Minggu, 19 Mei 2019 | Jakarta, Indonesia

Miliarder Obat

Sri Wulandari

Senin, 09 Mei 2016 - 22:49 WIB

Riset
Riset
A A A

Sukses menjadi CEO dengan bayaran terbesar, padahal dahulu karena isu rasis dia ditolak banyak orang.

Namanya mungkin tak sepopuler pengusaha miliader dari segala penjuru dunia. Tapi jangan salah,  namanya masuk dalam jajaran CEO peraup gaji dengan angka sangat fantastis. Dia menadapat bayaran senilai US$ 148 juta atau Rp 1,95 triliun (asumsi kurs Rp 13.195 per dolar Amerika Serikat) per tahun. Majalah Forbes pun menempatkannya dalam peringkat orang terkaya ke-96 dunia dengan nilai kekayaan mencapai US$ 12,5 miliar atau setara dengan Rp168 triliun pada bulan Juli 2015. Seluruh harta itu diperolehnya dengan mendirikan sejumlah perusahaan obat yang kemudian dijual.
Saat ini Patrick tercatat sebagai CEO di NantKwest, sebuah perusahaan bioteknologi yang memerangi kanker.  Perusahaan ini rencananya bakal membuat sebuah sistem yang dapat menghubungkan semua data mengenai pasien di rumah sakit dan mengombinasikan data tersebut dengan informasi genetika pada level yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Melansir laman CNN, Kamis (5/5/2015), perusahaan yang tahun lalu mencetak IPO dengan harga tertinggi menghujani Patrick dengan opsi saham senilai US$ 132,2 juta dan US$ 15 juta dalam bentuk saham pada 2015. Dia menguasai 58,1% saham NantKwest. Sebenarnya, Patrick hanya menerima gaji pokok senilai US$ 1 saja. Namun kepemilikan sahamnya yang begitu tinggi membuatnya meraup pendapatan dalam jumlah sangat tinggi.
Pria yang lahir di Afrika Selatan ini datang ke Amerika Serikat sekitar 30 tahun lalu. Keluarganya adalah imigran dari China, yang mengungsi ke Afrika Selatan akibat pecahnya Perang Dunia II. Di Afrika Selatan, ayah Patrick Soon-Shiong bekerja sebagai dokter desa, juga membuka toko herbal. Tak heran jika, menjadi doker adalah keinginan Patrick pula. “Sejak usia 13 tahun, saya memang ingin jadi dokter,” akunya.
Jangan heran, bila kemudian dia menempuh pendidikan di fakultas kedokteran di University of the Witwatersrand, Johannesburg, Afrika Selatan. Pada usia 23 tahun, dia telah mendapat gelar dokter dan mendapat gelar lulusan terbaik keempat dari 189 mahasiswa yang lulus. Kemudian dia magang di Johannesburg’s General Hospital.
Di awal kariernya sebagai dokter, dia sudah kenyang dengan berbagai kesulitan, penolakan dan perlakuan diskriminatif. Misalnya, gajinya hanya US$ 1.000 per bulan, atau setengah dari gaji teman-temannya yang berkulit putih. Bahkan, pasien pertamanya yang merupakan penduduk Afrika kulit putih menolak saat mau diobatinya.    
Tak putus asa, Patrick kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas California, Los Angeles dan Universitas British Columbia untuk mengambil gelar master. Saat menempuh pendidikan itulah ia mendapatkan berbagai penghargaan dari hasil risetnya. Seperti dari American College of Surgeons, The Royal College of Physicians and Surgeons of Canada dan American Association of Academic Surgery.
Setelah mendapat gelar master, Patrick hijrah ke Amerika Serikat (AS). Ia mengikuti pelatihan bedah di University of California Los Angeles (UCLA) dan menjadi dokter bedah asing bersertifikat dari Fellow of the Royal College of Surgeons Canada dan Fellow of the American College. Dia pun menjadi asisten profesor di Fakultas Kedokteran UCLA pada usia 31 tahun. Dia melakukan operasi transplantasi pankreas pertama di UCLA. Pasiennya adalah perempuan penderita diabetes, yang oleh dokter lain disarankan perawatan insulin. 
Tahun 1991, Patrick meninggalkan UCLA karena tidak sabar dengan lambatnya riset di sana. Ia lalu mendirikan perusahaan VivoRx bersama teman-temannya untuk mencari obat diabetes. Terrence, kakaknya di London, diajak bekerjasama untuk menjadi investor; sementara Patrick rajin melakukan riset. Melalui lembaganya ini, dia berhasil mengembangkan pengobatan kanker payudara. Selain itu, dia juga berhasil menemukan obat diabetes. 

