Rabu, 23 Oktober 2019 | Jakarta, Indonesia

Miliarder Obat

Sri Wulandari

Senin, 09 Mei 2016 - 22:49 WIB

Riset
Riset
A A A

Sukses menjadi CEO dengan bayaran terbesar, padahal dahulu karena isu rasis dia ditolak banyak orang.

Namanya mungkin tak sepopuler pengusaha miliader dari segala penjuru dunia. Tapi jangan salah,  namanya masuk dalam jajaran CEO peraup gaji dengan angka sangat fantastis. Dia menadapat bayaran senilai US$ 148 juta atau Rp 1,95 triliun (asumsi kurs Rp 13.195 per dolar Amerika Serikat) per tahun. Majalah Forbes pun menempatkannya dalam peringkat orang terkaya ke-96 dunia dengan nilai kekayaan mencapai US$ 12,5 miliar atau setara dengan Rp168 triliun pada bulan Juli 2015. Seluruh harta itu diperolehnya dengan mendirikan sejumlah perusahaan obat yang kemudian dijual.
Saat ini Patrick tercatat sebagai CEO di NantKwest, sebuah perusahaan bioteknologi yang memerangi kanker.  Perusahaan ini rencananya bakal membuat sebuah sistem yang dapat menghubungkan semua data mengenai pasien di rumah sakit dan mengombinasikan data tersebut dengan informasi genetika pada level yang belum pernah terlihat sebelumnya.
Melansir laman CNN, Kamis (5/5/2015), perusahaan yang tahun lalu mencetak IPO dengan harga tertinggi menghujani Patrick dengan opsi saham senilai US$ 132,2 juta dan US$ 15 juta dalam bentuk saham pada 2015. Dia menguasai 58,1% saham NantKwest. Sebenarnya, Patrick hanya menerima gaji pokok senilai US$ 1 saja. Namun kepemilikan sahamnya yang begitu tinggi membuatnya meraup pendapatan dalam jumlah sangat tinggi.
Pria yang lahir di Afrika Selatan ini datang ke Amerika Serikat sekitar 30 tahun lalu. Keluarganya adalah imigran dari China, yang mengungsi ke Afrika Selatan akibat pecahnya Perang Dunia II. Di Afrika Selatan, ayah Patrick Soon-Shiong bekerja sebagai dokter desa, juga membuka toko herbal. Tak heran jika, menjadi doker adalah keinginan Patrick pula. “Sejak usia 13 tahun, saya memang ingin jadi dokter,” akunya.
Jangan heran, bila kemudian dia menempuh pendidikan di fakultas kedokteran di University of the Witwatersrand, Johannesburg, Afrika Selatan. Pada usia 23 tahun, dia telah mendapat gelar dokter dan mendapat gelar lulusan terbaik keempat dari 189 mahasiswa yang lulus. Kemudian dia magang di Johannesburg’s General Hospital.
Di awal kariernya sebagai dokter, dia sudah kenyang dengan berbagai kesulitan, penolakan dan perlakuan diskriminatif. Misalnya, gajinya hanya US$ 1.000 per bulan, atau setengah dari gaji teman-temannya yang berkulit putih. Bahkan, pasien pertamanya yang merupakan penduduk Afrika kulit putih menolak saat mau diobatinya.    
Tak putus asa, Patrick kemudian melanjutkan pendidikannya di Universitas California, Los Angeles dan Universitas British Columbia untuk mengambil gelar master. Saat menempuh pendidikan itulah ia mendapatkan berbagai penghargaan dari hasil risetnya. Seperti dari American College of Surgeons, The Royal College of Physicians and Surgeons of Canada dan American Association of Academic Surgery.
Setelah mendapat gelar master, Patrick hijrah ke Amerika Serikat (AS). Ia mengikuti pelatihan bedah di University of California Los Angeles (UCLA) dan menjadi dokter bedah asing bersertifikat dari Fellow of the Royal College of Surgeons Canada dan Fellow of the American College. Dia pun menjadi asisten profesor di Fakultas Kedokteran UCLA pada usia 31 tahun. Dia melakukan operasi transplantasi pankreas pertama di UCLA. Pasiennya adalah perempuan penderita diabetes, yang oleh dokter lain disarankan perawatan insulin. 
Tahun 1991, Patrick meninggalkan UCLA karena tidak sabar dengan lambatnya riset di sana. Ia lalu mendirikan perusahaan VivoRx bersama teman-temannya untuk mencari obat diabetes. Terrence, kakaknya di London, diajak bekerjasama untuk menjadi investor; sementara Patrick rajin melakukan riset. Melalui lembaganya ini, dia berhasil mengembangkan pengobatan kanker payudara. Selain itu, dia juga berhasil menemukan obat diabetes. 

