah  lama ada kebutuhan akut, untuk melibatkan mereka tidak hanya dalam pekerjaan yang cocok tetapi juga memberikan mereka pekerjaan biasa yang akan membantu mereka menciptakan sebuah kehidupan yang layak,” kata dia.

Perusahaan Srikanth memproduksi bahan pengemasan produk yang ramah lingkungan dengan daun dan pengolahan kertas bekas. Dalam menambah pendapatan, perusahaan juga menawarkan perekat, tinta cetak/produk printing & produk antara untuk produsen produk sekali pakai. Perusahaannya berbasis di Hyderabad dan memiliki empat unit manufaktur di tiga negara bagian di India selatan – Andhra Pradesh, Telangana, dan Karnataka.

Lalu apa membuat Srikanth sukses? “Kasih sayang,” jawab Srikanth. “Ini bukan tentang memberikan koin kepada pengemis di perempatan jalan. Melainkan menunjukkan seseorang cara untuk hidup dan memberi mereka kesempatan untuk berkembang. Menunjukkan kasih sayang dan membuat orang-orang menjadi berarti,” tuturnya, dikutip India Times.

Diakui Srikanth, dirinya tak sendirian dalam mendirikan usahanya. Tetapi dia dibantu Swarnalatha Takkilipati, gurunya yang selama ini membantu dirinya. Swarnalatha ditempatkan sebagai Managing Director dan bertugas melatih semua karyawan yang berkebutuhan khusus sekaligus menciptakan sebuah komunitas di mana mereka merasa dihargai. Kemampuan Swarnalatha tak perlu diragukan, karena dia sudah diakui sebagai pendidik khusus oleh Dewan Rehabilitasi India pada tahun 2008.

Srikanth pun  menganggap dirinya sebagai orang paling beruntung di dunia, bukan untuk keberhasilannya, tetapi karena memiliki orang tua yang mendukung dan selalu bersamanya. Model bisnis yang dikembangkan Srikanth  mengikuti gaya ayahnya, yaitu selalu mengevaluasi perusahaan dan bagaimana mengukur perusahaan itu jika mengalami kegagalan. “Dalam konsep bisnis ala ayah saya, saya adalah bentuk kegagalan. Ayah saya mengajarkan saya untuk berani berjalan sendirian dan bepergian tanpa memiliki uang,” ceritanya. 

Dari berbagai ajaran ayahnya tentang keberanian itu, Srikanth menerapkan pada perusahaannya yang didirikannya. Dia pun bercita-cita untuk terus mengembangkan perusahaan. Salah satunya adalah membuka pabrik kelima yang seluruhnya akan menggunakan tenaga surya. Dia saat ini sedang berusaha untuk mengumpulkan dana untuk mewujudkan mimpinya tersebut.

Srikanth pun kini diakui sebagai pengusaha muda yang menginspirasi banyak orang, terutama mereka yang berkebutuhan khusus. Apa yang dilakukan Srikanth membuat para taipan di negara padat penduduk itu berani menginvestasikan uangnya di perusahaan milik Srikanth ini, termasuk menarik perhatian Ravi Mantha, salah satu investor ternama India. “Srikanth ingin memberikan dampak sosial dengan bisnisnya,” kata Ravi yang juga memutuskan untuk menjadi mentor di perusahaan Srikanth, seperti dikutip Your Story.

Tag

  1. profil

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 17/05/2019 15:30 WIB

Inalum Incar Kerja Sama Dengan Huayou

PT Inalum menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd., produsen terbesar di dunia untuk material baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik.

Money 17/05/2019 14:38 WIB

BI dan KSEI Teken Perjanjian Penyelesaian Transaksi SBK

SBK (dahulu disebut Commercial Paper) adalah sumber pendanaan jangka pendek non perbankan.

Business 17/05/2019 13:58 WIB

Utang Luar Negeri Triwulan I 2019 Tumbuh 7,9%

ULN Indonesia pada akhir triwulan I 2019 tercatat sebesar 387,6 miliar dolar AS yang terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 190,5 miliar dolar AS, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar…

Business 17/05/2019 12:48 WIB

Penyesuaian TBA Tiket Pesawat Berlaku Mulai Sabtu Besok

Penurunan Tarif Batas Atas (TBA) sebanyak 12 – 16 persen, sudah memperhatikan faktor-faktor substansial seperti keselamatan dan keamanan.

Business 17/05/2019 11:45 WIB

Menteri Jonan Bahas Blok Masela dengan Inpex

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Iganius Jonan kembali bertemu dengan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda di Tokyo, Kamis (16/5).

Business 17/05/2019 11:15 WIB

Inalum Jajaki Peluang Kerja Sama dengan Industri Logam di China

Menteri BUMN Rini M. Soemarno melakukan kunjungan singkat tiga hari ke China untuk bertemu dengan sejumlah CEO industri logam China guna mempercepat hilirisasi industri tambang.

Business 17/05/2019 10:45 WIB

Pasokan BBM Jalur Mudik Lintas Jawa Dipastikan Aman

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Penyalur Hilir Minyak dan Gas Bumi dan PT Pertamina (Persero) melakukan pemantauan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mendukung…

Business 17/05/2019 10:15 WIB

Kinerja APBN Hingga April Masih Aman

Di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang melemah, kebijakan countercyclical yang diambil Pemerintah dalam pengelolaan fiskal mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan capaian…

Business 17/05/2019 09:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Tersendat

Gejolak ekonomi global belakangan ini diprediksi bakal memukul banyak negara. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan lebih baik kemungkinan akan tersendat.

Business 17/05/2019 09:15 WIB

Kemenperin Bidik Investasi Elektronika Rp1,3 Triliun

Kementerian Perindustrian terus membidik investasi di sektor industri elektronika dan telematika.