BERBAGAI PENEMUAN

Kecerdasan finansialnya dimulai ketika ia diperintahkan untuk “berinvestasi pada diri sendiri dan orang-orang yang percaya padanya”. Dia menyarankan investor menjauh dari emas. Dia juga memberikan tips yang paling sederhana, untuk memastikan menyimpan uang dengan aman dan tidak sampai kehilangan uang Anda.
Tahun 1993, Food & Drug Administration (FDA) AS  menyetujui percobaan obat yang ditemukan Patrick  kepada manusia. Pasiennya adalah orang yang sudah menderita diabetes selama 30 tahun. Dia menemukan cara melindungi sel produsen insulin, yaitu membungkusnya dengan gel dari rumput laut. Hasil riset berhasil. Pasien bisa berjalan tanpa bantuan dan setelah 9 bulan tak memerlukan suntik insulin selama 30 hari penuh. 
Perusahaan VivoRx Pharmaceuticals kemudian berganti menjadi American Bioscience. Dan, mulailah investor berdatangan. Milan Puskar, pemilik perusahaan obat generik Mylan Laboratories menginvestasikan dana US$ 1.000 untuk 10% saham. Investor lainnya adalah Premiere Inc. Perusahaan ini pada tahun 1996 menginvestasikan US$ 4 juta.
Tak puas sampai di situ, Patrick  mendirikan American Pharmaceutical Partners (APP) yang 65% sahamnya dimiliki American Bioscience. APP bergerak di bidang perdagangan obat generik ke rumah sakit. Premiere lalu mengangkat APP menjadi rekan kerja. Hal ini membuat APP menjadi setara dengan perusahaan multinasional lain, seperti Merck dan Johnson & Johnson. Kenaikan pamor APP menarik minat pelanggan produsen obat seperti Fujisawa USA. Ia kemudian mengandeng APP untuk bekerjasama menjadi perantara penyaluran obat untuk Premiere.  
Berbagai sukses yang dihasilkannya, membuat Patrick memimpin NantKwest. Perusahan ini pun melantai di bursa pada Juli 2015, beberapa bulan sebelum kekacauan saham bioteknologi menjadi fokus dari harga obat-obatan yang dinilai terlalu tinggi. Valuasi perusahaan senilai US$ 2,6 miliar saat itu merupakan IPO terbesar yang pernah dilakukan sebuah perusahaan bioteknologi. Harga sahamnya meningkat hingga US$ 38,48 di hari NantKwest menggelar IPO. Sebelum NantKwest menggelar IPO, perusahaan tersebut meminta CEO NantKwest Patrick untuk membeli hampir 18 juta lembar saham dengan nilai satuan US$ 2 saja.

Tag

  1. bisnis36

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 17/05/2019 15:30 WIB

Inalum Incar Kerja Sama Dengan Huayou

PT Inalum menjajaki kemungkinan kerja sama dengan Zhejiang Huayou Cobalt Company Ltd., produsen terbesar di dunia untuk material baterai yang digunakan untuk kendaraan listrik.

Money 17/05/2019 14:38 WIB

BI dan KSEI Teken Perjanjian Penyelesaian Transaksi SBK

SBK (dahulu disebut Commercial Paper) adalah sumber pendanaan jangka pendek non perbankan.

Business 17/05/2019 13:58 WIB

Utang Luar Negeri Triwulan I 2019 Tumbuh 7,9%

ULN Indonesia pada akhir triwulan I 2019 tercatat sebesar 387,6 miliar dolar AS yang terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar 190,5 miliar dolar AS, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar…

Business 17/05/2019 12:48 WIB

Penyesuaian TBA Tiket Pesawat Berlaku Mulai Sabtu Besok

Penurunan Tarif Batas Atas (TBA) sebanyak 12 – 16 persen, sudah memperhatikan faktor-faktor substansial seperti keselamatan dan keamanan.

Business 17/05/2019 11:45 WIB

Menteri Jonan Bahas Blok Masela dengan Inpex

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Iganius Jonan kembali bertemu dengan CEO Inpex Corporation Takayuki Ueda di Tokyo, Kamis (16/5).

Business 17/05/2019 11:15 WIB

Inalum Jajaki Peluang Kerja Sama dengan Industri Logam di China

Menteri BUMN Rini M. Soemarno melakukan kunjungan singkat tiga hari ke China untuk bertemu dengan sejumlah CEO industri logam China guna mempercepat hilirisasi industri tambang.

Business 17/05/2019 10:45 WIB

Pasokan BBM Jalur Mudik Lintas Jawa Dipastikan Aman

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Badan Penyalur Hilir Minyak dan Gas Bumi dan PT Pertamina (Persero) melakukan pemantauan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk mendukung…

Business 17/05/2019 10:15 WIB

Kinerja APBN Hingga April Masih Aman

Di tengah prospek pertumbuhan ekonomi global yang melemah, kebijakan countercyclical yang diambil Pemerintah dalam pengelolaan fiskal mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan capaian…

Business 17/05/2019 09:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Tersendat

Gejolak ekonomi global belakangan ini diprediksi bakal memukul banyak negara. Pertumbuhan ekonomi yang diharapkan lebih baik kemungkinan akan tersendat.

Business 17/05/2019 09:15 WIB

Kemenperin Bidik Investasi Elektronika Rp1,3 Triliun

Kementerian Perindustrian terus membidik investasi di sektor industri elektronika dan telematika.