BERBAGAI PENEMUAN

Kecerdasan finansialnya dimulai ketika ia diperintahkan untuk “berinvestasi pada diri sendiri dan orang-orang yang percaya padanya”. Dia menyarankan investor menjauh dari emas. Dia juga memberikan tips yang paling sederhana, untuk memastikan menyimpan uang dengan aman dan tidak sampai kehilangan uang Anda.
Tahun 1993, Food & Drug Administration (FDA) AS  menyetujui percobaan obat yang ditemukan Patrick  kepada manusia. Pasiennya adalah orang yang sudah menderita diabetes selama 30 tahun. Dia menemukan cara melindungi sel produsen insulin, yaitu membungkusnya dengan gel dari rumput laut. Hasil riset berhasil. Pasien bisa berjalan tanpa bantuan dan setelah 9 bulan tak memerlukan suntik insulin selama 30 hari penuh. 
Perusahaan VivoRx Pharmaceuticals kemudian berganti menjadi American Bioscience. Dan, mulailah investor berdatangan. Milan Puskar, pemilik perusahaan obat generik Mylan Laboratories menginvestasikan dana US$ 1.000 untuk 10% saham. Investor lainnya adalah Premiere Inc. Perusahaan ini pada tahun 1996 menginvestasikan US$ 4 juta.
Tak puas sampai di situ, Patrick  mendirikan American Pharmaceutical Partners (APP) yang 65% sahamnya dimiliki American Bioscience. APP bergerak di bidang perdagangan obat generik ke rumah sakit. Premiere lalu mengangkat APP menjadi rekan kerja. Hal ini membuat APP menjadi setara dengan perusahaan multinasional lain, seperti Merck dan Johnson & Johnson. Kenaikan pamor APP menarik minat pelanggan produsen obat seperti Fujisawa USA. Ia kemudian mengandeng APP untuk bekerjasama menjadi perantara penyaluran obat untuk Premiere.  
Berbagai sukses yang dihasilkannya, membuat Patrick memimpin NantKwest. Perusahan ini pun melantai di bursa pada Juli 2015, beberapa bulan sebelum kekacauan saham bioteknologi menjadi fokus dari harga obat-obatan yang dinilai terlalu tinggi. Valuasi perusahaan senilai US$ 2,6 miliar saat itu merupakan IPO terbesar yang pernah dilakukan sebuah perusahaan bioteknologi. Harga sahamnya meningkat hingga US$ 38,48 di hari NantKwest menggelar IPO. Sebelum NantKwest menggelar IPO, perusahaan tersebut meminta CEO NantKwest Patrick untuk membeli hampir 18 juta lembar saham dengan nilai satuan US$ 2 saja.

Tag

  1. bisnis36

COMMENTS

OTHER NEWS

Business 29/07/2019 09:50 WIB

Ban Vulkanisir Akan Terkena Wajib SNI

Kementerian Perindustrian sedang menyusun aturan mengenai standar proses produksi yang baik atau good manufacturing practice (GMP) untuk produk ban vulkanisir.

Business 26/07/2019 09:33 WIB

Indonesia dan Uni Emirat Arab Sepakat Kembangkan Sektor Industri

Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Uni Emirat Arab (UEA) memperkuat kerja sama dalam upaya pengembangan sektor industri. Langkah sinergi ini diharapkan dapat menguntungkan kedua belah pihak guna mendorong…

Business 25/07/2019 16:46 WIB

Pemerintah Targetkan 293.533 Sambungan Jaringan Gas Untuk Rumah Tangga

Pemerintah targetkan 293.533 sambungan jaringan gas untuk rumah di 54 kabupaten/kota pada 2020. Pemerintah menganggarkan Rp3,2 triliun untuk mempercepat pembangunan infrastruktur jaringan distribusi gas…

Business 25/07/2019 14:29 WIB

Wapres Minta Pemda Jaga Inflasi

Ia menekankan bahwa Pemerintah bersama Bank Indonesia akan konsisten melanjutkan upaya pengendalian inflasi guna menjaga daya beli masyarakat dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Business 25/07/2019 12:01 WIB

Pertamina Jajaki Kerja Sama Bisnis Migas dengan ADNOC

Pertamina dan The Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) pada Rabu (24/7) menandatangani Comprehensive Strategic Framework (CSF) untuk menjajaki peluang kerja sama di seluruh mata rantai bisnis minyak…

Business 25/07/2019 11:15 WIB

Pemerintah Akan Berikan Insentif Untuk Kendaraan Listrik

Pemerintah akan memberikan sejumlah insentif kepada para pelaku industri otomotif. Salah satunya adalah menyediakan insentif fiskal untuk pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

Business 25/07/2019 10:34 WIB

Pemerintah Pantau Wabah Gugur Daun Karet

Pemerintah terus memantau mengenai mewabahnya penyakit gugur daun karet yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp.

Global 25/07/2019 09:41 WIB

Facebook Didenda USD 5 Miliar

Facebook Inc. setuju untuk membayar denda USD5 miliar terkait pelanggaran privasi para penggunanya.

Global 25/07/2019 09:10 WIB

Alibaba Rangkul Pebisnis AS

Di tengah sengketa perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan China, Alibaba.com justru memulai program yang dapat membantu bisnis kecil dan menengah AS (UKM) menjadi besar.

Global 25/07/2019 08:55 WIB

China Arahkan Kebijakan Fiskal yang Proaktif untuk Jaga Pertumbuhan

Untuk mendorong investasi dan memacu konsumsi, Pemerintah China sepanjang tahun ini akan memangkas pajak dan mengurangi biaya-biaya sebesar 2 triliun yuan. Hingga Juni 2019, realisasinya telah mencapai…